drh. Chaidir, MM | Robin Hood | SEORANG sejarawan pengembara dan ahli geografi, Abul Hasan Ali ibn Husain al-Mas'udi, wafat pada 957 Masehi. Tapi dia meninggalkan kata-kata bijak yang melintasi zaman.
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Robin Hood

Oleh : drh.chaidir, MM

SEORANG sejarawan pengembara dan ahli geografi, Abul Hasan Ali ibn Husain al-Mas'udi, wafat pada 957 Masehi. Tapi dia meninggalkan kata-kata bijak yang melintasi zaman. "Keadilan adalah timbangan yang ditegakkan diantara manusia. Tuhan menegakkannya, raja mengawasinya."

Alur pikirnya, kekuatan kedaulatan hanya terpenuhi melalui peraturan agama. Agama hanya akan tegak melalui kedaulatan. Dan kedaulatan tidak akan kuat kecuali melalui orang-orang yang kuat. Manusia baru tegak dengan dukungan harta. Harta tidak bisa diperoleh kecuali lewat pengelolaan. Dan pengelolaan baru berkembang bila keadilan tegak. Begitu ditulis A. Suryana Sudrajat (2000) dalam bukunya Tasawuf & Politik, Menerjemahkan Religiusitas dalam Hidup Seharihari.

Keadilan adalah kata kunci dalam manajemen pemerintahan, ketika pemimpin - pada level apapun - harus menggerakkan organisasi yang dipimpinnya secara efektif mencapai tujuan kesejahteraan bermartabat yang telah ditetapkan. Ada organisasi sekelas RT/RW, ada organisasi yang bernama dinas, badan, departemen, kabupaten, kota, provinsi, bahkan Negara. Tanpa keadilan hukum rimba akan berlaku, siapa yang kuat dia menang, atau dalam situasi dan kondisi lain, siapa yang punya uang dia akan menang. Orang Medan mengungkapkannya secara tepat, "hepeng na mangatur Negara on."

Di sinilah simpul penyebab karut marutnya kehidupan kita berbangsa dan bermasyarakat dewasa ini. Penegakan hukum di mata awam terjebak dalam logika-logika yang sulit dipahami. Akal sehat jungkir balik bila berhadapan dengan pembelokan-pembelokan. Akibatnya rasa keadilan yang sesungguhnya sederhana dan mudah dibaca, menjadi buram. Siapa yang merasa tidak adil? Nenek tua yang mencuri tiga buah coklat dengan maksud untuk bibit yang dihukum tiga bulan penjara itu? Atau Prita yang dibebaskan dari perkara perdata tapi tidak di perkara pidana? Atau Bibit-Chandra, atau Anggodo? Atau Williardi Wizard? Atau siapa?

Di tengah masyarakat yang gundah gulana itulah kita berada dan memasuki tahun baru Hijrah, 1 Muharram 1431. Beberapa hari menjelang, muncul pula fajar tahun baru Masehi 1 Januari 2010. Tahun baru selalu menjadi momentum untuk mengajukan pertanyaan kontemplatif, adakah harapan baru ke depan?

Kita kadang kurang memahami kondisi psikologis perubahan yang menyelimuti, seperti apa yang diungkapkan Rowan Gibson, bahwa masa depan bukan kelanjutan dari masa lalu. Kita harus mengubah mindset lama dan membuat konstruksi mindset baru. Dari pola pikir linier menjadi pola pikir nonlinier dan multilinier. Melanjutkan program pengentasan kemiskinan misalnya, kendati bungkusannya sama, tetapi lingkungannya sudah berubah, persepsi berubah, demikian pula suasana batin para pengelolanya.

Adakah kita memerlukan Robin Hood, legenda Inggris yang hidup di abad pertengahan itu? Robin Hood punya logika liar tentang keadilan. Untuk menolong orang miskin, dia beserta pengikutnya merampok orang kaya dan membagikannya kepada orang miskin. Tentu tidak demikian. Di negeri gemah ripah ini, orang yang baik tetap lebih banyak. Tidak ada alasan untuk tidak optimis. Pesan Nurcholish Madjid agaknya tepat. Alangkah sempitnya hidup ini jika tidak karena lapangnya harapan.

kolom - Riau Pos 20 Desember 2009
Tulisan ini sudah di baca 1608 kali
sejak tanggal 20-11-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat