drh. Chaidir, MM | Bahasa Menunjukkan Bangsa | PEPATAH Cina mengatakan,
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Bahasa Menunjukkan Bangsa

Oleh : drh.chaidir, MM

PEPATAH Cina mengatakan, "Orang yang menembak banyak, belum tentu seorang penembak yang baik. Orang yang berbicara banyak tidak selalu berarti orang yang pandai bicara." Filsuf Yunani kuno, Quintilianus pula mengatakan, "Tidak ada anugerah yang lebih indah, yang diberikan oleh para dewa, daripada keluhuran berbicara."

Dalam satu pekan terakhir ini, kasus Bank Century (BC) tidak hanya menyerempet pilar social trust - kepercayaan sosial, seperti apa yang disebut oleh Francis Fukuyama, tetapi mempertontonkan sisi lain yang merisaukan sekaligus menakutkan. Anggota Pansus Hak Angket DPR-RI secara vulgar telah menggunakan kata-kata yang jauh dari kesan kehalusan budi pekerti dan kesantunan sebuah bangsa yang berbudaya tinggi. Kesantunan tutur bahasa seakan merantau tak pulang-pulang.

Begitukah cara kita memberi makna kepada substansi keterbukaan? Bebas menggunakan kata-kata untuk memojokkan seseorang di depan publik, bebas memaki-maki seseorang di depan sanak keluarganya? Pepatah orang tua-tua kita, "biar pecah di perut asal jangan pecah di mulut", memberikan tunjuk ajar kepada kita, ada ucapan-ucapan yang tak patut diucapkan, betapa pun buruknya keadaan. Ada kata-kata yang tidak boleh ditumpahkan kepada seseorang, seberapa parah pun kesalahan orang tersebut. Kita agaknya sedang menghadapi masalah dengan kemampuan kita dalam menggunakan kata-kata.

Demang Lebar Daun, mertua raja dalam sejarah Melayu, misalnya, mengingatkan menantunya, rakyat bersumpah tetap setia kepada raja, bahkan rela dihukum bila salah. Hukuman mati pun tak mengapa asal saja kesalahannya memang patut diganjar hukuman mati. Hukumlah, kata Demang Lebar Daun, tetapi sekali-kali jangan mempermalukan orang.

Ucapan-ucapan yang disampaikan oleh para Anggota Dewan kita yang terhormat, baik berupa pertanyaan, maupun berupa komentar, tanggapan terhadap sesama Anggota Dewan, tidak lagi menjunjung tinggi etika keterhormatan. Semua berada dalam nafsu saling menelanjangi, saling mempermalukan, saling memojokkan. Tepuk tangan pun membahana bila ada yang terpojok, yang tidak berkutik, karena malu. Naluri apakah gerangan yang membisiki nurani?

Bahasa menunjukkan bangsa tidak hanya berarti secara harfiah, orang yang berbahasa Inggris adalah orang Inggris, misalnya. Bahasa juga menunjukkan tingkat pendidikan seseorang, dan juga karakter seseorang. Cara berbicara menunjukkan apakah seseorang itu terpelajar atau kurang ajar. Dale Carnagie menyebut, We are judge each day by our speech. Kita dinilai setiap hari dari cara kita berbicara.

Apa yang terjadi di Senayan sebaiknya tidak ditiru oleh daerah. Biarlah kehalusan tutur bahasa itu tetap kita pertahankan. Perbedaan pendapat dan kritik tidak selalu harus disampaikan dengan kasar dan marah-marah. "Berilah mereka nasihat dan berbicaralah kepada mereka dengan pembicaraan yang menyentuh jiwa mereka." (Al Qur’an 4:63). Nabi Muhammad SAW kemudian memperteguh dengan sabdanya: "Sesungguhnya dalam kemampuan berbicara yang baik itu ada sihirnya."

kolom - Riau Pos 17 Januari 2010
Tulisan ini sudah di baca 1451 kali
sejak tanggal 17-01-2010

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat