drh. Chaidir, MM | Politik Langkah Kuda | LANGKAH bidak kuda dalam permainan catur seringkali sulit diduga. Bila tidak diantisipasi dengan cermat, kuda lawan bisa menyulitkan bahkan mengobrak-abrik kubu pertahanan kita dan bisa membuat sang raja tumbang. Hal ini dimungkinkan karena bidak kuda bergerak seperti huruf L, yaitu memanjang dua pe
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Politik Langkah Kuda

Oleh : drh.chaidir, MM

LANGKAH bidak kuda dalam permainan catur seringkali sulit diduga. Bila tidak diantisipasi dengan cermat, kuda lawan bisa menyulitkan bahkan mengobrak-abrik kubu pertahanan kita dan bisa membuat sang raja tumbang. Hal ini dimungkinkan karena bidak kuda bergerak seperti huruf L, yaitu memanjang dua petak, melebar satu petak, bisa ke depan, ke samping maupun ke belakang. Kuda adalah satu-satunya bidak catur yang dapat melompati bidak lain.

Bidak kuda dalam permainan catur sangat lincah, dia bisa dengan mudah melompat kesana kemari. Karakter bidak kuda ini memang diadopsi dari kelincahan ternak kuda sungguhan. Kuda memiliki empat kaki yang panjang dan atletis, sehingga mudah melakukan akselerasi untuk berpacu lari cepat dan melompat dengan lincah. Bukankah harimau atau leopard bisa belari sangat kencang dan melompat jauh? Betul. Tetapi harimau bukan hewan ternak yang bisa ditunggangi oleh tuannya.

Kelincahan kuda ini sering jadi inspirasi dalam dunia politik. Apalagi dalam keadaan ketika dinamika politik berlangsung sangat tinggi seperti dalam proses penetapan capres dan cawapres pekan lalu. Maka tidak aneh judul berita banyak dikaitkan dengan politik langkah kuda. Beberapa judul tulisan atau berita dapat dengan mudah kita jumpai di media cetak dan online. "Menanti Langkah Kuda Hanura" (politik.kompasiana.com). "Golkar Harus Ambil Langkah Kuda" (jpnn.com). "Langkah Kuda Pendukung Jokowi" (gresnews.com). "Lobi Politik di Punggung Kuda" (indonesiasatu.kompas.com), dan lain-lain.

Setelah dua pasang capres dan cawapres definitif (pasangan Jokowi-JK dan pasangan Prabowo-Hatta), dan sudah lulus pula tes kesehatan, kita punya kesempatan sejenak menengok ke belakang untuk sekedar melihat jejak langkah parpol dan para petinggi parpol dalam menggolkan jagona masing-masing.

Pendukung Jokowi-JK, mungkin karena didukung oleh PDIP yang berlambang banteng, sebagai pengusung utama, tidak banyak memainkan politik langkah kuda. PDIP, PKB dan Nasdem dari awal kelihatannya sudah mantap sama-sama mengusung Jokowi-JK. Justru Hanura yang bergabung terakhir, sebelumnya sempat disebut memainkan politik langkah kuda, ketika Wiranto sebagai Ketum Hanura masih mencari-cari "PW" ("posisi wuenak"). Dengan perolehan suara dalam pileg hanya lima persen lebih, Hanura terpaksa memainkan langkah-langkah seperti permainan catur, setiap bidak memiliki peranan masing masing, semua bidak diperankan menjadi penentu kemenangan sebuah permainan, termasuk bidak kuda. Langkah kuda itu berhenti pada pasangan Jokowi-JK, tapi Wiranto harus kehilangan Hari Tanoe dan harus pula mengorbankan ambisinya untuk maju sebagai capres.

Partai Golkar sebagai pemenang kedua pileg 9 April dan dari awal sudah berencana mengusung Ketumnya Aburizal Bakri sebagai capres, beberapa kali terbaca publik dengan lincah melakukan lompatan kesana kemari untuk lobi-lobi politik tingkat tinggi dengan Prabowo, Megawati Soekarnoputri dan Presiden SBY selaku Ketum Partai Demokrat. Bahkan poros koalisi alternatif sempat mencuat antara Golkar-Demokrat-PKS. Pada waktu yang hampir bersamaan, publik menduga ARB akan membawa Golkar merapat ke Jokowi setelah pertemuan petinggi Golkar dengan petinggi PDIP terlihat mesra, tapi langkah kuda itu rupanya belum berhenti sampai di situ.

PKS juga piawai memainkan langkah-langkah bidak kuda. Agaknya, dari awal mereka sudah punya sikap akan merapat ke Prabowo-Hatta, tetapi dengan sengaja mereka tidak mau buru-buru tutup pintu. PKS paling jahi merebut ruang publik. Ingat langkah kuda PKS menjelang pemilu 2009 silam?

Sebagai bagian dari gerak langkah kuda dari sisi intelektual, PKS ketika itu (11/2008) mengundang Prof Frankgrove. Ahli komunikasi politik dari University of Wisconsin, AS itu akan memberikan perspektif politik global kemenangan Barack Obama dan implikasi strategisnya bagi Indonesia. Langkah berani PKS menjelang pileg 2009 itu bahkan ditandai dengan aksi mengundang keluarga mantan Presiden Soeharto, yakni Titiek Soeharto hadir dalam rekonsiliasi keluarga pahlawan. Langkah-langkah kuda PKS sulit ditebak.

Sekarang kita menunggu langkah-langkah kuda Jokowi-JK dan Parbowo-Hatta untuk memenangkan hati rakyat.


kolom - Better
Tulisan ini sudah di baca 548 kali
sejak tanggal 28-05-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat