drh. Chaidir, MM | Raja Alim Raja Disembah | UNGKAPAN Melayu kuno itu selengkapnya berbunyi,
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Raja Alim Raja Disembah

Oleh : drh.chaidir, MM

UNGKAPAN Melayu kuno itu selengkapnya berbunyi, "Raja alim raja disembah raja lalim raja disanggah." Ada juga yang menyebut, "Raja adil raja disembah raja zalim raja disanggah." Ungkapan itu populer di rantau semenanjung dan di wilayah Sumatera pada umumnya. Maknanya tak sulit diselami. Seorang raja atau penguasa yang berilmu, cerdik pandai, bijak bestari, dan pemeluk agama yang taat, akan dihormati dan disayang oleh pengikutnya. Penguasa yang zalim, kejam dan sewenang-wenang, boleh ditentang atau dilawan.

Alasannya sederhana. Seseorang yang terpelajar dan memiliki ilmu pengetahuan, pemikirannya lebih luas, lebih tajam dan lebih dalam, dan oleh karenanya menjadi tempat orang bertanya. Bilamana ia, di samping berilmu, juga seorang pemeluk agama yang taat, maka menjadi garansi, tentulah ia seorang yang memiliki karakter jujur, berpaham, baik hati, tidak pembohong, tidak sombong, tidak munafik. Seseorang yang berilmu dan taat beragama pasti suka berbuat kebajikan.

Bila status terpelajar dan taat beribadah itu terdapat pada diri seorang raja atau penguasa, maka ia memiliki kesempatan untuk berbuat lebih banyak kebajikan melalui pedang kekuasaan yang berada di tangannya. Dengan demikian harapan masyarakatnya akan terpenuhi. Rasa puas dan rasa nyaman akan menyelimuti masyarakatnya. Masyarakat pun akan menghargai dan patuh secara sukarela, dan sang pemimpin pun akan dibela dengan sepenuh hati.

Sebaliknya bila sang raja atau sang pemimpin berkarakter bengis, tidak menaruh belas kasihan, tidak adil, kejam, berbuat sewenang-wenang, selalu merasa benar sendiri, penuh intrik, teror, pasti akan menebar ketakutan dan ketidakpuasan. Raja atau penguasa yang demikian tidak akan mendapatkan penghargaan dukungan tulus dari masyarakatnya. Yang muncul justru rasa keterpaksaan, kebencian, ditinggalkan oleh rakyatnya, bahkan akan mendapat perlawanan.

Banyak catatan sejarah, rakyat tidak segan-segan bangkit melawan bahkan memberontak terhadap raja yang lalim. Ada kerajaan yang tumbang dan seringkali pula sang penguasa terbunuh oleh rakyatnya sendiri. Beberapa penguasa yang dicatat sejarah berakhir tragis misalnya, ada Muammar Khadafi dari Libya, ada Saddam Husein (Irak), Ferdinand Marcos (Filipina), Husni Mubarak (Mesir), Idi Amin (Uganda), Nicolae Ceausescu
(Rumania), Ben Ali (Tunisia), dan lain-lain.

Berkaca dari sejarah, siapapun Capres-cawapres yang ditetapkan sebagai pemenang dalam rekapitulasi nasional perolehan suara hasil Pilpres 2014, besok pagi (22/7), agaknya, tak akan bisa menghindar dari hukum sejarah, petuah Melayu kuno tersebut.

Setelah terpilih, sang pemimpin tak lagi dinilai dari rekam jejaknya, sehebat dan secemerlang apapun sejarah masa lalunya, tapi akan dinilai seberapa piawai ia memainkan pedang kekuasaannya untuk kepentingan kesejahteraan masyarakatnya. Sang pemimpin akan dinilai dari ucapan dan perbuatannya. Sekelam apapun masa depan, tetap lebih penting dari sebuah masa silam yang gemilang. Siapa pun yang menang, ingatlah petuah sejarah, raja alim raja disembah raja lalim raja disanggah.


kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 939 kali
sejak tanggal 21-07-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat