drh. Chaidir, MM | Menanti Debat Kandidat | AGENDA debat kandidat presiden sesi pertama tanggal 8 Juni 2014 akhir pekan ini pasti dinanti-nanti publik. Tampilnya dua pasang capres-cawapres membuat debat jadi lebih menarik. Posisi head to head, akan membuat debat menjadi lebih seksi.

Apatah lagi brand images yang terbangun sejauh ini, kedua
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Menanti Debat Kandidat

Oleh : drh.chaidir, MM

AGENDA debat kandidat presiden sesi pertama tanggal 8 Juni 2014 akhir pekan ini pasti dinanti-nanti publik. Tampilnya dua pasang capres-cawapres membuat debat jadi lebih menarik. Posisi head to head, akan membuat debat menjadi lebih seksi.

Apatah lagi brand images yang terbangun sejauh ini, kedua pasang kandidat kita terutama pada figur capresnya memberi gambaran yang berbeda secara signifikan satu sama lain. Ada perbedaan karakter yang diametris antara Capres Jokowi dengan Capres Prabowo. Publik sudah melihat secara terang benderang perbedaan kedua tokoh itu, hampir dalam segala hal. Dan perbedaan ini kelihatannya telah behasil diprovokasi sedemikian rupa oleh media, baik media konvensional maupun media sosial.

Debat kandidat presiden pertama melalui siaran langsung televisi dimulai sejak 26 September 1960, lebih dari setengah abad silam di studio televisi CBS Chicago, AS. Debat ini disaksikan oleh 74 juta rakyat AS. Debat berlangsung antara Richard Nixon vs John F. Kennedy. Capres Nixon adalah Wapres yang sedang menjabat; maju sebagai capres dari Partai Republik karena Dwight D. Eisenhower sudah habis masa jabatannya. Sementara pagi hari pada tanggal 26 September tersebut, John F. Kennedy hanya seorang senator muda dari Negara bagian Massachussetts (berasal dari Partai Demokrat), relatif belum terkenal, dan belum siapa-siapa. Tapi sore harinya, Kennedy sudah menjadi bintang karena di mata publik dia unggul dalam debat tersebut. dan Kennedy kemudian menang dalam pemilihan.

Pelajaran dari debat legendaris tersebut, seorang ahli psikologi komunikasi Prof Albert Mehrabian, Profesor Emeritus University of California Los Angeles (UCLA), membuat postulat, bahwa perkataan (verval) hanya memainkan peranan 7%, suara (voice) sebesar 38% dan bahasa tubuh (visual) sebesar 55%. Komposisi tersebut kerap disingkat dengan "3V" (Verbal, Voice and Visual) dan terkenal sebagai hukum 7-38-55 dalam komunikasi. Apa yang diucapkan dalam sebuah percakapan kurang penting dibandingkan dengan cara mengatakannya.

Lain padang lain belalang. Rumus Mehrabian di negeri kita belum tentu sepenuhnya cocok. Debat televisi kelihatannya belum begitu berpengaruh terhadap sikap pemilih. Sekurang-kurangnya belum ada lembaga survei independen yang secara khusus memotret sikap pemilih sebelum dan sesudah debat. Mungkin karena debat bukan dianggap sebagai ukuran kualitas kandidat. Atau, debat kandidat kita tak berpengaruh signifikan dalam membentuk sikap publik, karena peran yang sangat kuat dari kelompok pendukung fanatik.

Secara persentase, masa mengambang (swing voters) yang tak terikat dengan seorang kandidat, jumlahnya memang besar, tetapi swing voters tersebut umumnya semu. Mereka memang belum menentukan sikap dalam polling, bukan karena alasan program, tetapi lebih pada alasan lain.

Bagaimana dengan debat kandidat presiden 2014? Kita saksikan sajalah. Jangan kemana-mana.


kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 408 kali
sejak tanggal 02-06-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat