drh. Chaidir, MM | Teka Teki Pilpres 2014 | SEKALI lagi, tanpa kokok ayam jantan pun matahari pagi pasti akan menjelang menyapa manusia, sekurang-kurangnya sampai sehari sebelum dunia kiamat. Begitulah terlebih terkurangnya pilpres 2014 dalam ibarat. Rabu sore (9/7) atau selambat-lambatnya Kamis pagi (10/7) hasil pilpres 2014 pasti sudah dike
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Teka Teki Pilpres 2014

Oleh : drh.chaidir, MM

SEKALI lagi, tanpa kokok ayam jantan pun matahari pagi pasti akan menjelang menyapa manusia, sekurang-kurangnya sampai sehari sebelum dunia kiamat. Begitulah terlebih terkurangnya pilpres 2014 dalam ibarat. Rabu sore (9/7) atau selambat-lambatnya Kamis pagi (10/7) hasil pilpres 2014 pasti sudah diketahui.

Teka teki pasangan mana yang akan tepilih, akan terjawab. Publik akan segera tahu, mana pemenang mana pecundang; mana pasangan kandidat yang duduk, mana yang "terduduk"; mana yang melakukan selebrasi seperti James Rodriguez bintang piala dunia asal Kolombia itu, mana yang tertunduk lesu. Waktu demikian cepat berlalu. Sehari sebelum pencoblosan, semua masih goyang oplosan, tapi sehari kemudian suasana seperti di pemakaman.

Kandidat mana yang akan terpilih, baru menjawab sebuah teka teki yang paling sederhana, kemungkinannya fifty-fifty, kalau tak satu, dua; kalau tak dua, satu. Sama seperti siapa yang akan jadi juara piala dunia di Brazil, setelah turnamen memasuki babak empat besar. Peluangnya hanya antara Brazil, Jerman, Belanda atau Argentina. Tapi, piala dunia 2014 juga menyisakan sejumlah enigma, teka teki rahasia. Mengapa misalnya, sang juara bertahan jadi ayam sayur? Mengapa negara-negara penyelenggara liga terbaik di dunia saat ini (Liga Premier Inggris, La Liga Spanyol dan Serie A Italia) justru rontok di penyisihan grup? Mengapa bintang-bintang seperti Ronaldo, Rooney, Drogba, Eto'o, Diego Costa, Pirlo, Keisuke Honda, Falcao, Balotelli, Aguero, tak bersinar? Atau mengapa Assou-Ekotto dan Benjamin Moukandjo, sesama pemain Kamerun berkelahi di lapangan? Atau mengapa Luis Suarez menggigit bek Italia, Giorgio Chiellini? Benarkah "bunuh diri" Suarez itu skenario bandar judi?

Pilpres 2014, juga tak hanya menyodorkan teka teki sederhana, siapa pemenang. Kalau kita mau sedikit mengerutkan kening, suka atau tidak suka, pilpres 2014 menyodorkan banyak enigma. Mengapa misalnya, kita melakukan politik dengan menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan sementara kita tahu kita harus menjunjung tinggi etika politik? Mengapa kita dengan mudah memainkan isu SARA, sementara kita tahu sebagai sebuah bangsa yang majemuk isu itu berbahaya? Mengapa kita gemar menyebar fitnah sementara kita tahu fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan? Atau, benarkah isu tentang kembalinya PKI, isu tentang HAM, dan sebagainya?

Pilpres 2014 juga mengangkut banyak teka teki lain tentang kita, tentang perilaku sosial politik masyarakat kita. Katanya, kita sudah sepakat memilih jalur demokrasi liberal, tapi kelihatannya kita belum siap berdemokrasi. Benarkah? Kalau jawabannya tidak benar, mengapa kita hanya mengedepankan hak dan mengabaikan kewajiban? Mengapa sportivitas dan rasa saling hormat menghormati tidak hadir dalam perilaku politik kita? Mengapa kita saling menelanjangi di depan publik? Atau sekedar itukah pemahaman kita tetang transparansi? Kemana raibnya nilai persaudaraan (fraternite) dalam demokrasi kita? Benarkah demokrasi kita demokrasi destruktif? Atau demokrasi wani piro?

Ternyata panjang daftar teka tekinya. Biarlah. Prinsip, siapapun pasangan kandidat yang terpilih dalam Pilpres 9 Juli, Rabu esok lusa, mereka harus mampu mengurai sejumlah enigma sosial politik tersebut sehingga tak hanya membawa bangsa ini maju dengan tingkat kesejahteraan yang jauh lebih baik, tapi juga mampu membangun masyarakat yang penuh keterhormatan. Selamat nyoblos.


kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 484 kali
sejak tanggal 07-07-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat