drh. Chaidir, MM | Manajemen Ahok | BASUKI T Purnama yang popular dengan panggilan Ahok, Wakil Gubernur DKI Jakarta, wakil gubernur pertama yang berasal dari Suku Bangsa Tionghoa, mundur dari Partai Gerindra yang mengusungnya. Panggung politik sontak heboh.  Berbagai macam ungkapan keluar bertalu-talu. Malin kundang, anak durhaka, tid
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Manajemen Ahok

Oleh : drh.chaidir, MM

BASUKI T Purnama yang popular dengan panggilan Ahok, Wakil Gubernur DKI Jakarta, wakil gubernur pertama yang berasal dari Suku Bangsa Tionghoa, mundur dari Partai Gerindra yang mengusungnya. Panggung politik sontak heboh. Berbagai macam ungkapan keluar bertalu-talu. Malin kundang, anak durhaka, tidak ada etika, tidak ada toto kromo, ingkar janji, lupa kacang akan kulitnya, dan sebagainya sahut bersahut, semua berhamburan liar tak berbandrol.

Namun juga tidak sedikit yang bersimpati, memahami situasi dan mafhum terhadap suasana kontroversi hati Ahok. Dan lebih dari itu, sebenarnya, ada pembelajaran organisasi dan pembelajaran pengembangan kapabilitas strategic yang ingin dibangun Ahok tentang sebuah kepemimpinan perubahan (changing leadership). Ahok agaknya juga sedang membangun budaya manajemen, yang tidak hanya menghasilkan sebuah produk atau kebijakan, tapi membangun sebuah nilai(value). Dalam beberapa kajian paradigm baru manajemen, nilai ini menjadi pondasi dasar suksesnya pembangunan.

Tapi Ahok berada di panggung politik, dimana ada adagium kuno yang masih belum basi. Dalam dunia politik tak ada lawan dan kawan abadi, yang abadi adalah kepentingan. Jamak dalam dunia politik, kontrak politik tinggal kontrak; berulang kali dibuat berulang kali pula dilanggar. Tanyalah langit, berapa banyak kontrak politik yang mengatas namakan rakyat, berakhir nestapa bagi rakyat. Politisi kemana, rakyat kemana. Hukum, yang menjadi payung sebuah kontrak politik, adalah produk dari makhluk yang bernama politik; seharusnya politik tunduk terhadap hukum tersebut. Tetapi pada realitanya, dalam banyak kejadian, politik seringkali ingkar terhadap hukum yang mereka buat, yang lahir dari rahimnya.

Susah-senang, kecewa-bahagia, sedih-gembira adalah saudara kandung di panggung politik, yang kedekatannya hanya dipisah oleh selaput tipis bak rambut dibelah tujuh. Maka, perputarannya berlangsung demikian cepat. From zero to hero atau sebaliknya from hero to zero, terjadi sekedip mata, ketika kita sejenak terlena. Hari ini menang esok pecundang itu biasa. Hari ini seiring sejalan, esok akhirnya berpisah di persimpangan, itu lumrah. Hari ini seiya sekata sehidup semati, esok patang arang, ini juga bukan sesuatu yang luar biasa. Oleh karena itu perpisahan Ahok dengan partainya tak perlu dipersoalkan, hal itu bisa.

Yang patut menjadi catatan, suka atau tidak suka, kepemimpinan Ahok telah mewarnai panggung politik dan birokrasi kita. Turbulensi yang terjadi dalam masyarakat kita sekarang terlalu buruk untuk bisa diatasi dengan kepemimpinan yang hanya mengandalkan karisma, pencitraan atau slogan-slogan kerakyatan. Kita memerlukan mindset baru, kompetensi kepemimpinan baru, perilaku dan cara bertindak baru. Dan Ahok telah menghadirkan sesuatu yang beda, bukan business as usual yang sudah expired, tapi sebuah extra ordinary.

Dengan Jokowi sebagai Presiden RI dan Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta, kita bisa mengharapkan berbagai persoalan yang dihadapi Jakarta, seperti kemacetan, banjir, transportasi umum, daerah kumuh, ketertiban, yang seringkali mencoreng wajah ibukota dan memberi citra buruk bagi bangsa kita, dapat segera teratasi. Rakyat sesungguhnya tak peduli seorang pemimpin itu dikatator atau tidak, Tionghoa atau bukan, kader partai pisang atau singkong, yang penting bisa membuat rakyat makmur sejahtera lahir batin.

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 522 kali
sejak tanggal 15-09-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat