drh. Chaidir, MM | Menang Tanpa Ngasorake | DALAM falsafah Jawa, dikenal ungkapan,
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Menang Tanpa Ngasorake

Oleh : drh.chaidir, MM

DALAM falsafah Jawa, dikenal ungkapan, "sugih tanpa bandha, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake", maksudnya, "kaya tanpa harta, menyerbu tanpa mengerahkan pasukan, menang tanpa mempermalukan". Makna ungkapan tersebut lebih jauh kita pahami, kaya dengan budi jauh lebih baik daripada kaya dengan harta. Harta boleh habis dalam sekejap dengan berbagai sebab, tapi tidak demikian dengan harta berupa budi. Oleh karena itu ada ungkapan lain yang menyebut, "hutang emas boleh dibayar, hutang budi dibawa mati." Kekayaan budi orang berbudi tak ternilai harganya.

Menyerbu dengan pasukan untuk menundukkan lawan, adalah cara yang paling mudah, tapi membawa korban di kedua belah pihak. Karena tidak ada jaminan pihak lawan tidak membalas dengan tidak menggunakan pasukan. Pasukan lawan pasukan hasilnya korban, siapapun yang menang. Tapi menundukkan lawan dengan diplomasi atau persuasi, atau juga asimilasi, tak akan membawa korban jiwa atau kerusakan harta benda. Dan kemenangan yang diperoleh dengan mempermalukan, misalnya dengan menyorak-nyoraki pihak lawan, pasti menimbulkan dendam.

Namun, peribahasa Jawa tersebut mudah diucapkan tapi bukan main sulit dalam pelaksanaannya. Sebab untuk melakukan tiga hal tersebut (kaya tapa harta, berperang tanpa pasukan dan sang pemenang tidak mempermalukan sang pecundang), memerlukan sikap toleransi yang sangat tinggi antara kedua pihak yang bertikai. Atau dengan kata lain, kedua belah pihak perlu berlapang dada selapang-lapangnya. Tapi belapang dada juga gampang-gampang sulit dalam kenyataannya. Gampang karena sikap berlapang dada sesungguhnya tak memerlukan status sosial khusus untuk melaksanakannya. Sikap berlapang dada bisa dilakukan oleh siapa saja; seorang profesor atau pesuruh kantor, seorang jenderal atau kopral, saudagar atau buruh kasar, semua bisa berlapang dada. Sebab, berlapang dada itu bermakna rendah hati, kita mengambil posisi, orang lain sama baiknya dan sama hebatnya dengan kita. Rendah hati lawannya tentu saja tinggi hati.

Toleransi adalah istilah dalam konteks sosial, budaya dan agama yang berarti sikap atau kehendak yang tumbuh dari dalam hati dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda. Contohnya, misalnya toleransi beragama; penganut mayoritas menghormati keberadaan agama minoritas atau kepercayaan lainnya yang berbeda.

Sebagai prinsip metodologis, toleransi adalah penerimaan terhadap sesuatu yang tampak, sampai kepalsuannya terungkap. Kelompok mayoritas misalnya, memberi toleransi tehadap kelompok minoritas, tapi toleransi tersebut menjadi gugur manakala terbukti sang minoritas menyembunyikan sebuah ketidakjujuran. Atau sebaliknya sang minoritas berlapang dada untuk menerima kekalahan sampai kemudian kepalsuan pihak mayoritas terungkap.
Sikap toleransi melindungi kita dari menutup diri terhadap perubahan cepat yang terjadi di sekitar kita, dan melindungi kita juga dari sikap dogmatis yang berlebihan.

Banalitas kehidupan masyarakat kita dewasa ini, menyebabkan kita tak lagi mampu menyempatkan diri mendalami permasalahan aktual yang berkunjung silih berganti. Hati kita sudah terlalu semak disuguhi menu hipokritisasi saban hari. Akibatnya kebohongan demi kebohongan terkemas rapi, tak jelas lagi yang mana ujung yang mana pangkal. Salah-salah kita masuk dalam kuadran "dia tidak tahu kalau dia tidak tahu" seperti teori Johari Window itu. Alamaaak...


kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 557 kali
sejak tanggal 25-08-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat