drh. Chaidir, MM | Manusia Bukan Gunung | ADAKAH yang berani menyanggah bahwa manusia bukan gunung? Manusia juga bukan bumi dan bukan langit. Manusia makhluk yang diciptakan memiliki akal dan moral, sementara langit, bumi dan gunung adalah benda yang sama sekali tak memiliki akal dan moral.

Dalam perspektif Ilahiah,  amanat untuk menjala
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Manusia Bukan Gunung

Oleh : drh.chaidir, MM

ADAKAH yang berani menyanggah bahwa manusia bukan gunung? Manusia juga bukan bumi dan bukan langit. Manusia makhluk yang diciptakan memiliki akal dan moral, sementara langit, bumi dan gunung adalah benda yang sama sekali tak memiliki akal dan moral.

Dalam perspektif Ilahiah, amanat untuk menjalankan perintah agama hanya diturun kepada manusia, sebab manusialah yang memiliki moral dan akal budi untuk melaksanakannya; melaksanakan segala ajaran dan hukum alam yang diciptakan, dan berbuat kebajikan. Moral bermakna, dalam kemerdekaannya, manusia secara bebas, sadar dan sukarela mematuhi perintah agama, bukan karena dipaksa. Kalau dipaksa dan tepaksa, unsur moralnya hilang. Sebab, manusia sesungguhnya memiliki kemerdekaan melaksanakan atau tidak melaksanakan suatu ajaran agama. Sementara langit, bumi dan gunung tak memiliki kemerdekaan dan tak sanggup melaksanakan perintah Tuhan, karena mereka tak memiliki akal dan moral, dan juga kebebasan bertindak.

Benarkah kita telah memiliki ilmu pengetahuan untuk mampu berpikir rasional dan memiliki moral untuk bertindak sebagai bukti eksistensi yang berbeda dengan benda langit, bumi, gunung, dan ciptaan lainnya? Jujur, kadang kita tak habis pikir, manusia yang dianugerahi kemampuan berpikir kritis, enggan menggunakan rasionya lebih sering, lebih luas dan lebih dalam.

Kenapa pujangga Melayu Raja Ali Haji (18081873) menyebut, dengan "kalam" pedang yang sudah terhunus kembali tersarung? Karena "kalam" adalah kata-kata. Dan itu bermakna kita harus membaca. Dengan ilmu pengetahuan kita bisa memberi makna kepada kata-kata, sehingga kata-kata mengalami metamorfosa menjadi kekuatan yang dahsyat. Kaisar Romawi, Julius Caesar (100 SM-44 SM) mengakui secara jujur, perluasan wilayah pemikiran melalui ilmu pengetahuan diakui lebih terhormat daripada perluasan wilayah kekaisaran Romawi yang dilakukan oleh para jenderalnya.

Ilmu pengetahuan tentang agama menjadi sebuah keniscayaan untuk menumbuhkan kesadaran kita berpikir kritis, karena wilayahnya adalah pemikiran rasional. Maka, dalam sudut pandang ini sajalah heboh tentang paham gerakan NIIS (Negara Islam di Irak dan Suriah) atau Islamic State of Irak and Syiria (ISIS) itu kita posisikan. Heboh itu karena kita memiliki kebebasan dan kesadaran untuk berpikir kritis. Tapi bila kebebasan itu kebablasan, wajarlah bila MUI dan Ormas Islam bersikap tegas.

Pada dasarnya risalah Islam itu hadir sebagai sebuah jalan lapang yang memberikan kenyamanan bagi seluruh umat. Oleh karena itulah agama Islam disebut rahmat bagi umat. Rahmat bermakna sesuatu yang menyenangkan, membahagiakan, menyejahterakan lahiriah dan batiniah. Memperoleh rahmat, perasaan nyaman tingkat tinggi. Ulama yang berpandangan luas menyarankan pencarian pengetahuan tentang agama (Islam) seyogianya tidak menempuh lintasan sempit yang cenderung membuat orang mudah terpeleset. Lintasan sempit sering menghadirkan individualisme dan eksklusivisme, dua semangat yang justru ditentang oleh Islam itu sendiri.

Namun, dalam perspektif Islam, pencarian ilmu pengetahuan itu sendiri disamakan dengan ibadah. Islam sangat memuji orang yang tekun mencari dan mendalami ilmu pengetahuan termasuk tentang agama, bahkan menempatkan nilai tintanya di atas nilai darah syuhada. Subhanallah.


kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 476 kali
sejak tanggal 11-08-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat