drh. Chaidir, MM | Politik Puasa dan Puasa Politik | SECARA sederhana, politik puasa (Ramadhan) dipahami sebagai segala upaya untuk menjadikan ibadah puasa Ramadhan dapat dijalankan oleh semua kaum muslimin secara aman dan nyaman, segala kebutuhan terpenuhi tak kurang sesuatu apapun.

Secara transendental, masing-masing individu muslim pun perlu men
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Politik Puasa dan Puasa Politik

Oleh : drh.chaidir, MM

SECARA sederhana, politik puasa (Ramadhan) dipahami sebagai segala upaya untuk menjadikan ibadah puasa Ramadhan dapat dijalankan oleh semua kaum muslimin secara aman dan nyaman, segala kebutuhan terpenuhi tak kurang sesuatu apapun.

Secara transendental, masing-masing individu muslim pun perlu menyambut puasa Ramadhan dengan riang gembira dan melakukan segala macam cara agar ibadah puada Ramadhan yang demikian belimpah bisa dinikmati satu demi satu, kalau bisa semua, semuanya diraup. Bukankah puasa Ramadhan itu sebuah undangan yang sangat istimewa dari Allah SWT agar kita memperoleh predikat sebagai insan yang bertakwa? Karena masing-masing individu muslim memiliki kelebihan dan kekurangan atau keterbatasan baik secara fisik maupun sosial ekonomi. Maka perlu juga siasat, sebab imbalan pahala tak dibedakan antara puasa seorang pejabat penting dengan puasa seorang rakyat biasa.

Bagaimana dengan puasa politik? Puasa politik bisa bermakna seseorang melakukan moratorium politik, stop politik, untuk sementara waktu, sekurang-kurangnya selama bulan suci Ramadhan. Tapi ini hampir mustahil bisa dilakukan, apalagi saat ini ketika hitung mundur hari pencoblosan pilpres sudah mendekati saat-saat genting.

Sebenarnya dalam makna ini, kaum muslim tak harus melakukan moratorium politik. Justru akan menjadi tidak baik bila moratorium itu justru merugikan umat muslim itu sendiri secara keseluruhan. Memang hukum politik itu kepentingan, tapi bila politik yang dilaksanakan adalah untuk kemaslahatan umat, maka politik bukan mudarat. Masalahnya jadi serius bila kegiatan politik yang dilakukan adalah politik rendahan tanpa etika yang sarat dengan fitnah, hasutan, iri hati, dengki, dan sejenisnya. Pendekatannya selalu dalam perspektif Macchiavelis, politik yang ditandai dengan menghalalkan segala macam cara demi penaklukan total lawan politik. Masing-masing menjadi serigala bagi yang lainnya.

Politik yang berwajah buruk seperti itu adalah politik yang kotor, busuk dan kejam, memang harus ditinggalkan tidak hanya selama bulan Ramadhan, tetapi juga selama-lamanya. Para pelaku politik yang melakukan politik rendahan seperti itu, puasa baginya adalah puasa politik yang bisa dimaknai dalam arti yang buruk pula, yakni puasa karena kepentingan atau ambil muka kepada rakyat atau pemilih.

Pilpres 2014 yang agendanya bersamaan dengan bulan suci Ramadhan, harusnya tidak dicemari dengan politik kotor. Sebab, kita akan memilih seorang Presiden yang akan menjadi pemimpin negeri. Salah seorang dari kandidat tersebut akan tepilih. Dalam politik yang bermarwah, politik tinggi yang berkualitas, setiap jabatan politik hakikatnya amanah dari rakyat yang harus dipelihara sebaik-baiknya; setiap jabatan politik mengandung pertanggungjawaban. Apatah lagi dalam demokrasi yang sedang kita tegakkan mengandung nilai persamaan (egalite) dan persaudaraan (fraternite).

Politik pada masa kelahiran pada zaman Yunani Kuno, era Plato dan Aristoteles, adalah sebagai suatu usaha untuk mencapai masyarakat politik yang terbaik. Dengan politik seperti itu manusia hidup bahagia karena memiliki peluang untuk mengembangkan bakat, bergaul dengan rasa kemasyarakatan yang akrab, dan hidup dalam suasana moralitas yang tinggi. Berdasarkan pemahaman tersebut maka politik memperoleh arti seni mengatur dan mengurus negara atau masyarakat secara keseluruhan. Sebagai seni maka politik sesungguhnya bisa jadi indah dan membuat hidup lebih mudah, terutama bila menjunjung tinggi etika politik. Jiwa etika politik, egalite dan fraternite itu dalam perjalanannya adalah kejujuran.

Puasa Ramadhan melatih kita untuk menjunjung tinggi etika politik.


kolom - Harian Vokal
Tulisan ini sudah di baca 571 kali
sejak tanggal 01-07-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat