drh. Chaidir, MM | Aktivis dan Selebritis di Panggung Pemilu | Pemilu 2009 memberi banyak opsi bagi pemilih untuk memilih seorang Caleg. Mau yang politisi? Ada, banyak. Mau aktivis mahasiswa? Ada. Mau selebritis alias artis? Ada. Tinggal contreng salah satu. Aktivis dan selebritis turun gunung. Ini sebuah fenomena, dan menarik.

Aktivis dan selebritis, serupa
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Aktivis dan Selebritis di Panggung Pemilu

Oleh : drh.chaidir, MM

Pemilu 2009 memberi banyak opsi bagi pemilih untuk memilih seorang Caleg. Mau yang politisi? Ada, banyak. Mau aktivis mahasiswa? Ada. Mau selebritis alias artis? Ada. Tinggal contreng salah satu. Aktivis dan selebritis turun gunung. Ini sebuah fenomena, dan menarik.

Aktivis dan selebritis, serupa tapi tak sama. Serupa, karena keduanya public figure, mereka orang-orang terkenal dan entitas ini concern terhadap orang lain, terhadap masyarakat. Aktivis, menaruh perhatian besar terhadap hak-hak rakyat, terhadap mereka-mereka yang tertindas atau diperlakukan tidak adil atau terhadap mereka-mereka yang seharusnya tidak miskin tapi dimiskinkan oleh sistem. Selebritis? Kelompok ini juga dekat dengan masyarakat, mereka menghibur masyarakat membuat masyarakat senang, tertawa dan gembira.

Ketidaksamaannya? Aktivis semerbak bau keringat, selebritis semerbak bau harum parfum. He..he..he.. marah? Mana ada selebritis yang sungguh-sungguh mau demo membela kepentingan rakyat turun ke jalan, berpanas-panas, berkeringat-keringat menguyupi rambut di sekujur tubuh. Belum tentu lagi suara mereka didengarkan.

Tapi ada beda filosofis yang rada serius. Suka atau tidak suka, aktivis sarat dengan aroma idealisme, selebritis sarat dengan aroma hedonisme. Idealisme dan hedonisme menurut pandangan para filsuf adalah sesuatu yang berbeda mahzabnya. Hedonisme adalah konsep moral yang menyamakan kebaikan dengan kesenangan. Tujuan hidup adalah menciptakan kesenangan, kenikmatan, ketenangan tubuh dan pikiran.

Berbeda dengan idealisme, aliran filsafat ini menganggap pikiranlah atau cita-citalah sebagai satu-satunya hal yang benar, berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yang dianggap sempurna atau ideal. Kalangan idealis hanya akan melakukan sesuatu yang ideal dan diterima oleh moralitas mereka.
Beberapa hari lalu, ada diskusi panel menarik di FH-UIR Pekanbaru dengan tema: "Ketika Para Aktivis Mencoba Mengepung Parlemen Ayo Singkirkan Politisi Busuk". Tiga mantan aktivis mahasiswa tampil sebagai pembicara. Rinaldi caleg DPR RI, Khery Sudeska (Egi) caleg DPRD Provinsi Riau dan Hamdani caleg DPRD Kota Pekanbaru. Ketiganya beda almamater dan beda parpol.

Apa yang diharapkan oleh rakyat dan mahasiswa, teman-temannya, dari seorang mantan aktivis mahasiswa duduk di lembaga legislatif? Tak lain adalah idealisme. Bermodal idealisme inilah para aktivis ini kelak diharapkan mampu mewarnai kebijakan publik yang dihasilkan pemerintah dan parlemen. Namun bukan tanpa skeptisisme, sebab yang akan mereka masuki adalah sebuah belantara hutan rimba yang sarat dengan semangat pragmatisme. Belantara itu akan menjadi habitat bagi aktivis oportunis tetapi neraka bagi aktivis idealis. Celah sempit optimisme masih ada, bahwa para idealis tumbuh subur dalam keadaan ketika sesuatu yang ideal belum tercapai. Perubahan akan terus berlangsung. Filsuf Jerman, Hegel (1770-1831) agaknya benar. Ini sebuah proses dialektika menuju sebuah masyarakat dimana terdapat keseimbangan antara harmoni dan keinginan. Caleg aktivis atau selebritis sama berpeluang memenuhi harapan rakyat, yang pertama bermodal idealisme dan semangat tempur, yang kedua bermodal kemapanan. BBM-nya sama: moralitas.

kolom - Riau Pos 23 Maret 2009
Tulisan ini sudah di baca 1668 kali
sejak tanggal 23-03-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat