drh. Chaidir, MM | Cinta Segitiga Dewa | SYAIR ini berkisah tetang cinta segitiga para dewa. Dua dewa, Dumuzi dan Enkimdu, berusaha mendapatkan cinta dari seorang dewi. Pada mulanya sang dewi, Inanna, sudah terikat janji dengan Enkimdu, seorang petani. Sayangnya, Utu, saudara dari Inanna menghendaki agar Inanna menikah dengan Dumuzi, pengg
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Cinta Segitiga Dewa

Oleh : drh.chaidir, MM

SYAIR ini berkisah tetang cinta segitiga para dewa. Dua dewa, Dumuzi dan Enkimdu, berusaha mendapatkan cinta dari seorang dewi. Pada mulanya sang dewi, Inanna, sudah terikat janji dengan Enkimdu, seorang petani. Sayangnya, Utu, saudara dari Inanna menghendaki agar Inanna menikah dengan Dumuzi, penggembala.

Inanna tentu saja menolak keras usul saudaranya, alasannya masuk akal, kawin dengan Dumuzi berarti merendahkan martabatnya. Tapi Dumuzi pantang putus asa. Dumuzi kemudian memperkenalkan diri pada Inanna dan menyebut kebaikan-kebaikannya dibanding Enkimdu. Tutur kata Dumuzi menarik hati Inanna, bahkan kini terpesona dengan kefasihan Dumuzi. Keajaiban kemudian terjadi, Inanna merasa yakin, Dumuzilah yang patut menjadi suaminya, bukan Enkimdu.

Dumuzi bahagia alang kepalang. Dia menantang Enkimdu sang petani untuk bertarung secara jantan satu lawan satu. Tapi sang petani menolak dengan santun bukan karena takut, tapi karena menganggap pertarungan tak ada gunanya; bukankah sang dewi sudah menjatuhkan pilihan? Ternyata, penolakan arif dan bijak dari Enkimdu membawa kebahagiaan bagi semuanya. Sang petani bahkan membolehkan sang penggembala menggembalakan ternak di tanah pertaniannya. Sang penggembala pula, mengundang sang petani ke perkwainannya, dan mereka bertukar hadiah tanda pesahabatan dan penghormatan.

Kisah cinta segitiga ibarat sinetron happy ending itu, seakan dimainkan di panggung pertunjukan di negeri kita yang akhir-akhir ini sedang galau stadium empat menghadapi rivalitas politik dua hero yang baru saja bertanding satu purnama penuh tanpa jelas pemenangnya. Siapa yang memerankan Dumuzi dan siapa pula yang memerankan Enkimdu? Tapi syair itu memang bukan karya sastrawan kita; itu syair dalam tradisi sastra bangsa Sumeria yang jauh, teramat jauh. Tepatnya sekitar 3.500 tahun Sebelum Masehi di tengah peradaban kuno Timur Tengah. Bangsa Sumeria mendiami sebuah kawasan yang terletak di sebelah selatan Mesopotamia (tenggara Irak) di atas hamparan antara Sungai Euphrat dan Sungai Tigris.

Bangsa Sumeria ini sering disebut sebagai "peradaban yang muncul secara tiba-tiba". Dalam berbagai buku sejarah, bangsa Sumeria selalu disebut sebagai peradaban manusia tertua. Kebudayaan Sumeria berangkat dari dialektika Dewa dan manusia. Dewa yang disembah adalah "mereka yang mempunyai darah bangsawan" atau "putra yang datang dari langit".

Dalam waktu yang relatif singkat, kebudayaan bangsa Sumeria berkembang menjadi kebudayaan maju, yang menguasai ilmu matematika, sains, astrologi, arsitektur, dan yang terpenting adalah sistem penulisan pertama di dunia. Mereka juga mengenal bercocok tanam dan sudah memiliki sistem pengairan. Kenapa maju? Sebab dalam mitologi Sumeria, tidak hanya cerita tentang peperangan, tapi juga interaksi dan transfer pengetahuan antara manusia dan Dewa, termasuklah Dumuzi dan Enkimdu yang memiliki karakter terhormat seperti dalam syair itu. Mereka tidak mengenal, misalnya, istilah "tiji tibeh" ("mati siji mati kabeh" - mati satu mati semua) karakter destruktif, seperti dikenal dalam peradaban modern ribuan tahun kemudian.


kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 502 kali
sejak tanggal 14-07-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat