drh. Chaidir, MM | Membangkit Batang Terendam | PENULIS Muslim Arab abad ke-9, Al Jahizh, menyebut, makna itu tersembunyi dalam kesadaran. Di sana, makna berada dalam keadaan terendam tak terkenali tak dikenali. Bila diberi ungkapan yang tepat, makna menjadi hidup. Makna akan bangkit dan mengerahkan kekuatannya yang menggetarkan. Makna akan membu
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membangkit Batang Terendam

Oleh : drh.chaidir, MM

PENULIS Muslim Arab abad ke-9, Al Jahizh, menyebut, makna itu tersembunyi dalam kesadaran. Di sana, makna berada dalam keadaan terendam tak terkenali tak dikenali. Bila diberi ungkapan yang tepat, makna menjadi hidup. Makna akan bangkit dan mengerahkan kekuatannya yang menggetarkan. Makna akan membuat yang jauh menjadi dekat, yang tiada menjadi ada, yang rumit menjadi mudah, yang asing menjadi akrab.

Agaknya demikian jugalah Hari Raya Idul Fitri bagi kita. Tergantung bagaimana cara kita memaknainya. Banyak penulis menyebut, Hari Raya Idul Fitri merupakan hari bersuka cita: bukan saja karena puasa telah berakhir, melainkan mereka yang telah menyelesaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan yakin bahwa dosa mereka diampuni dan, karena itu, merasa pasti bakal masuk surga.

Memaknai Hari Raya dengan pemahaman demikian tentu saja tidak salah dan bukan sebuah utopia. Sebab ada wilayah terbuka yang bisa dicerna dengan akal pikiran dan logika manusia, bila selama bulan Ramadhan kita telah melaksanakan semua syariat dengan tulus ikhlas, termasuk berbuat berbagai kebajikan yang dianjurkan agama, tanpa ada tekanan mobilisasi, tentu ada keyakinan, amal kebajikan pasti dibalas pahala. Tapi berbicara tentang surga, tentu saja itu wilayah Ilahiah. Alam transenden, alam gaib, di luar ruang waktu yang kita pahami, selamanya di luar pengetahuan kita. Kita tak memiliki pengetahuan tentang itu selain yang diungkapkan oleh Sang Pencipta.

Beberapa mufasir Muslim kontemporer menekankan manfaat puasa Ramadhan, yakni mengubah seseorang dari perilaku kebiasaannya dan membawanya ke dalam pikiran yang segar, kesehatan jasmani, berempati terhadap penderitaan orang lain, meningkatkan tali silaturrahim, dan melatih seseorang untuk disiplin dan sabar. Bilamana latihan sebulan penuh itu dilaksanakan dengan sepenuh hati dalam suatu kesadaran penuh pula, dalam arti adanya tekad untuk melakukan transformasi, maka diperkirakan dalam tenggang waktu sebelas bulan ke depan menjelang bulan Ramadhan berikutnya, yang dimulai dari kilometer nol satu Syawal, hasilnya akan baik.

Jujur, dalam puasa bulan Ramadhan tahun ini, kaum Muslim dihadapkan berbagai tantangan, terutama banyaknya isu negatif yang berbau SARA yang merugikan kaum Muslim itu sendiri, terutama yang berkaitan dengan kampanye pilpres 2014. Isu demi isu yang berkembang liar dan banal telah membuat perasaan tidak enak satu sama lain.

Sesungguhnya manusia telah dianugerahi sejumlah karunia yang mempermudah pemahaman terhadap keadaan. Manusia dianugerahi pancaindra serta daya ingat, imajinasi dan persepsi. Di atas semua itu ada kemampuan kritis akal budi untuk memandu, menyelaraskan, mengoreksi kesimpulan. Akal bisa salah, tapi akal juga bisa melakukan pelurusan-pelurusan. Ini semua adalah karunia yang tak terlalu (sering luput) disyukuri manusia. Dalam perspektif agama, kebaikan dan keburukan manusia merupakan fungsi dari perbuatannya sendiri, yang tidak dapat dibebankan kepada orang lain.

Sekarang terpulang kepada kita semua apakah kita akan membangkit batang terendam makna persaudaraan dan makna kejujuran yang terkandung dalam semangat Idul Fitri sebagai kekuatan dahsyat seperti dimaksud Al Jahizh itu atau tidak, atau kita setiap tahun sibuk mengurus pemudik dan berurai air mata dengan kematian-kematian sia-sia, atau sibuk melarang penggunaan kendaraan pelat merah yang sama sekali tak substansial. Maaf.


kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 554 kali
sejak tanggal 04-08-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat