drh. Chaidir, MM | Debat Minus Selera Humor | DEBAT kandidat Presiden RI 2014 antara Capres Prabowo dan Jokowi telah berlangsung tiga putaran, yakni tanggal 9, 15 dan 22 Juni tiga malam lalu (rencana lima putaran dengan diselingi debat antar Cawapres Hatta Rajasa vs Jusuf Kalla pada tanggal 29 Juni).

Menyaksikan tiga sesi debat kandidat pres
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Debat Minus Selera Humor

Oleh : drh.chaidir, MM

DEBAT kandidat Presiden RI 2014 antara Capres Prabowo dan Jokowi telah berlangsung tiga putaran, yakni tanggal 9, 15 dan 22 Juni tiga malam lalu (rencana lima putaran dengan diselingi debat antar Cawapres Hatta Rajasa vs Jusuf Kalla pada tanggal 29 Juni).

Menyaksikan tiga sesi debat kandidat presiden kita, sangat terasa, debat tersebut berlangsung kaku, tidak rileks, tidak menghibur, bahkan minus selera humor. Sampai-sampai moderator sesi debat ketiga Prof Hikmahanto Juwana merasa perlu mengajak kedua kandidat untuk senyum.

Kita tidak meragukan sama sekali kapasitas dan kredibilitas ketiga moderator debat dalam bidangnya; yakni Prof Zainal Arifin Mochtar (pakar hukum dan politik UGM) moderator debat pertama, Prof Ahmad Erani Yustika (pakar ekonomi Univ Brawijaya) moderator debat kedua, dan Prof Hikmahanto Juwana (pakar hubungan internasional UI) moderator debat ketiga, tapi kelihatannya ketiga moderator kita tak mampu mencairkan suasana. Mereka seakan kehilangan mantra.

Padahal, rasanya taklah salah bila sang moderator mengutip sebuah anekdot yang relevan sebelum memulai debat, atau ketika membuka segmen-segmen debat yang diharapkan membuat kandidat kita senyum, demikian juga timsesnya dan para penonton di seluruh Tanah Air. Ingat bagaimana Annas Maamun tampil humoris dalam debat televisi Cagub beberapa waktu lalu? Annas meninggalkan kesan mendalam (terlepas adanya pro-kontra).

Kita tidak menyangkal, debat capres bukan talkshow. Seperti disebut Anggota KPU, Sigit Pamungkas, debat capres dan cawapres merupakan debat kenegaraan. "Ini bukan talkshow. Ini adalah debat kenegaraan yang berbeda dengan talkshow atau karena ini debat kenegaraan, maka dalam batas-batas tertentu harus dibatasi elemen hiburannya. Kami banyak merujuk ke negara-negara yang sudah matang mendesain debat," kata Sigit seperti dikutip berbagai media.

Tapi bukan berarti dengan demikian aturan mainnya menjadi sangat ketat dan kaku sehingga sama sekali tidak memberi ruang bagi sang moderator melakukan improvisasi untuk sekedar ice breaking (mencairkan suasana). Akibatnya dalam tiga sesi debat tersebut, moderator tidak bisa memperlihatkan "taring" kepakarannya, malah terlihat seperti pembawa acara Lomba cerdas cermat. Kalaulah moderator tidak boleh sama sekali menampakkan kemampuan verbal, gestur, dan olah vokalnya, mengapa dipaksakan harus guru besar dari kampus?

Debat kenegaraan (sesuatu yang sangat serius), mestinya bukan berarti tak boleh ada sentuhan humor, sebab ianya bagian dari komunikasi politik. Justru sentuhan humor akan menimbulkan rasa nyaman dan bersahabat. Masyarakat kita sudah letih dengan berbagai macam persoalan hidup dan kehidupan, sudah letih juga mengikuti pemilu sepanjang tahun. Sentuhan humor akan kembali membangunkan suasana yang telah loyo kembali bersemangat dan fokus.

George Wallace (1952- ) komedian, pemenang Standup Comedian AS pada 1995, dan penulis buku berjudul "Laff it Off" (2013) memperkuat agumentasi kehadiran humor. Dijelaskannya, banyak cara menjadi seorang pemimpin, pemimpin lebih baik dengan humor. George, mengatakan bahwa "Hidup itu lucu" bahkan ketika dalam kondisi serius.

Tertawa dapat memicu endorfin (senyawa kimia yang membuat seseorang merasa senang) dan kejadian tersebut akan terkunci dalam ingatan. Itulah sebabnya sampai saat ini George masih mengingat kisah-kisah lucu saat ia masih kecil. Jadi jika ingin orang lain mengingat apa yang kita jelaskan, sebaiknya lakukan dengan cara yang menghibur (dalam artian bukan melawak).

George memberi pesan, bila kita menemui hal yang buruk untuk disampaikan seperti kerugian atau kesalahan dan bingung bagaimana menjelaskannya, maka sebaiknya gunakan humor sebelum masuk ke topik utama. Karena, bagaimana pun tidak bisa dipungkiri, kita sedang berbicara dengan manusia yang memiliki perasaan.

George Wallace agaknya benar, Kandidat Presiden kita adalah manusia, mereka bukan robot atau malaikat, moderator juga manusia, timses di studio adalah manusia dan penonton di seluruh pelosok nusantara adalah juga manusia. Masyarakat kita ingin melihat debat lebih dari hanya sekedar silat lidah. Anekdot yang mencairkan suasana akan membuat masalah serius terasa ringan dan akan masuk dengan mulus ke ruang memori.


kolom - Harian Vokal
Tulisan ini sudah di baca 629 kali
sejak tanggal 24-06-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat