drh. Chaidir, MM | Jantan Kebiri | SEORANG pria bule mendatangi seorang dokter.
Bule:
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Jantan Kebiri

Oleh : drh.chaidir, MM

SEORANG pria bule mendatangi seorang dokter.
Bule: "Dokter, aku ingin dikebiri."
Dokter : "Apa? Beneran? Gak nyesel?" Bule: "Aku ingin dikebiri!" "Semua usaha bisnisku sukses," lanjut sang bule dengan bahasa Indonesia patah-patah, "tapi nafsu seksku telah hilang. Karena itu aku ingin dikebiri..."
Awalnya dokter ragu, tapi karena didesak, kebiri pun dilakukan. Dan sukses.

Sebulan kemudian, saat sang dokter di suatu tempat, mendengar dua orang pengusaha bercakap-bercakap, salah seorang diantaranya sang bule yang minta dikebiri itu. "Apa kamu percaya," kata salah seorang, "kalau orang yang disunat itu daya seksnya akan bertambah?"
"Apaan...bull*** (bercarut)...gara-gara itulah malapetaka menimpaku." Maki sang bule pada dirinya sendiri.
"Lho kenapa?"
"Harusnya aku bilang minta disunat kepada dokter itu, bukan minta dikebiri.."
"Hah..???!!!!!" (Dielaborasi dari Pusat Humor Indonesia).

Istilah kebiri mencuat dalam sepekan terakhir ini setelah menjadi topik hangat dalam rakor di Jakarta, Rabu (14/5), pekan lalu. Seperti diberitakan bebagai media, dalam rakor yang dipimpin langsung Presiden SBY itu, Menkes Nafsiah Mboi mengusulkan hukuman kebiri bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak-anak. Para pelaku dikebiri saja supaya libido alias hasrat seksnya hilang. Sehingga sedikit pun mereka tak akan tergiur melihat artis-artis seksi berlenggak lenggok di depannya. Gayung bersambut, Menteri Sosial, Salim Segaf Al Jufri, sepakat. Kak Seto pun mendukung.

Dua hal terbayang. Pertama, dalam konotasi positif, kebiri lumrah dalam dunia kehewanan. Pada kucing atau anjing jantan misalnya, kebiri dimaksudkan agar hewan piaraan lebih jinak dan tak repot mengurusnya ketika musim kawin. Pada peternakan sapi, kambing atau babi, kebiri dilakukan agar ternak tersebut cepat gemuk, kualitas dagingnya lebih bagus, lebih jinak, dan tidak ada hasrat mengawini hewan betina. Sebab untuk urusan yang terakhir ini, hanya boleh dilakukan pejantan unggul saja atau melalui kawin suntik. Kebiri pada hewan, yang dibuang biasanya hanya bijinya.

Kedua, dalam konotasi negatif, kebiri sudah dikenal 4000 tahun silam; dilakukan terhadap orang sebagai hukuman, atau agar budak hamba sahaya tidak memiliki hasrat seksual terhadap permaisuri atau putri-putri raja. Mereka yang dikebiri di zaman kuno ini, umumnya budak belian lelaki, perangkat biologisnya (biji dan batangnya, maaf) dipotong habis. Praktik ini tentu saja sangat berbahaya dan kerap mengakibatkan kematian. Di Tiongkok kuno, konon di samping bentuk hukuman, pengebirian juga sarana untuk mendapatkan pekerjaan di kalangan istana kaisar. Bahkan ada pula yang bangga anaknya menjadi kasim (orang yang dikebiri) karena diterima bekerja di dalam istana. Ketika Dinasti Ming berakhir tahun 1644, konon tercatat ada 70 ribu orang kasim di istana kaisar.


kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 538 kali
sejak tanggal 19-05-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat