drh. Chaidir, MM | Riau al-Munawwarah | BERGANTI nama dalam tradisi masyarakat pedalaman, bukanlah sesuatu yang tabu. Apalagi jika dirasa, nama yang disandang terlalu berat sehingga membawa akibat si empunya badan sering sakit-sakitan atau selalu tertimpa sial.

Mitos nama terlalu berat, masih belum hilang. Kadangkala, rasa frustrasi, b
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Riau al-Munawwarah

Oleh : drh.chaidir, MM

BERGANTI nama dalam tradisi masyarakat pedalaman, bukanlah sesuatu yang tabu. Apalagi jika dirasa, nama yang disandang terlalu berat sehingga membawa akibat si empunya badan sering sakit-sakitan atau selalu tertimpa sial.

Mitos nama terlalu berat, masih belum hilang. Kadangkala, rasa frustrasi, bingung dan putus asa menghadapi masalah yang tak habis-habisnya, penderitaan yang tak berkesudahan, kemiskinan yang tak berubah, nama dikambing hitamkan. Nama tak sesuai dengan badan sehingga masalah enggan menjauh. Padahal, tak ada sesuatu yang kurang termasuk mengirim segala bentuk do'a.

Bagaimana cara ganti nama? Mudah. Sembelih kerbau, umumkan pergantian nama, habis perkara. Dalam perspektif masyarakat modern, ganti nama memerlukan keputusan pengadilan. Dan itu tak sulit. Dengan atau tanpa "markus" (makelar kasus) atau "marlan" (mafia peradilan), keputusan ganti nama bisa cepat diperoleh. Lengkapi saja persyaratannya, habislah perkara. Ganti nama tak serumit Ganti Hati-nya Dahlan Iskan, yang salah-salah bisa mati dengan muka hitam.

Apalah artinya sebuah nama, kata orang Inggris. Tapi nama, dalam logika, adalah suatu ungkapan yang menunjukkan sebuah objek, dalam arti luas, sebagai segala sesuatu yang dapat kita sebut dan bukan hanya sebagai suatu objek material. Denotata dari sebuah kata merupakan objek yang ditunjukkan kata itu. Arti istilah itu adalah ciri yang diungkapkan oleh istilah itu (Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Gramedia, 2002).

Tokoh muda Riau, Rusli Effendi, bikin heboh. Rusli menggagas penggantian nama Riau menjadi Riau Al-Munawwarah. Pancaran pemikiran itu berawal dari ungkapan Gubernur Riau Rusli Zainal yang sering menyebut Riau Cemerlang, Gemilang dan Terbilang. Tak tanggung-tanggung, Riau Al-Munawwarah disebut diadopsi dari apa yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika hijrah dari Mekkah ke Yatsrib. Rasulullah mengganti nama Yatsrib menjadi Madinatul Munawwarah (Madinah), yang berarti Kota yang Penuh Cahaya.

Sesungguhnya, istilah Riau Cemerlang, Gemilang dan Terbilang, tidak juga genuine. Tapi diadopsi dari Manifesto Barisan Nasional (BN) Malaysia yang dipimpin oleh Abdullah Badawi dalam kampanye Pemilu Malaysia 2004. Abdullah Badawi menggunakan jargon "Tiga Lang" (Malaysia Cemerlang, Gemilang dan Terbilang). Tapi tak apalah. Malaysia tentu tak keberatan jargon itu diadopsi saudaranya di negeri jiran, apalagi setelah dipimpin Abdullah Badawi, dalam pemilu berikutnya BN mengalami kekalahan teruk. Pemimpin BN yang baru - Tan Sri Najib Razak - sekaligus Perdana Menteri Malaysia, tak lagi menggunakan jargon "Tiga Lang" tapi menggantinya dengan "Malaysia One".

Berganti nama bukan dosa. Apalagi nama yang digagas itu bagus. Tapi masalahnya, pakaian dengan merek terbilang (branded), takkan mampu menyembunyikan wajah asli. Sebaliknya, pakaian sederhana takkan mampu menutupi pancaran kebaikan. Pakaian eksklusif hanya akan membuat jarak. Kaya anugerah dan simbol idealnya diiringi dengan kaya substansi. Tak bergelar pendekar sang pendekar bila tak pendekar. Kepemimpinan memang selalu dituntut untuk mampu membedakan mana yang urgen dan mana yang penting.

kolom - Riau Pos 27 Desember 2009
Tulisan ini sudah di baca 1317 kali
sejak tanggal 27-12-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat