drh. Chaidir, MM | Politik Bola dan Bola Politik | PIALA Dunia Sepakbola 2014 dan Pilpres 2014 beda tapi serupa. Bedanya, kompetitor Piala Dunia ada 32 tim, sedang Pilpres hanya dua pasangan;  Piala Dunia perlu lima babak (penyisihan, perdelapan final, perempat final, semi final dan final) untuk menentukan pemenang, Pilpres hanya perlu satu babak. S
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Politik Bola dan Bola Politik

Oleh : drh.chaidir, MM

PIALA Dunia Sepakbola 2014 dan Pilpres 2014 beda tapi serupa. Bedanya, kompetitor Piala Dunia ada 32 tim, sedang Pilpres hanya dua pasangan; Piala Dunia perlu lima babak (penyisihan, perdelapan final, perempat final, semi final dan final) untuk menentukan pemenang, Pilpres hanya perlu satu babak. Satu menjunjung tinggi fair play (sportivitas) satunya lagi sarat dengan black-campaign. Piala Dunia bergumul dengan politik bola, Pilpres bergumul dengan bola politik.

Kesamaannya? Kedua peristiwa tersebut berbasis kompetisi. Berapa pun kompetitor kedua peristiwa, pemenangnya tetap hanya satu (Piala Dunia belum pernah ada juara kembar, kecuali di kompetisi Perserikatan PSSI tahun 1975 ketika Persija Jakarta dan PSMS Medan ditetapkan sebagai Juara Kembar setelah pemain kedua tim baku hantam massal di lapangan dan terjadi pemogokan terhadap kepemimpinan wasit). Kesamaan berikutnya, baik Piala Dunia maupun Pilpres, tunduk pada adagium "Bola itu bundar". Hitungan matematik di atas kertas tak menjamin.

Bola itu bundar, itulah politik bola. Ada faktor teknis dan non teknis, ada ketidakpastian, dan ada pula intervensi Dewi Fortuna (cari pembenaran). Politik bola itu politik tak bersudut, sehingga tak mudah terbaca dan tak ada sisi yang bisa jadi petunjuk. Mau mendekat dari sisi mana, sama mudahnya atau sama sulitnya. Bola juga tak berkutub. Bola tak mengenal polarisasi, utara-selatan, timur-barat persis sama bentuk dan rupanya, tak bisa dibedakan. Bola bisa bergulir kian kemari. Karena bola itu bundar maka kesempatan menang selalu terbuka bagi mereka yang terlibat dalam kompetisi. Tapi ternyata politik bola juga tidak hanya berlaku di Piala Dunia (dalam arti segala taktik untuk memenangkan kejuaraan), politik bola juga belaku dalam Pilpres, karena ada faktor nonteknis dan keberuntungan.

Politik bola adalah seni memperebutkan bola. Sayangnya bola yang diperebutkan oleh 22 pemain itu hanya satu. Kemana pun bola itu bergulir atau digulirkan, pasti dikejar. Bola itu dihajar atau ditendang sekeras-kerasnya, tapi bola juga diharapkan mendekat, dipeluk dan dicium mesra. Adakalanya, bola dimasukkan ke dalam kaos sehingga membentuk perut pemain seperti perempuan hamil besar.

Kesamaan Piala Piala Dunia dan Pilpres, tidak hanya karena keterpaksaannya tunduk terhadap hukum "bola itu bundar", tetapi juga terhadap konsekuensi sebuah kompetisi yang berlangsung ketat. Di dalamnya tersimpan keringat, air mata, harapan, sukacita, berkah, dan musibah. Hanya satu kompetitor yang akan tampil jadi pememang, lainnya pecundang.

Politik bola beda dengan bola politik. Politik bola, ringkasnya, bagaimana menceploskan bola ke gawang lawan sebanyak-banyaknya dan menjaga gawang sendiri agar tak kebobolan bola lebih banyak daripada yang bisa dimasukkan ke gawang lawan. Dan perspektif itu sangat mendominasi Piala Dunia di Brazil. Tapi bola politik beda, dan bola politik ini tidak akan jadi perhatian di Brazil. Ada tiga macam bola politik yang biasanya tak begitu disukai. Pertama, bola liar; yang namanya bola liar susah dikontrol. Bola liar politik seringkali bergulir kencang kian kemari, disundul tak kena, ditendang meleset, pemain dibuat serba salah. Bola liar bisa jadi bola salju yang makkn lama makin besar dan berbahaya. Bola liar bisa nyerempet kemana-mana.

Kedua, bola panas; bola panas adalah isu hangat yang mengandung risiko tinggi; para politisi kita biasanya selalu menjauh dari wilayah bola panas ini. Terpegang bola panas seringkali merepotkan bahkan bisa mendatangkan bala. Ketiga, bola tanggung; bola tanggung berbahaya bagi kawan atau lawan, salah-salah kaki kedua belah pihak bisa patah. Bola tanggung membuat pemain berada pada posisi maju kena mundur kena; disongsong berbahaya, tak disongsong dicap pengecut.

Politik bola Piala Dunia 2014 bisa kita saksikan sampai tanggal 13 Juli mendatang, tapi khusus bola politik rasanya akan tetap hangat sampai menjelang akhir Tahun Politik 2014 ini. Wallahualam...


kolom - Better
Tulisan ini sudah di baca 492 kali
sejak tanggal 25-06-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat