drh. Chaidir, MM | Mengurut Dada | BERMAIN api terbakar bermain air basah. Bidal itu pasti sudah kita kenal. Tangan mencincang bahu memikul.... Siapa menabur angin akan menuai badai. Begitulah ungkapan sering kita dengar.

Jabatan itu antara berkah dan musibah. Disebut berkah karena padanya melekat seperangkat hak dan previlese. Da
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Mengurut Dada

Oleh : drh.chaidir, MM

BERMAIN api terbakar bermain air basah. Bidal itu pasti sudah kita kenal. Tangan mencincang bahu memikul.... Siapa menabur angin akan menuai badai. Begitulah ungkapan sering kita dengar.

Jabatan itu antara berkah dan musibah. Disebut berkah karena padanya melekat seperangkat hak dan previlese. Dapat gaji besar, ada tunjangan ini itu, honor ini honor itu, ada fasilitas perumahan dan juga kendaraan. Untuk pejabat tinggi, bahkan fasilitas itu memang mewah. Bila menggunakan pesawat komersial, biasanya disediakan ticket kelas satu atau kelas eksekutif. Dan itu semuanya legal, sah, karena didukung oleh peraturan yang berlaku.

Namun, seiring hak yang melekat pada jabatan penting itu, tugas dan tanggungjawabnya juga besar. Kadang-kadang harus membuat keputusan penting, sulit dan penuh risiko. Bila tak punya ketegasan sikap dan tak berani ambil keputusan, berarti sang boss diragukan kepemimpinannya. Sebab hanya pegawai biasa atau bawahanlah yang tidak perlu harus memutus sebuah kebijakan yang penting. Seorang pejabat, dibentuk dan tersugesti harus berani ambil keputusan. Sang pejabat pasti selalu tertantang untuk membuat sebuah keputusan cepat dan tepat. Kalau berani berarti benar-benar jago, kalau tak berani berarti ayam sayur. Bila dianggap ayam sayur, maka kredibilitas sang boss akan anjlok di mata bawahan.

Kadang-kadang keputusan yang penuh risiko itu tak ada hubungannya dengan apresiasi finansial, atau dengan kata lain, tak selalu sebuah keputusan penting bisa dihargai dengan uang. Uang tak segalanya. Adakalanya ini masalah pride, kebanggaan diri, harga diri, bahwa sang pemimpin berani membuat sebuah keputusan sulit. Apatah lagi kemudian keputusan yang vivere pericoloso (nyerempet-nyerempet bahaya) itu tenyata keputusan yang benar dan berhasil menyelesaikan sebuah masalah yang rumit.

Namun tidak bisa dipungkiri, biasanya sebuah keputusan sulit akan diberi apresiasi bonus yang menggiurkan, baik oleh institusi sendiri, atau pihak lain sebagai bentuk rasa terima kasih. Bukankah ada ungkapan, more risk more money? Semakin besar risiko semakin besar pula uangnya. Nah di sinilah perangkap itu terpasang.

Keberanian membuat sebuah keputusan sulit nyerempet-nyerempet bahaya dan menghasilkan bonus, atau bentuk apresiasi lain, akhirnya menjadi candu. Karena akan diikuti dengan tepuk tangan teman-teman dalam satu kelompok oligarkis. Maka sesuatu yang semula membutuhkan nyali besar, lama kelamaan menjadi biasa. Peribahasa "Alah bisa karena biasa," benar adanya. Perbuatan buruk menjadi tidak terasa lagi keburukannya bila telah biasa dilakukan. Sesuatu yang pada awalnya dirasakan sulit bila sudah biasa dikerjakan akan menjadi terasa mudah. Susahnya, bila sudah tercebur ke kubangan, susah untuk kembali. Jalan kembali sudah terlalu berliku. Maka, bila sudah demikian, sang boss akan jadi permissive, "tanggung basah mandi sekalian."

Akhirnya visi dan misi menjadi bukan lagi sesuatu yang mutlak dan startegis untuk diperjuangkan. Sikap forgiveness akan memposisikan visi dan misi itu sebagai sesuatu yang pasti akan tercapai, tanpa perlu kerja keras atau sebuah transformasi sekali pun. Penyimpangan demi penyimpangan dengan mudah dimaafkan. Kepentingan tim (komisi) dan fee (komisi) menjadi pertimbangan utama. Apa dikerjakan oleh siapa dan mendapatkan apa.

Dalam perspektif demikian maka "tsunami" yang terjadi di Kementerian Agama sebetulnya bukan lagi sesuatu yang mengejutkan. Alarm sistem peringatan dini sebenarnya sudah sering berbunyi, dan berulang-ulang berdering, tetapi semua tutup telinga, kafilah tetap saja belalu. Ibarat pertandingan sepakbola, penonton sudah tahu, karena gawang sudah terkepung, dan dibombardir lawan dari segala penjuru, maka gol tinggal menunggu waktu.

Yang menyesakkan, kasus tersebut terjadi di Kementerian Agama, dan melibatkan urusan penyelenggaraan haji pula. Bukankah wilayah ini mestinya adalah wilayah putih bersih seperti warna putih yang menyelimuti Padang Arafah yang sering disebut Padang Mahsyar mini itu? Masalah ini bukan masalah politik. Masalahnya, dana non budgeter (tabungan haji) itu terlalu besar untuk dikelola kementerian. Dengan standar operasional yang ada dana tersebut rawan diselewengkan.

Kuncinya, sebenarnya transparansi. Tapi transparansi pun harus diikuti dengan sikap fidusial para penyelenggara. Sikap fidusial akan mengembalikan misi urusan haji itu untuk menyediakan kemudahan dan kenyamanan beribadah bagi jemaah kita, bukan mengalihkan titik perhatian penyelenggara pada urusan hitung-hitungan komisi mega transaksi. Kita hanya bisa mengurut dada. Ampuuun..


kolom - Better
Tulisan ini sudah di baca 472 kali
sejak tanggal 04-06-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat