drh. Chaidir, MM | Sepakbola dan Nasionalisme | STADION Utama Riau, Senin malam (16/6) dua hari lalu kembali bergemuruh oleh sorak sorai penonton yang menyaksikan pertandingan antara Timnas U-19 vs Tim Pra PON Riau. Stadion dengan kapasitas 43.000 penonton itu penuh sesak. Menurut informasi aparat keamanan dan panitia, masih ada ribuan penonton d
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Sepakbola dan Nasionalisme

Oleh : drh.chaidir, MM

STADION Utama Riau, Senin malam (16/6) dua hari lalu kembali bergemuruh oleh sorak sorai penonton yang menyaksikan pertandingan antara Timnas U-19 vs Tim Pra PON Riau. Stadion dengan kapasitas 43.000 penonton itu penuh sesak. Menurut informasi aparat keamanan dan panitia, masih ada ribuan penonton di luar stadion yang tidak bisa masuk.

Tidak bisa dipungkiri, Timnas U-19 Garuda Muda adalah medan magnit yang memiliki daya tarik sangat besar. Prestasi kinclong yang ditoreh Timnas U-19 yang diasuh Coach Indra Sjafri ini adalah penyebabnya. Kemenangan demi kemenangan yang di raih tim ini, telah membangkitkan rasa cinta masyarakat. Apalagi dalam beberapa puluh tahun terakhir ini, Timnas senior tidak lagi pernah memberikan kemenangan yang membanggakan masyarakat pencinta bola. Ketika Timnas U-19 behasil mengukir beberapa prestasi, masyarakat pun mencintainya. Maka segala rintangan diabaikan asal dapat datang ke Stadion Utama Riau untuk menyaksikan langsung aksi-aksi remaja-remaja timnas mereka yang membanggakan itu.

Timnas U-19 tidak hanya membawa wabah demam sepakbola di Riau. Para pemuda-pemudi kita pun sangat antusias memakai jersey timnas Indonesia dengan lambang Garuda di dadanya. Remaja-remaja putri pun tampak semakin manis dengan stiker merah-putih di pipinya. Kalau kebanggaan tehadap lambang Garuda dan bendera merah-putih diartikan sebagai nasionalisme, maka berarti sepakbola dapat membangkitkan nasionalisme. Masyarakat kita yang sering digambarkan sudah tergerus rasa nasionalismenya akibat pengaruh globalisasi ternyata demikian mudah dibangkitkan nasionalismenya. Beri mereka kebanggaan, maka masalahnya selesai.

Coach Indra Sjafri pun bercerita tentang pengalamannya membawa Timnas U-19 asuhannya bertanding di Aceh beberapa pekan lalu, masyarakat sangat antusias datang dari berbagai pelosok untuk menyaksikan pertandingan. Karena kapasitas stadion yang terbatas, penonton duduk sampai di pinggir lapangan (sesuatu yang sebetulnya sangat bebahaya). Itu pun masih ribuan di luar stadion yang tidak bisa masuk. Tapi pertandingan bejalan aman dan lancar. Dalam skuad Timnas U-19 Garuda Muda memang terdapat tiga orang putra Aceh. Komentar masyarakat Aceh yang sempat didengar Coach Indra Sjafri, sebagaimana dituturkannya dalam Talk Show di Universitas Riau, sungguh luar biasa: "Kami sekarang merasa bagian dari Indonesia."

Mengukur nasionalisme dari sepakbola mungkin terlalu menggampangkan persoalan. Nasionalisme bukanlah sesederhana itu. Nasionalisme tentulah suatu rasa yang meletup keluar dari jiwa terdalam seseorang, tak perlu diucapkan, tapi kemudian terungkap melalui perilaku seseorang sebagai bentuk kecintaan terhadap bangsanya.

Dan sepakbola? Sepakbola adalah cabang olahraga yang pemenangnya ditentukan tim mana yang lebih banyak memasukkan bola ke gawang lawan. Sederhana sekali. Tapi itulah uniknya sepakbola, atau dalam bahasa gaulnya, sepakbola memang kek gitu. Pada awal kelahirannya ribuan tahun silam, sepakbola dimainkan di jalan-jalan raya oleh penduduk sekampung; ratusan bahkan ribuan orang ikut bermain. Bayangkan hebohnya. Mungkin karena sepakbola tumbuh dari rakyat itu, maka sepakbola sangat dicintai oleh sebagian besar rakyat di belahan mana pun di dunia ini, tak peduli laki-laki atau perempuan, tua atau muda. Maka sepakbola disebut sebagai olahraga rakyat. Dalam perkembangan zaman, sepakbola kemudian hanya dimainkan sebelas lawan sebelas pemain. Namun bola yang diperebutkan tetap satu buah.

Akan tetapi, kendati hanya sebelas lawan sebelas, mereka merupakan representasi dari seisi kampung, daerah, bahkan bangsa. Kemenangan tim akan membuat seisi kampung berpesta pora, sebaliknya kekalahan tim akan membuat seisi kampung dirundung kesedihan. Pertandingan sepakbola seringkali dianggap pertaruhan harga diri. Oleh karena itu, para pemain sepakbola dituntut untuk bermain habis-habisan, bila perlu sampai tetesan darah penghabisan di lapangan. Akibat persepsi yang demikian, dan semangat meraih kemenangan yang berlebihan, pertandingan sepakbola tak jarang menimbulkan perkelahian antar pemain, antar suporter bahkan antar kampung. Tetapi di era modern, persepsi demikian sudah berubah. Masing-masing bukan lagi adu otot tapi adu otak membangun prestasi.

Barangkali berlebihan, tetapi fanatisme itulah yang tergambar dari pertandingan Timnas U-19 vs Tim Pra PON Riau di Stadion Utama Riau. Gemuruh sorak sorai penonton yang penuh sesak memenuhi stadion, membuat siapapun yang memiliki semangat nasionalisme, merinding. Nasionalisme belum mati, bahkan demikian mudah digelorakan melalui sepakbola.


kolom - Harian Vokal
Tulisan ini sudah di baca 491 kali
sejak tanggal 17-06-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat