drh. Chaidir, MM | Setawar Sedingin | BILA demam menyerang badan daun setawar sedingin bisa jadi obat, tapi bila demam menyerang jiwa kemana gerangan obat hendak dicari? Demam Piala Dunia Brazil, obatnya tentulah begadang di depan televisi; tak masalah, asal kuat saja menahan kantuk. Wabah lain yang tak jelas
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Setawar Sedingin

Oleh : drh.chaidir, MM

BILA demam menyerang badan daun setawar sedingin bisa jadi obat, tapi bila demam menyerang jiwa kemana gerangan obat hendak dicari? Demam Piala Dunia Brazil, obatnya tentulah begadang di depan televisi; tak masalah, asal kuat saja menahan kantuk. Wabah lain yang tak jelas "virus"nya, yang kini berjangkit menimbulkan demam jiwa adalah demam pilpres.

Wabah yang disebut terakhir, tak bisa disebut tak masalah seperti wabah pertama, salah-salah bahkan jadi masalah. Berbeda dengan bola yang ditendang kian kemari dan diperebutkan para bintang lapangan hijau di Brazil, demam pilpres salah-salah bisa memunculkan bola liar, bola panas atau bola tanggung yang membuat kita serba salah. Bola liar seringkali bergulir kencang kian kemari nyerempet kemana-mana, tak terkontrol, disundul tak kena, ditendang meleset.

Pilpres 2014 kenyataannya tak hanya memunculkan bola liar tapi juga banyak bola panas. Banyak sekali isu aktual yang mengandung risiko tinggi. Terpegang bola panas seringkali merepotkan bahkan bisa mendatangkan bala. Bola panas ini adakalanya seperti peluru yang berseliweran, semua berpotensi jadi sasaran. Lain bola liar dan bola panas lain pula bola tanggung. Bola tanggung juga membuat tidak nyaman; berbahaya bagi kawan atau lawan, salah-salah kaki kedua belah pihak bisa patah. Bola tanggung membuat pemain berada pada posisi maju kena mundur kena; disongsong berbahaya, tak disongsong dicap pengecut.

Sebenarnya, tampilnya dua pasang kandidat dalam Pilpres 2014 itu sudah ideal, begitulah layaknya pemilihan di negara-negara maju yang sudah khatam berdemokrasi. Tapi di negeri kita kelihatannya membawa dampak yang cukup serius. Masyarakat terpolarisasi habis. Kedua kutub saling tarik menarik atau bisa juga tolak-menolak, keduanya memosisikan diri, menang adalah harga mati, kalah berarti kiamat.

Dengan demikian pendekatannya lebih banyak dalam perspektif Macchiavelis, politik yang menghalalkan segala cara untuk menaklukkan musuh politik. Etika dikubur dalam-dalam. Yang banyak muncul ke permukaan adalah naluri bukan akal budi. Instink rasa cinta, benci, setia, bangga, malu, marah, lebih menonjol dari objektivitas sehingga kita sering berhadapan dengan hal-hal yang tak terpuji. Maka tidak heran politik tampil dalam rupanya yang paling buruk: busuk, kotor dan kejam. Tidak ada sanksi hukum bagi politik yang mengabaikan etika, tapi sanksi moral biasanya lebih berat.

Sebenarnya berdasar pemikiran filsuf Plato dan Aristoteles politik adalah suatu usaha untuk mencapai masyarakat yang terbaik. Manusia bisa hidup bahagia karena memiliki peluang untuk mengembangkan bakat, bergaul dengan rasa kemasyarakatan yang akrab, dan hidup dalam suasana moralitas yang tinggi (the better life). Tapi penekanannya kemudian lebih banyak pada kepentingan kekuasaan. Karena penekanan kekuasaan inilah maka Pilpres 2014 teramat sarat dengan propaganda yang di luar batas akal budi.

Bangsa Indonesia beruntung Pilpres 2014 siklusnya kebetulan bersamaan dengan Puasa Ramadan. Puasa Ramadan bisa jadi setawar sedingin. Bangsa kita berpeluang melatih diri memaknai nilai-nilai persamaan dan persaudaraan, nilai-nilai dasar demokrasi politik yang sedang kita pertaruhkan.


kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 497 kali
sejak tanggal 30-06-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat