drh. Chaidir, MM | Koalisi Tapa Mayoritas | HASIL perolehan suara pemilu legislatif 9 April 2014, gambaran mandat rakyat terhadap masing-masing partai politik, resmi diumumkan oleh KPU. Sepuluh partai politik lolos ambang batas parlemen 3,5 persen, sedangkan dua partai lainnya tidak lolos, yakni PBB dan PKPI.

Bila jumlah partai di parlemen
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Koalisi Tapa Mayoritas

Oleh : drh.chaidir, MM

HASIL perolehan suara pemilu legislatif 9 April 2014, gambaran mandat rakyat terhadap masing-masing partai politik, resmi diumumkan oleh KPU. Sepuluh partai politik lolos ambang batas parlemen 3,5 persen, sedangkan dua partai lainnya tidak lolos, yakni PBB dan PKPI.

Bila jumlah partai di parlemen jadi ukuran stabilitas pemerintahan presidensial, maka siapapun yang akan terpilih jadi Presiden RI lima tahun ke depan, bisa dipastikan tidak akan kalah repot dibanding Presiden SBY. Sebab dengan sembilan parpol di parlemen (2009-2014), Presiden SBY sudah cukup repot mengurus pemerintahan, apatah lagi sekarang dengan sepuluh parpol (2014-2019).

Koalisi partai politik di parlemen sedikit banyak akan memberi gambaran stabilitas politik dan pemerintahan. Sampai saat ini, koalisi yang mendekati final baru koalisi PDIP (18,95 persen), PKB (9,04 persen) dan Partai Nasdem (6,72 persen), total 34,71 persen. Koalisi lain yang mendekati final adalah koalisi Partai Gerindra (11,81 persen), PPP (6,53 persen), PAN (7,57 persen) dan PKS (6,79 persen), total 32,70 persen.

Koalisi tandingan yang masih mungkin terbentuk adalah koalisi antara Partai Golkar (14,75 persen), Partai Demokrat (10,19 persen), Dan Partai Hanura (5,26 persen), total 30,2 persen. Tiga partai ini, kendati sudah saling melakukan pendekatan dengan koalisi pertama dan kedua, tapi masih jinak-jinak merpati. Semua masih menyembunyikan udang di balik batu. Adagium kuno politik, tak ada kawan dan lawan yang abadi, tetap belum basi.

Atau adakah kemungkinan Partai Golkar atau Partai Demokrat atau Partai Hanura akan menjadi penumpang terakhir untuk dua skenario poros koalisi yang disebut pertama? Partai Hanura misalnya, secara pragmatis pernah diungkapkan oleh Ketua Umumnya Wiranto, mereka ingin berada dalam struktur pemerintahan. Bagaimana dengan Partai Golkar? Sebagai pemenang peringkat kedua pemilu legislatif 2014, partai ini terlalu besar untuk mengambil posisi sebagai penumpang last minute (penumpang menit terakhir alias daripada tidak memperoleh tumpangan). Tentu saja tragis bila posisinya demikian. Partai Golkar rasanya tidak akan mengambil posisi penumpang terakhir, partai ini sarat dengan nama besar para kadernya. Tapi opsi nampaknya tak lagi banyak. Bila harus menumpang juga, maka yang paling elegan tentulah bergabung ke peringkat pertama.

Bagaimana dengan Partai Demokrat? Sebagai pemimpin koalisi besar pada periode 2009-2014 (Partai Demokrat 20,85 persen, Partai Golkar 14,45 persen, PKS 7,88 persen, PAN 6,01 persen, PPP 5,32 persen dan PKB 4,94 persen, total 59,45 persen), Partai Demokrat kelihatannya paling santai menghadapi diskursus koalisi 2014. Rasanya, Partai Demokrat akan lebih memilih posisi di luar pemerintahan daripada menjadi penumpang terakhir dalam poros koalisi yang sudah mulai mengerucut. Itu akan lebih terhormat bagi Partai Demokrat.

Distribusi perolehan suara partai politik dalam pileg 2014 ini menunjukkan kekuatan yang relatif berimbang. Kemenangan PDIP (18,95 persen) jauh dari prediksi sebelumnya (minimal sama dengan kemenangan dalam pemilu 1999 yakni 33,74 persen), apalagi mereka sudah bersusah payah memposisikan diri sebagai oposisi pemerintah dalam periode 2009-2014. Beberapa pengamat menyebut, capres Jokowi juga ikut memberi kontribusi pada kemenangan PDIP 2014 walaupun tidak memiliki daya ungkit besar. Kenyataannya, kemenangan PDIP 2014 ini masih di bawah kemenangan Partai Golkar pada Pemilu 2004 (21,58 persen) atau kemenangan Partai Demokrat pada 2009 (20,85 persen).

Yang agak merisaukan, belum ada koalisi yang memperoleh mayoritas di parlemen, baik poros PDIP maupun poros Gerindra, demikian juga bila ada poros alternatif. Koalisi mayoritas saja (2009-2014) sudah repot, apalagi tak ada koalisi mayoritas. Galaw.com.


kolom - Better
Tulisan ini sudah di baca 408 kali
sejak tanggal 14-05-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat