drh. Chaidir, MM | Gus Dur Dalam Kenangan | GUBERNUR Riau Saleh Djasit duduk di sebelah kanan Presiden RI Gus Dur. Di kursi depan di sebelah kiri pengemudi, duduk pula Yenny, putri Pak Kiyai. Sedan Indonesia 1 itu meluncur tenang dari bandara Simpang tiga menuju Gedung Daerah Jalan Diponegoro, Pekanbaru.

Peristiwa itu - sepuluh tahun lalu
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Gus Dur Dalam Kenangan

Oleh : drh.chaidir, MM

GUBERNUR Riau Saleh Djasit duduk di sebelah kanan Presiden RI Gus Dur. Di kursi depan di sebelah kiri pengemudi, duduk pula Yenny, putri Pak Kiyai. Sedan Indonesia 1 itu meluncur tenang dari bandara Simpang tiga menuju Gedung Daerah Jalan Diponegoro, Pekanbaru.

Peristiwa itu - sepuluh tahun lalu - sebenarnya hanya sebuah peristiwa protokoler biasa. Setiap kunjungan Presiden ke daerah, pejabat daerah yang paling dekat mendampingi adalah Gubernur. Peristiwanya menjadi luar biasa karena Gubernur Saleh Djasit memikul amanah berat, mandat "mission imposible" dari seluruh rakyat Riau. Beban amanah itu adalah menyampaikan kepada Presiden dari hati ke hati tuntutan rakyat Riau, agar pengelolaan ladang minyak CPP Block diberikan kepada Riau. Kebetulan pengelolaan ladang minyak CPP Block oleh Caltex, habis kontraknya pada tahun 2001. Amanah terasa berat, karena belum pernah ada sejarahnya pengelolaan ladang minyak diberikan ke daerah. Minyak bumi itu bahan tambang strategis. Pertamina yang mewakili pemerintah, sangat berkuasa. Pemerintah Daerah bisa apa? Oleh karena itulah sebelum era reformasi, jangankan minta hak pengelolaan, minta bagi hasil satu persen saja telah membuat pusat marah besar.

Peristiwanya menjadi lebih luar biasa, sebagaimana diceritakan oleh Gubernur Saleh Sjasit dalam beberapa kesempatan informal kemudian, Gus Dur tertidur mendengkur halus dalam mobil bandara-Gedung Daerah, sementara Gubernur baru mulai menyampaikan aspirasi rakyat Riau. Menyadari momen akan segera hilang, Gubernur sedikit bingung. Untung ada Yenny. Yenny bilang, Pak Gub sampaikan saja terus laporannya, Kiyai mendengar. Dalam hati, Gubernur Saleh Djasit berpikir, mana mungkin orang tidur bisa mendengar. Tapi baiklah. Gubernur pun terus "mendongeng", mungkin Yenny punya alat perekam. Atau jangan-jangan.....seperti cerita yang sering beredar dari mulut ke mulut....Gus Dur punya puluhan jin.

Sesampai di Gedung Daerah, istirahat sejenak, kemudian langsung pertemuan dengan pejabat teras dan pemuka masyarakat Riau. Kelihatnnya tidak ada kesempatan Yenny untuk bercerita atau memperdengarkan rekaman kepada ayahandanya tentang "dongeng" Gubernur Saleh Djasit perihal CPP Block itu. Tetapi yang terjadi dalam pertemuan, Presiden Abdurrahman Wahid memberikan komentarnya tentang CPP Block dan mendukung CPP Block dikelola Riau.

Makan satu meja dengan Gus Dur selalu menggairahkan. Penulis merasakannya dua kali (Alhamdulillah) dalam kapasitas sebagai Ketua DPRD Riau. Sekali ketika Gus Dur masih menjabat sebagai Presiden RI. Sekali lagi ketika Gus Dur sudah lengser, dijamu makan siang oleh Gubernur Rusli Zainal di Gedung Daerah. Bukan Gus Dur namanya bila tidak membuat suasana cair dan akrab dengan humor-humor segarnya.

Suatu kali, cerita Gus Dur memulai humornya, ibu-ibu Indonesia diundang jamuan makan siang oleh Presiden Amerika Serikat di Gedung Putih. Presiden dengan ramah menawarkan hidangan sayuran segar berbumbu mayones, do you want salad Mam? Seorang ibu menjawab mantap, oh yes, shalat for me five times a day..." Nggak nyambung, kata Gus Dur sambil ketawa terkekeh-kekeh.

Gus Dur yang kutu buku memberikan resep kepada pembaca maniak. "Orang yang bodoh adalah orang yang pinjam buku, tapi orang paling bodoh adalah orang yang pinjam buku dan mengembalikannya."...

Gus....Gus...kami akan merindukanmu....

kolom - Riau Pos 3 Januari 2010
Tulisan ini sudah di baca 1801 kali
sejak tanggal 03-01-2010

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat