drh. Chaidir, MM | Menabur Angin | TIDAK ada yang baru di bawah matahari. Frasa kuno itu kembali terasa aktual. Bumi, gunung dan samudra masih berada disana, tak pernah terpisah, tak pernah berubah punah, tak peduli apa kata sejarah. Ombak dan pantai misalnya, tak akan pernah dapat dipisah, keduanya senantiasa saling menyapa sepanjan
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Menabur Angin

Oleh : drh.chaidir, MM

TIDAK ada yang baru di bawah matahari. Frasa kuno itu kembali terasa aktual. Bumi, gunung dan samudra masih berada disana, tak pernah terpisah, tak pernah berubah punah, tak peduli apa kata sejarah. Ombak dan pantai misalnya, tak akan pernah dapat dipisah, keduanya senantiasa saling menyapa sepanjang masa, mesra atau murka. Sampai kapan? Sampai tak ada lagi matahari mampu bersinar di belahan bumi manapun. Tak ada gunung bila tak ada lembah, tapi keduanya tak pernah saling berlomba, keduanya justru saling menjaga esistensi satu sama lain. Apapun namanya, Kabil dan Habil tetap bersaudara sepanjang sejarah.

Onak dan duri beda secara morfologis tapi keduanya bersaudara lain ibu. Tak usah disebut, bunga mawar yang harum dan indah, mereka pasti dikawal sang duri yang tajam. Tak semua mumbang jadi kelapa, tak semua kuntum mekar berseri, sebagian diantaranya layu sebelum berkembang. Bunga flamboyan, kata novelis Ashadi Siregar, sekali tempo akan gundul, tapi kemudian akan kembali mekar memerah di musim penghujan. Pohon tak memiliki akal dan kemampuan untuk menebarkan serbuk atau biji-bijian guna berkembang biak, tapi jangan ragu di sana ada angin yang baik budi. Oleh karena itulah pohon di rimba ditakdir tak pernah sama tinggi, kalau sama tinggi dimana pula angin numpang lalu.

Tak ada yang baru di bawah matahari. Begitu jugalah manusia, kita hanya bisa mengamati tanda-tanda dan memberi makna. Kehidupan selalu saja berawal dari kelahiran, tumbuh, kemudian diakhiri dengan kematian. Sebuah dinasti pun tak luput dari siklus alam tersebut. Intelektual Muslim, Ibnu Khaldun menyebut, dinasti itu (dimana pun) selalu muncul dan berdiri, berkembang pesat, kemudian mengalami masa keemasan gilang gemilang, setelah itu redup, dan pada akhirnya mengalami keruntuhan, untuk tinggal hanya menjadi catatan sejarah. Tak ada yang bisa melawan kehendak zaman, dan matahari membiarkannya berlangsung; sesekali memang ada awan mendung yang nakal, tapi hanya sekejap saja, dan tentang awan itu, matahari tak pernah ambil peduli.

Riau dengan segala dinamikanya adalah sekelumit dari fenomena kehidupan tersebut. Selalu ada harapan, dan sayangnya, selalu ada rencana hebat yang berbeda dengan kenyataan. Berkah dan musibah terjadi bertalu-talu, meliuk-liuk ibarat burung serindit terbang sekawan tak bisa dipisahkan bahkan adakalanya sulit dibedakan. Berkah dan musibah sebenarnya, dimana-mana sama saja, hanya dipisahkan oleh rambut dibelah tujuh; akhirnya tergantung bagaimana kita memberi makna. Di Riau ada kekayaan sumber daya alam yang berlimpah, di sana juga ada peradaban tulis baca bahkan sastra yang terbilang. Sastra di bumi Melayu ini, dipahami tumbuh berasal dari kehalusan budi bahasa. Dan ini menjadi salah satu pembeda bagi negeri Lancang Kuning, "Negeri Sohibul Kitab" seperti ditulis wartawan senior Amarzan Lubis, penerima Anugerah Sagang. Buku adalah lumbung ilmu pengetahuan dan simbol kaum terpelajar yang mestinya banyak membaca.

Buku jugalah yang mengingatkan kita, untuk hati-hati membaca tanda-tanda alam, membaca arah angin apalagi menabur angin; angin surga, angin baik, angin perubahan, angin sepoi-sepoi, angin buritan, angin darat, angin laut, angin utara, atau angin selatan, selalu membawa pesan. Angin bisa datang dari segenap penjuru, tak selalu harus ditabur untuk berubah menjadi sebuah badai. Sebab badai itu memang sudah ada di bawah matahari, bahkan adakalanya matahari pun berkirim badai. Maka, iktibar bagi anak cucu, lebih baik baca buku daripada menabur angin.

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 461 kali
sejak tanggal 29-09-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat