drh. Chaidir, MM | Intermezo Popong | BUKAN Setya Novanto, Ketua DPR terpilih yang jadi bintang di media massa sehari pasca sidang paripurna DPR periode 2014-2019, pekan lalu, tapi Popong Otje. Popong mencuri ruang publik setelah berhasil memenangkan sebuah
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Intermezo Popong

Oleh : drh.chaidir, MM

BUKAN Setya Novanto, Ketua DPR terpilih yang jadi bintang di media massa sehari pasca sidang paripurna DPR periode 2014-2019, pekan lalu, tapi Popong Otje. Popong mencuri ruang publik setelah berhasil memenangkan sebuah "pergulatan" seru yang ditonton oleh jutaan pasang mata di seluruh nusantara.

Pergulatan nenek tua itu mengingatkan saya pada Santiago, seorang nelayan tua Cuba dalam novel karya Ernest Hemingway, The Old Man and The Sea, yang terbit di Cuba pada 1952. Santiago dengan risiko mati tenggelam, berhasil mengalahkan ikan marlin raksasa setelah bergulat tiga hari tiga malam sendirian di tengah laut lepas. Ikan marlin yang lebih panjang dari perahunya, kemudian diikatkannya di samping perahu dan dengan sisa-sisa tenaga sang nelayan berlayar ke pantai. Tapi pergulatan belum selesai. Santiago harus bertempur dengan ikan-ikan hiu yang merampok ikan marlin tangkapannya. Beberapa ikan hiu "perampok" itu berhasil dibunuh, tapi puluhan lainnya tidak; maka sesampai di pantai, "perampok-perampok" tersebut hanya menyisakan kerangka dan tulang kepala ikan marlin bagi Santiago, tapi nelayan tua itu selamat.

Nenek tua Popong Otje Djundjunan (76) dalam pergulatan yang tak kalah serunya, berhasil menyelesaikan tugasnya sebagai Pimpinan Sementara DPR pada sidang paripurna pemilihan Pimpinan DPR 2014-2019 yang berlangsung di tengah badai interupsi dan intimidasi dari berbagai ragam politisi yang tersulut emosi. Popong dibombardir dari segala penjuru. Ada anggota dewan yang berteriak-teriak, memukul meja, ada pula yang nekad datang ke meja pimpinan sidang, mencium tangan dan cupika cupiki dalam nuansa sinisme. Ada pula drama singkat ketika Popong kehilangan palu pimpinan sidang, kejadian yang seumur-umur DPR belum pernah terjadi, dan sebagainya.

Bagi puluhan juta penonton televisi di seluruh tanah air, pasti ketar-ketir, tak mengira Popong Otje akan keluar dengan selamat dari sidang "neraka" tersebut. Khawatir Popong tak kuat. Bukan masalah ancaman teror fisik, tetapi usianya yang sudah 76 tahun, diduga akan rawan terhadap faktor stres yang luar biasa. Secara fisiologis dan juga psikologis, tentu orang seusia Popong Otje sangat rawan terhadap membanjirnya produksi hormon adrenalin. Hormon ini akan memacu jantung dan menaikkan tekanan darah, dan ini berbahaya. Ancaman pecah pembuluh darah otak seakan teramat dekat bagi Popong Otje.

Tapi Popong Otje Djundjunan (nama yang terasa aneh di telinga yang biasa-biasa saja), terlihat biasa-biasa saja tanpa beban, dan kelihatan tak punya nyali takut sama sekali. Popong mendadak sontak terkenal dalam tempo hanya satu malam. Agaknya, MURI bolehlah memberikan rekor pada Popong Otje. Rasanya belum ada nama dari kalangan umum atau selebritis atau sosialita yang mendadak tenar seperti Popong dalam sepuluh tahun terakhir ini. Presiden terpilih Jokowi? Tanpa mengurangi rasa hormat, Jokowi itu Presiden "sebentar". Sebentar jadi walikota, sebentar pula jadi gubernur, kemudian dalam tempo sebentar memenangkan pemilihan presiden; tapi jelas, Jokowi tidak melakukannya dalam tempo satu malam. Bagaimana dengan Inul Daradista, Norman Kamaru, Mbah Surip, Si Goyang Caesar? Mereka fenomenal pada masanya, tapi tidak merebutnya dalam satu malam. Popong Otje beda.

Tapi sudahlah, anggap sajalah sidang lembaga terhormat yang dipimpin oleh Popong Otje itu sebuah intermezo. Sidang itu memang menyiratkan banyak pesan, ibarat melihat wajah kita sendiri dicermin. Bila muka terlihat buruk, janganlah cermin hendak dibelah.

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 468 kali
sejak tanggal 06-10-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat