drh. Chaidir, MM | Memanjakan Sungai Siak | TAK ada Pekanbaru kalau tak ada Sungai Siak. Tersebab Sungai Siaklah maka Pekanbaru ada. Premis itu agaknya tak terbantahkan. Sebab, Sungai Siak sudah lebih dulu eksis semenjak daratan Pulau Sumatera ini tebentuk lebih kurang seratus juta tahun  lampau.  Sementara Pekanbaru baru berdiri jutaan tahun
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Memanjakan Sungai Siak

Oleh : drh.chaidir, MM

TAK ada Pekanbaru kalau tak ada Sungai Siak. Tersebab Sungai Siaklah maka Pekanbaru ada. Premis itu agaknya tak terbantahkan. Sebab, Sungai Siak sudah lebih dulu eksis semenjak daratan Pulau Sumatera ini tebentuk lebih kurang seratus juta tahun lampau. Sementara Pekanbaru baru berdiri jutaan tahun kemudian, atau tepatnya 230 tahun silam.

Di belahan manapun di planet ini, sungai adalah urat nadi kehidupan masyarakat tradisional. Tidak hanya sebagai jalur tansportasi, sungai menyediakan air untuk minum penduduk, untuk bertanak nasi, ikan untuk lauk-pauk, sungai juga tempat penduduk mandi dan mencuci, bahkan sungai juga dijadikan WC terpanjang di dunia. Fungsi itu semua juga disandang oleh Sungai Siak, tak terkecuali.

Banyak kota bermula kisahnya dari persebatian penduduk asli yang menumpang hidup di tepi sungai. Lihatlah persebatian Kota Palembang dan Sungai Musi, Jambi (Sungai Batanghari), Samarinda (Sungai Mahakam), Banjarmasin (Sungai Barito), dan lain-lain. Di Riau sendiri, ada Kota Rengat yang tak terpisahkan sejarahnya dengan Sungai Indragiri, Bagansiapi-api (Sungai Rokan), Pasir Pengaraian (Batang Lubuh), Bangkinang (Batang Kampar), dan seterusnya.

Bahkan kota-kota besar dunia, ratusan tahun lampau sejarahnya juga bermula dari sekelompok orang yang semula nomaden, kemudian menetap di tepi sungai. Kini, Paris sangat indah dengan Sungai Seine, London menawan dengan Sungai Thames, Kairo menakjubkan dengan Sungai Nil, Seoul dengan Sungai Han. Dan masih banyak lagi kota-kota dunia yang menyayangi dan mendekorasi sungai yang membelah kotanya menjadi sangat indah.

Perkembangan Kota Pekanbaru dimana sekarang kita berada, pada awalnya juga tak terlepas dari fungsi Sungai Siak sebagai prasarana transportasi dalam mendistribusikan hasil bumi dari pedalaman ke wilayah pesisir. Disebut dalam website www.pekanbaru.go.id, daerah yang semula hanya sebagai ladang itu, lambat laun menjadi perkampungan dan bernama Senapelan. Alkisah, pada tanggal 21 Rajab 1204 H atau tanggal 23 Juni 1784 M berdasarkan musyawarah datuk-datuk empat suku (Pesisir, Lima Puluh, Tanah Datar dan Kampar), Senapelan diganti namanya menjadi "Pekan Baharu" selanjutnya diperingati sebagai hari lahir Kota Pekanbaru. Sebutan "Pekan Baharu" dalam bahasa sehari-hari disebut Pekanbaru.

Semula, dua "sahabat" ini, Sungai Siak dan Pekanbaru, hidup berdampingan mesra dalam satu ikatan simbiose mutualisme, saling menguntungkan satu sama lain. Sungai Siak senantiasa setia menyapa Pekanbaru, tak pernah ingkar janji sedetik pun. Tapi seiring perjalanan waktu Sungai Siak mulai diabaikan dan dibiarkan merana. Limbah dan sampah kota tak henti dijejalkan ke sungai, dan pabrik-pabrik pun buang limbah seenaknya.

Sungai Siak sebenarnya anugerah terindah, kita saja yang tak menyadarinya. Oleh karena itu bersempena HUT ke-230 Pekanbaru, rencana Pemprov Riau bahu membahu mewujudkan taman di sepanjang Sungai Siak yang berada dalam wilayah kota padat penduduk, patut diapresiasi semua pihak. Rumah penduduk perlu balik kanan menghadap taman dan sungai. Sungai Siak kita manjakan, dibuat indah sebagai tempat pesiar sungai sebagaimana Paris, London, Kairo, Seoul memanjakan sungainya. Dirgahayu Pekanbaru. Syabas!


kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 424 kali
sejak tanggal 23-06-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat