drh. Chaidir, MM | Catatan Pilpres 2014 | BESOK pagi (9/7) kita bangsa Indonesia akan memilih Presiden RI  yang akan menggantikan Presiden SBY, sebab konstitusi kita mengatur, masa jabatan seorang presiden paling lama hanya boleh dua periode. Presiden SBY sudah menjabat dua periode (2004-2009 dan 2009-2014).

Dua pasang kandidat bertarung
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Catatan Pilpres 2014

Oleh : drh.chaidir, MM

BESOK pagi (9/7) kita bangsa Indonesia akan memilih Presiden RI yang akan menggantikan Presiden SBY, sebab konstitusi kita mengatur, masa jabatan seorang presiden paling lama hanya boleh dua periode. Presiden SBY sudah menjabat dua periode (2004-2009 dan 2009-2014).

Dua pasang kandidat bertarung memperebutkan suara pemilih: Pasangan Nomor Urut 1 Prabowo-Hatta dan Pasangan Nomor Urut 2 Jokowidodo-JK. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan itu pasti, namanya juga manusia. Ada yang suka atau tidak suka itu juga manusiawi. Ungkapan kearifan yang lazim dalam masyarakat kita, sebanyak yang suka sebanyak itu pula yang tidak suka. Wajar.

Yang tidak wajar adalah atmosfir persaingan yang tidak sehat. Media agaknya terlalu provokatif memanasi suasana kompetisi sehingga menyeret timses kedua kubu untuk bertempur habis-habisan mengeluarkan berbagai jenis peluru. Kita bangga demokrasi liberal yang kita anut maju dengan sangat pesat. Tetapi kita tidak bangga terhadap politik yang bekembang tanpa etika. Barangkali kita belum sepenuhnya paham memperlakukan dan menjaga demokrasi itu. Pilpres 2014 memperlihatkan wajah kita yang coreng moreng. Tampilnya dua pasang kandidat sesungguhnya ideal dalam sistem pemilihan langsung, tetapi masyarakat kita terlalu bersemangat dalam dukung mendukung kandidat masing-masing. Semuanya memposisikan kemenangan bagi kandidatnya adalah harga mati, kalah berarti kiamat.

Pemberitaan media kita terpolarisasi. Politik dengan menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan difasilitasi sedemikian rupa, semuanya tumbuh dengan subur. Apalagi di samping media konvensional, dewasa ini media sosial juga berkembang secara sangat luar biasa. Dan penyebaran berita melalui media sosial sama sekali tak ada yang bisa mengendalikannya kecuali masyarakat itu sendiri. Maka isu SARA yang sesungguhnya dipahami sebagai isu yang berbahaya dalam sebuah bangsa yang majemuk, tak ada lagi bandrolnya, semua bebas diumbar. Kemajuan teknologi informasi dengan berbagai jenis gadget canggih mempermudah seseorang menyebar luaskan isu yang diterima, terlepas apakah itu fakta atau fitnah.

Masyarakat kita lebih mengedepankan hak-hak demokrasinya, tapi mengabaikan kewajibannya untuk menjaga ketertiban dan saling menghormati. Nilai sportivitas dan rasa saling segan menyegani tidak hadir dalam perilaku politik kita. Pemahaman kita terhadap tansparansi misalnya, diartikan seakan kita boleh saling menelanjangi di depan publik. Nilai persaudaraan (fraternite) dalam demokrasi yang sudah ada sejak demokrasi itu lahir juga seakan sudah dihanyutkan.

Persaingan perebutan ruang publik di media sosial antar kedua kubu sedikit banyak memperanguhi atmosfir debat kandidat yang disiarkan langsung melalui televisi. Akibatnya sangat terasa, debat tidak berkembang cerdas, melainkan hanya untuk mencari celah sisi kelemahan lawan, bukan mengeksplorasi pemikiran kritis kebangsaan para calon pemimpin untuk masa depan. Hal ini diperburuk oleh kegagalan moderator debat dalam menghidupkan suasana untuk menjadi lebih akrab. Para ilmuwan intelektual yang diserahi mandat sebagai moderator agaknya tidak mendiskusikan secara mendalam fungsi moderator dengan pihak KPU. Akibatnya, kekakuan debat banyak disebabkan peran moderator yang tidak optimal. Moderator gagal menghadirkan nuansa intelektual dalam lima seri debat. Padahal debat tersebut adalah debat pemikiran pemimpin bangsa.

Pilpres 2014 membuat kita tersadar, ternyata banyak hal yang harus kita benahi dalam semangat kebangsaan kita. Demokrasi memang bukan pilihan terbaik, tapi bukankah belum ada sistem lain yang lebih baik dari demokrasi? Namun kita juga tidak ingin demokrasi kita berkembang menjadi demokrasi destruktif atau demokrasi yang membuat bangsa kita tercerai berai, atau demokrasi wani piro yang rendahan. Kita ingin membangun demokrasi yang bermartabat dan memiliki harga diri. Ayo kita nyoblos.


kolom - Harian Vokal
Tulisan ini sudah di baca 439 kali
sejak tanggal 08-07-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat