drh. Chaidir, MM | Bonus Demografi | LUPAKAN sejenak sorak-sorai politik yang memekakkan telinga. Sorak-sorai itu tak akan menyelesaikan masalah. Kita tak ubahnya sepantun burung murai, sibuk berkicau kian kemari, tapi lupa bikin sarang. Lihatlah burung tempua, mereka tak pandai berkicau tapi piawai bikin sarang yang cantik.

Tahukah
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Bonus Demografi

Oleh : drh.chaidir, MM

LUPAKAN sejenak sorak-sorai politik yang memekakkan telinga. Sorak-sorai itu tak akan menyelesaikan masalah. Kita tak ubahnya sepantun burung murai, sibuk berkicau kian kemari, tapi lupa bikin sarang. Lihatlah burung tempua, mereka tak pandai berkicau tapi piawai bikin sarang yang cantik.

Tahukah kita apa yang terjadi hari ini, sepuluh atau duapuluh tahun yang lampau? Duapuluh tahun yang lampau, hari ini (duapuluh tahun kemudian) adalah sesuatu yang tak bisa diprediksi dengan pasti. Andai kita bisa memprediksi dengan tepat, dulu kita akan buat kebun sawit. Atau sejak dulu kita sudah beli tanah murah di tepi kota. Atau sejak dulu kita sudah kuliah sampai ke jenjang S3. Atau sejak dulu kita sudah belajar bahasa Inggris atau bahasa China. Tapi kita tidak mampu memprediksi dengan tepat. Kesadaran itu baru muncul hari ini.

Tapi dunia belum kiamat. Kita optimis saja bahwa kita akan hidup seribu tahun lagi seperti ungkapan penyair Chairil Anwar. Maka pandanglah ke depan, arahkan teropong pada era pasca 2020 nanti (tak ada kaitannya dengan Visi Riau 2020).

Menurut para ahli, daya dukung planet bumi yang kita huni sekarang, hanya untuk empat milyar manusia. Hal itu dikaitkan dengan ketersediaan air minum, makanan, energi, oksigen, ketersediaan ruang, dan berbagai keperluan dasar lainnya. Tapi apa boleh buat tahun 2012 saja penduduk bumi sudah tercatat enam milyar. Artinya sudah melebihi kapasitas. Ibarat perahu, planet bumi ini sudah terlalu sarat penumpang. Atau analoginya kira-kira sama dengan penjara yang hanya memiliki kapasitas 400 orang tapi diisi dengan 600 orang tahanan. Ruangannya pasti sumpek sekali dan sama sekali tidak nyaman.

Bagaimana dengan negeri kita? Pada 2045 seabad Indonesia merdeka, jumlah penduduk kita berkisar 317 juta orang. Pada era 2020-2030 diprediksi jumlah usia angkatan kerja (usia 15-64 tahun) akan mencapai 70 persen atau sekitar 180 juta orang (ini produktif). Sisanya, 30 persen, adalah penduduk yang tidak produktif (di bawah usia 15 tahun dan diatas usia 65 tahun), atau sekitar 60 juta orang (dan ini nonproduktif).

Lebih besarnya kelompok usia produktif (70 persen) dipanding non produktif (30 persen), disebut bonus demografi. Gambaran penduduk seperti itu, merupakan berkah bagi sebuah negeri. Melimpahnya jumlah penduduk usia kerja akan menguntungkan dari sisi pembangunan sehingga dapat memacu pertumbuhan ekonomi ke tingkat yang lebih tinggi. Kesejahteraan masyarakat akan meningkat secara keseluruhan. Jumlah penduduk yang menjadi tanggungan (kelompok non produktif) jumlahnya jauh lebih sedikit daripada penduduk yang produktif.

Namun berkah bonus demografi ini bisa berbalik menjadi bencana jika bonus ini tidak disambut dan diantisipasi secara baik. Masalah yang paling nyata adalah ketersedian lapangan pekerjaan. Mampukah negara kita menyediakan lapangan pekerjaan untuk menampung 70% penduduk usia kerja di tahun 2020-2030 itu? Kalau pun lapangan pekerjaan tersedia, muncul pertanyaan lain, mampukah sumber daya manusia yang melimpah ini (bonus demografi) bersaing di dunia kerja dan pasar internasional?

Usia produktif yang tidak berkualitas tidak hanya tidak mampu bersaing, mereka bahkan akan jadi beban. Padahal mau tidak mau, setuju atau tidak setuju kita akan terjun di era bonus demografi itu, sebuah lingkungan yang menawarkan persaingan ketat, lingkungan yang berbasis ilmu pengetahuan dan IT, dan masyarakat modern yang menuntut profesionalisme.

Kenyataannya, kita belum mampu membaca dan merebut peluang. Tenaga muda kita masih PNS minded. Padahal formasi PNS sangat terbatas. Sektor wirausaha yang menawarkan banyak peluang dianggap terlalu kompetitif atau telalu kejam. Sesungguhnya, pelaku wirausaha (yang disebut backbone of economy) baru 0,2% dari 240 juta penduduk, idealnya menurut Mc Clelland 2% (bandingkan dengan Singapura 7,2%, Malaysia 2,1%, Thailand 4,1%, Korsel 4,0%, atau AS 11,5%). Artinya, ada ruang besar yang tersedia.

Era 2020-2030 itu adalah juga era globalisasi. Menurut Selo Sumardjan, budaya yang kuat dan agresif dalam era globalisasi akan mempengaruhi budaya yang lemah dan pasif. Budaya yang kuat dan agresif itu mempunyai ciri-ciri cara berfikir yang rasional dan realistis, kebiasaan membaca yang tinggi, menyerap dan mengembangkan iptek (tidak gaptek), inovatif, dan berwawasan luas.

Tak ada pilihan lain, kita harus melakukan transformasi ( mengubah pola pikir dengan budaya produktif) bila ingin merebut bonus demografi tersebut. Kalau tidak, kita akan hanyut.


kolom - Harian Vokal
Tulisan ini sudah di baca 12664 kali
sejak tanggal 13-05-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat