drh. Chaidir, MM | Debat Pakir Bus | PUTARAN pertama debat televisi kandidat capres 2014 yang berlangsung lebih kurang dua jam pada Senin malam (9/6) berlangsung hampir datar dan monoton. Serangan balik kilat hanya dilakukan sekali melalui sayap cawapres ketika JK melakukan serangan cepat ke jantung pertahanan kubu Capres Prabowo, tapi
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Debat Pakir Bus

Oleh : drh.chaidir, MM

PUTARAN pertama debat televisi kandidat capres 2014 yang berlangsung lebih kurang dua jam pada Senin malam (9/6) berlangsung hampir datar dan monoton. Serangan balik kilat hanya dilakukan sekali melalui sayap cawapres ketika JK melakukan serangan cepat ke jantung pertahanan kubu Capres Prabowo, tapi berhasil dimentahkan.

Maka jadilah debat kandidat tersebut ibarat sebuah pertandingan sepakbola, yang boleh disebut menjemukan, karena gagal menghadirkan permainan atraktif yang enak ditonton. Kedua kubu yang bertanding telihat sangat hati-hati mengantur tempo permainan agar tidak kebobolan, sehingga masing-masing pihak memarkir bus di depan gawangnya. Kedua pihak lebih memilih strategi bertahan, bemain save, sambil cari celah untuk melakukan serangan balik cepat. Tapi celah itu tak ada sampai wasit meniup peluit panjang.

Strategi bertahan total ibarat memarkir bus di depan gawang, dimaksudkan agar gawang tak kebobolan ketika dibombardir tembakan dari segala penjuru oleh penyerang lawan. Pelatih pengganti Chelsea, Roberto Di Matteo, memarkir bus di depan gawangnya ketika bertanding hidup mati pada leg kedua babak semifinal Liga Champion 2012 melawan Barcelona di Camp Nou. Barcelona sudah unggul 2-1 dan merasa pasti maju ke babak final. Chelsea bertahan mati-matian, Barcelona menggempur habis-habisan, sampai detik-detik terakhir (sebenarnya skor 2-1 sudah cukup bagi Barcelona). Malapetaka menghampiri tuan rumah Barcelona pada detik-detik terakhir itu, ketika mereka melakukan gempuran berat, terjadilah sebuah serangan balik mematikan penjaga gawang Barcelona Victor Valdes. Penyerang Chelsea Fernando Torres menetima sebuah umpan panjang di garis tengah, lepas dari pengawalan pemain belakang Barcelona dan gol. Di babak final yang dimainkan di Allianz Arena kandang Bayern Munchen melawan tuan rumah, Chelsea kembali memakir bus di depan gawangnya. Serangan balik mereka pada menit-menit terakhir berhasil dikonversi oleh Didier Drogba menjadi gol, kedudukan sama kuat: 1-1. Perpanjangan waktu dan kemudian adu pinalti. Chelsea menang 4-3 dan tampil sebagai juara Liga Champion 2012. Taktik parkir bus tak indah dipandang, tapi bisa buat menang.

Begitulah ibaratnya, terlebih terkurangnya, putaran pertama debat kedua pasang kandidat capres dan cawapres kita. Tidak ada lembaga survey independen yang memberi ponten obyektif tehadap kedua pasang kandidat. Akhirnya, juru bicara masing-masing kubu mengklaim unggul dalam debat tersebut. Tak masalah, sebab masih ada putaran berikutnya. Tanggal 15 Juni akan berlangsung debat televisi satu lawan satu antara Prabowo Subianto dan Joko Widodo, dengan tema "Pembangunan Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial". Tanggal 22 Juni kedua capres kembali akan berhadapan satu lawan satu dalam debat televisi dengan tema "Politik Internal dan Ketahanan Nasional". Selanjutnya pada tanggal 29 Juni akan berhadapan pula kedua cawapres dalam debat televisi satu lawan antara Hatta Rajasa dan Jusuf Kalla, dengan tema "Pembangunan Sumber Daya Manusia dan IPTEK. Dan seri debat televisi ini akan ditutup pada tanggal 5 Juli antara Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK, dengan tema "Pangan, Energi, Lingkungan". Pada putaran kedua sampai penutup, kita mengharapkan tak ada lagi taktik parkir bus. Kedua kubu kita harapkan tampil menyerang (tanpa pasukan dan tanpa mempermalukan) sehingga kompetisi menjadi hidup dan atraktif.

Sesungguhnya tema debat putaran pertama dua malam lalu, "Pembangunan Demokrasi, Pemerintahan yang Bersih, dan Penegakan Hukum" adalah tema yang sangat umum, aktual dan mudah dipahami oleh publik. Isu tersebut sering diperbincangkan di tengah masyarakat, sehingga tak usah seorang capres atau cawapres, orang awam pun akan mampu bicara dan berdebat panjang lebar tentang isu tersebut. Persoalan debat kusir atau bukan, itu masalah lain.

Namun, seperti yang kita saksikan di layar kaca, kedua pasang kandidat kita gagal (belum) mempertontonkan penampilan terbaiknya. Mereka barangkali terobsesi untuk tampil cemerlang gilang gemilang di depan publik dan di depan timses, serta memenangkan debat. Akibatnya, masing-masing kandidat telihat demam panggung sehingga tak mampu mengeluarkan kemampuan memberi sentuhan retorika politik dalam mengeksploitasi tema yang sebetulnya empuk sekali. Tak ada upaya "ice breaking" (mencairkan suasana) tak ada juga kata berona. Bagi seorang pakar retorika, debat tersebut terasa agak hambar.

Kandidat kita mungkin lupa nasihat Hitler, yang disampaikan dengan tegas dalam bukunya "Mein Kampf" bahwa keberhasilannya (menjadi Kanselir Jerman) disebabkan oleh kemampuannya berbicara. Nah!


kolom - Better
Tulisan ini sudah di baca 532 kali
sejak tanggal 11-06-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat