drh. Chaidir, MM | Kepemimpinan Otokratis atau Demokratis | SATU antena tinggi rasanya tak lagi memadai dalam pekan-pekan terakhir ini. Perlu antena yang lebih tinggi dan dan lebih canggih. Berbagai informasi bergerak cepat terutama informasi tentang capres semakin hari semakin berjibun dan banal. Propaganda kontra propaganda, isu kontra isu, perang urat sya
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Kepemimpinan Otokratis atau Demokratis

Oleh : drh.chaidir, MM

SATU antena tinggi rasanya tak lagi memadai dalam pekan-pekan terakhir ini. Perlu antena yang lebih tinggi dan dan lebih canggih. Berbagai informasi bergerak cepat terutama informasi tentang capres semakin hari semakin berjibun dan banal. Propaganda kontra propaganda, isu kontra isu, perang urat syaraf kontra perang urat syaraf tak lagi terhindarkan.

Kendati belum ada kepastian siapa yang bakal tampil sebagai capres atau cawapres, karena koalisi resmi partai politik belum terbentuk untuk memenuhi ketentuan presidential threshold, namun ada dua kubu yang meramaikan pemberitaan seakan sudah berhadap-hadapan satu sama lain. Kubu pertama adalah kubu Jokowi yang diusung oleh PDIP, kubu kedua adalah kubu Prabowo yang didukung oleh Gerindra. Kedua tokoh tersebut terlihat pede, padahal menurut UU No 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, seandainya PDIP atau Gerindra gagal membangun koalisi dengan parpol lainnya peserta pemilu legislatif 2014, maka kedua jago tersebut akan gagal maju sebagai capres.

Sebab, untuk dapat mengajukan pasangan capres dan cawapres, partai politik atau gabungan partai politik harus memperoleh minimal 20 persen kursi DPR atau mendapat suara sah secara nasional 25 persen dalam pemilu legislatif 9 April 2014. Masalahnya, baik PDIP maupun Gerindra kelihatannya belum memenuhi persyaratan tersebut. Yang paling mendekati Presidential Threshold adalah PDIP. Bisakah PDIP memperoleh kursi minimal 20 persen di DPR? Kalau suara sah jelas sudah tidak mencukupi.

Tapi siapapun yang akan tampil sebaga capres dan cawapres, bangsa kita memerlukan kehadiran seorang pemimpin. Penyair Yunani Kuno Euripides (406 SM) menyebut betapa pentingnya seorang pemimpin. "Sepuluh serdadu yang dipimpin dengan bijak dapat mengalahkan seratus serdadu musuh yang tidak punya pemimpin." Demikian pentingnya keberadaan pemimpin dan kepemimpinan, sehingga ada yg berpendapat secara ekstrim (dan agak ngawur), keberadaan pemimpin yang zalim masih lebih baik ketimbang masyarakat tanpa pemimpin.

Munculnya Jokowi dan Prabowo, menghidangkan kepada masyarakat dua menu yang terlihat beda (barangkali rasanya juga beda). Dalam perjalanannya kepemimpinannya, Jokowi memberi gambaran tipologi kepemimpinan demokratis, di seberangnya, perjalanan kepemimpinan Prabowo Subianto memberi pula gambaran tipologi kepemimpinan otokratis. Tapi sesungguhnya, tidaklah hitam putih demikian. Sebab dalam realitas organisatoris, menurut Fremon E. Kast dan James E. Rsenzweig: Tidak ada satu pendekatan (kepemimpinan) terbaik untuk segala macam organisasi, semuanya tergantung pada sang pemimpin, pengikut dan situasi (.."there is no one best way to lead, it all depends. Its depend on the leader, the follower, and situation the nature of the task, the authority relationship, and the group dynamics.") Sebab, setiap organisasi memiliki ciri khusus dan selalu unik. Beda situasi harus dihadapi dengan perilaku kepemimpinan yang berbeda pula. Inilah yang disebut oleh para ahli sebagai kepemimpinan dengan pendekatan situasional (Contingency Approuch).

Kedua gaya kepemimpian tersebut (otokratis dan demokratis) masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan kepemimpinan gaya otokratis adalah berupa kecepatan dan ketegasan dalam pembuatan keputusan dan cara bertindak, sehingga memungkinkan dapat meningkatkan produktivitas. Kelemahannya, menimbulkan suasana kaku, tegang, mencekam, menakutkan sehingga dapat menimbulkan ketidakpuasan. Agarwal dalam buku Organization and Management (1982) menyebut, kepemimpinan otoriter dapat merusak moral, meniadakan inisiatif, menimbulkan permusuhan, agresivitas, keluhan, absen, pindah, dan perasaan tidak puas.

Sebaliknya, kelebihan kepemimpinan gaya demokratis, kualitas hasil lebih baik, masalah manusia sedikit, lebih obyektif, tumbuh rasa ikut memiliki, moral tinggi, menumbuhkan prakarsa dalam organisasi, masalah yang timbul diatasi bersama dgn penuh tanggung jawab.

Kelemahannya, lambat dalam pembuatan keputusan dan lambat dalam bertindak sehingga mungkin output tidak setinggi gaya otokratis. Rasa tanggung jawab kurang, keputusan yang diambil bisa merupakan bukan keputusan terbaik.

Tidak ada seseorang yang dapat menjadi pemimpin yang berhasil dengan hanya menerapkan satu macam gaya kepemimpinan untuk segala situasi. Perilaku pemimpin yang tegas, keras, melakukan kontrol dengan ketat, mengharuskan tugas selesai dengan cepat dan benar, menginginkan produksi naik, yang memberikan sanksi kepada pegawai yang bersalah, yang berusaha sekuat tenaga mendisiplinkan pegawai, tidak selalu pemimpin tersebut otoriter. Sebaliknya pemimpin yang demokratis tidak selalu hanya berarti melakukan hubungan baik dengan pegawai, memperhatikan perasaan pegawai, memenuhi kebutuhan, mengikutsertakan pegawai dalam pembuatan keputusan, mengontrol dengan longgar, sabar, mendiamkan pelanggaran, tidak memberi teguran.

Fleisman dan Harris menemukan dalam penelitiannya, bahwa keluhan yang timbul dari para pegawai sangat sedikit apabila pemimpin sekaligus bergaya otokratis dan demokratis dengan derajat yang sama-sama tinggi. Sebaliknya sangat banyak keluhan apabila kedua perilaku kepemimpinan itu berada pada derajat yang sama-sama rendah.


kolom - Harian Vokal
Tulisan ini sudah di baca 873 kali
sejak tanggal 06-05-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat