drh. Chaidir, MM | Bukan Debat Kusir | KONON Menteri Penerangan yang sangat tekenal dimasa orde baru, Harmoko iseng naik pedati. Baru saja jalan beberapa meter, tercium bau tak sedap. Harmoko :
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Bukan Debat Kusir

Oleh : drh.chaidir, MM

KONON Menteri Penerangan yang sangat tekenal dimasa orde baru, Harmoko iseng naik pedati. Baru saja jalan beberapa meter, tercium bau tak sedap. Harmoko : "Bang, pedatinya kok bau yaa?"
Sang kusir yang juga merasa tak nyaman dengan bau tak sedap itu langsung menjawab : "Iya maaf pak, kudanya buang angin!"
Harmoko menimpali : " Kudanya masuk angin tuch, makanya kalau malam masukkan ke kandang."
"Bukan masuk angin pak, tapi keluar angin", kusir membantah.
Sebagai seorang Menteri Penerangan, Harmoko merasa perlu memberikan penjelasan kepada kusir : "Masuk Angin ah!"
Kusir malah menjawab: "paaaaak, yang namanya buang angin itu bukan memasukkan angin tapi mengeluarkan angin, jadi keluar angin! Bapak ini gimana sich?"
"Iyaa itu namanya kudamu masuk angin." Jelas Harmoko.
"Keluar angin Pak." Sang Kusir membantah tak mau kalah.

Anekdot ilustrasi itu sering dikutip untuk memaknai istilah debat kusir. Tak ada referensi yang jelas kapan frasa itu dikenal. Ada juga yang memberi ilustrasi, debat kusir adalah debat yang tak jelas ujung pangkalnya yang terjadi antar sesama kusir di pangkalan pedati. Debat kusir didefinisikan sebagai debat yang tidak disertai argumentasi logis. Sementara KBBI menyebut, debat kusir adalah debat yang tidak disertai alasan yang masuk akal.

Debat punya sejarah panjang. Kira-kira 500 tahun Sebelum Masehi (SM), sebuah koloni Yunani di Pulau Sicilia diperintah oleh para diktator. Yang bernama diktator, dimana-mana pada zaman apapun, suka menggusur tanah rakyat. Kira-kira 465 SM, rakyat melancarkan revolusi, diktator ditumbangkan dan demokrasi ditegakkan. Pemerintah mengembalikan lagi tanah rakyat kepada pemiliknya yang sah. Di sinilah kemusykilan terjadi. Untuk mengembalikan haknya, pemilik tanah harus sanggup berdebat dan meyakinkan dewan juri di pengadilan. Tak ada pengacara dan tak ada sertifikat tanah ketika itu. Setiap orang harus meyakinkan mahkamah hanya dengan berdebat. Ada yang tidak memperoleh kembali tanahnya hanya karena ia tidak pandai bicara.

Kemampuan berbicara membedakan manusia dengan makhluk lainnya, kemampuan berdebat membedakan manusia satu dengan manusia lainnya. Kambing dapat mengembik tetapi ia tidak mampu menjelaskan kenapa kotorannya bulat-bulat, tak sama dengan kotoran sapi, padahal sama-sama herbivora. Dengan kemampuan berbicara, manusia dapat bertukar pendapat tentang suatu hal dengan manusia lainnya, bahkan berbantah-bantahan.

Debat adalah tukar pikiran tentang sesuatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapatnya. Modal penting dalam perdebatan adalah kemampuan logika, seni berbicara, dan bacaan pendukung. Seringkali, apa yang diucapkan dalam sebuah perdebatan kurang penting dibandingkan dengan cara mengatakannya. We are judged by our speech, kata pakar public speaking Amerika, Dale Carnegie (1888-1955). Kita dinilai dari cara kita berbicara. Maka, mari nanti malam kita saksikan debat tingkat tinggi capres kita, dan setelah itu kita debat kusir memberi ponten.


kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 441 kali
sejak tanggal 09-06-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat