drh. Chaidir, MM | Emulsi Proklamasi | MINYAK dan air adalah dua benda cair yang tak pernah menyatu. Bila kedua benda tersebut dicampur dan kemudian dikocok, sejenak terlihat menyatu, tapi dalam tempo beberapa detik saja, air akan kembali menyatu dengan air dan minyak kembali menyatu dengan minyak.

Kenapa? Karena sifat kimia dan berat
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Emulsi Proklamasi

Oleh : drh.chaidir, MM

MINYAK dan air adalah dua benda cair yang tak pernah menyatu. Bila kedua benda tersebut dicampur dan kemudian dikocok, sejenak terlihat menyatu, tapi dalam tempo beberapa detik saja, air akan kembali menyatu dengan air dan minyak kembali menyatu dengan minyak.

Kenapa? Karena sifat kimia dan berat jenis benda cair tersebut berbeda. Dalam istilah kimianya, air merupakan senyawa kimia yang bersifat polar. Sedangkan minyak merupakan senyawa kimia yang bersifat nonpolar. Senyawa polar dan nonpolar apabila disatukan tidak dapat bercampur karena memiliki sifat-sifat khas yang berbeda. Air juga memiliki berat jenis yang lebih berat daripada minyak, maka bila dicampur, air selalu berada di bawah dan minyak akan berada di atas.

Bisakah air dan minyak didamaikan? Bisa. Dengan rekayasa kimiawi, kedua benda tersebut akan menyatu. Prosesnya biasa saja, tidak perlu teknologi canggih. Tidak usah seorang profesor kimia, kita orang awam pun bisa mencobanya di rumah masing-masing. Ambil saja setengah gelas air, setengah gelas minyak goreng, kemudian campurkan zat cair ini, selanjutnya tambahkan deterjen cuci ke dalam adonan tersebut, kemudian kocok. Sebentar saja, suatu adonan baru akan terbentuk, minyak dan air akan menyatu berkat bantuan deterjen. Adonan baru inilah yang dikenal sebagai emulsi.

Air yang tak mungkin bercampur dengan minyak, tenyata dengan bantuan bahan lain bisa bergabung dalam satu ikatan permanen. Tak ada yang tak mungkin, walau percampuran keduanya, pada awalnya terlihat mustahil. Deterjen berperan sebagai makcomblang, menarik air maupun minyak untuk bersatu membentuk emulsi. Dalam posisi itu, deterjen disebut sebagai emulsifier (pembentuk emulsi).

Proklamasi kemerdekaan RI itu ibarat sebuah emulsi. Beraneka ragam unsur diaduk menjadi suatu adonan emulsi dengan bantuan emulsifier (pembentuk emulsi). Bermacam-macam suku, agama, ras, dan golongan yang ada di nusantara ini, yang jumlahnya ratusan -- masing-masing memiliki karakter khas -- bersatu, dan menyatukan diri dalam suatu wadah.

Kehendak menyatukan diri tersebut tumbuh dari sebuah kesadaran sejarah, kebhinnekaan ternyata mudah diadu domba oleh penjajah dalam politik devide et impera (politik pecah belah, politik belah bambu dan sebagainya). Maka muncullah kemudian slogan Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda tapi tetap satu). Tak ada peradaban yang dapat dibangun tanpa persatuan dan kesatuan. Jika berbagai komponen unsur peradaban tersebut tak bersatu, berjalin, dan tak berada dalam satu anyaman yang selaras satu dengan lainnya, bukan peradaban yang akan terbentuk, tetapi justru sebuah bangunan tanpa bentuk.

Tak bisa dipungkiri, minyak dan air yang bersatu dalam adonan emulsi akan menuntut keseimbangan baru. Ada tantangan baru dengan sudut pandang baru, sebab unsur-unsur yang bersatu dalam emulsi, tak lagi bisa dipandang dengan pandangan yang sama sebelum emulsi terbentuk. Tesis berhadapan dengan anti tesis, akan menghasilkan sintesis, yang kemudian akan menjadi tesis baru dan tentu saja anti tesis baru. Proklamasi itu emulsi yang menghasilkan emulsi-emulsi baru. Kita harus menyesuaikan diri dengan realitas. Emulsi seperti apapun yang terbentuk pasca proklamasi, kita tetap punya emulsifier Pancasila sebagai pengikat.


kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 522 kali
sejak tanggal 18-08-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat