drh. Chaidir, MM | Caleg Jadi | SELURUH caleg jadi anggota DPRD provinsi dan kabupaten/kota, hasil pemilu legislatif 9 April 2014 lalu, telah mengucapkan sumpah dan dilantik secara resmi. Anggota DPR dan DPD, menyusul tanggal 1 Oktober 2014 beberapa hari lagi. Pelantikan tersebut menandai munculnya wajah-wajah baru di panggung pol
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Caleg Jadi

Oleh : drh.chaidir, MM

SELURUH caleg jadi anggota DPRD provinsi dan kabupaten/kota, hasil pemilu legislatif 9 April 2014 lalu, telah mengucapkan sumpah dan dilantik secara resmi. Anggota DPR dan DPD, menyusul tanggal 1 Oktober 2014 beberapa hari lagi. Pelantikan tersebut menandai munculnya wajah-wajah baru di panggung politik kita untuk lima tahun ke depan.

Dari berbagai pemberitaan, pemilu legislatif 2014 lalu, sarat dengan dinamika politik, terutama pada tataran politik lokal. Persaingan caleg satu partai dengan caleg partai lain adalah satu bagian, persaingan internal antar caleg separtai, adalah bagian lain yang tak kalah sengitnya. Sebenarnya pemilu dengan sistem stelsel daftar terbuka pada pemilu legislatif 2014 -- yang memungkinkan kompetisi berlangsung terbuka -- sudah dilaksanakan untuk pertama kalinya pada pemilu legislatif 2009 silam. Namun ketika itu, budaya pemilu dengan sistem stelsel daftar tertutup (pemenang ditentukan berdasarkan nomor urut) seperti pemilu 2004 dan pemilu-pemilu sebelumnya, masih terasa mewarnai, dan basa-basi politik masih terasa kuat. Genggaman partai masih sangat kuat, sebab partai memberi donasi besar untuk biaya kampanye. Pileg 2014 terasa beda, persaingan terbuka, apalagi caleg harus membiayai sendiri kampanyenya. Sehingga, caleg satu partai pun tak segan-segan saling menjatuhkan dan tak risih berpekara melawan temannya satu partai.

Perjuangan untuk menjadi caleg dan kemudian menjadi caleg jadi, adalah babak hidup mati bagi sang caleg. Situasinya ibarat babak knock-out dalam pertandingan sepakbola. Babak perjuangan untuk jadi caleg adalah babak yang menentukan apakah seorang kader boleh ikut bertanding dalam babak berikutnya atau tidak. Tak ada caleg jadi tanpa jadi caleg.

Frasa "jadi caleg dan caleg jadi" biasanya menjadi isu aktual setiap kali pemilu legislatif. Tahap jadi caleg dan kemudian beberapa diantaranya dalam babak berikutnya, menjadi caleg jadi, tak serta merta menyelesaikan perjuangan. Caleg jadi yang dilantik, baru memulai langkah pertama memasuki medan perjuangan yang sesungguhnya, memperjuangkan aspirasi masyarakat yang diwakilinya, sampai berhasil. Oleh karena itu kapasitas, kualitas dan integritas sang caleg jadi akan diuji setiap saat untuk memperjuankan keberhasilan aspirasi konstituennya tersebut.

Dengan demikian sangat jelas. Caleg jadi saja tak cukup untuk sungguh-sungguh menjadi caleg yang "menjadi". Padi di ladang disebut menjadi bila tumbuh dengan subur dan berbuah bernas. Kebun sawit disebut menjadi bila menghasilkan tandan buah segar yang berkualitas secara berkesinambungan. Kebun karet disebut menjadi bila getahnya banyak. Orang disebut menjadi bila memiliki usaha atau pekerjaan atau memiliki karir yang bagus sehingga secara ekonomi hidup sejahtera. Oleh karena itulah dalam ungkapan Jawa dikenal istilah "nguwongke wong" (mengorangkan orang). Artinya belum setiap orang menjadi orang. Orang harus kerja keras untuk menjadi orang yang menjadi. Orang yang menjadi adalah orang yang bermanfaat bagi dirinya, keluarganya dan orang lain.

Masyarakat memiliki ekspektasi tinggi terhadap lembaga legislatif yang diisi oleh caleg jadi kita yang baru dilantik. Maka jadilah caleg jadi yang menjadi, bukan caleg jadi yang jadi-jadian sejadi-jadinya. Jadi!

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 494 kali
sejak tanggal 08-09-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat