drh. Chaidir, MM | Ilmu Padi | DIMAS Dikita Handoko (20), mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara yang tewas dianiaya senior-seniornya (25/4) beberapa hari lalu,  menambah panjang daftar kematian sia-sia anak muda kita.

Kekonyolan demi kekonyolan kembali terulang, terulang dan
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Ilmu Padi

Oleh : drh.chaidir, MM

DIMAS Dikita Handoko (20), mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara yang tewas dianiaya senior-seniornya (25/4) beberapa hari lalu, menambah panjang daftar kematian sia-sia anak muda kita.

Kekonyolan demi kekonyolan kembali terulang, terulang dan terulang. Masyarakat kita seakan tak pernah pandai belajar dari pengalaman. Padahal kita memahami sebuah ungkapan klasik, bahkan keledai pun tak akan pernah terperosok ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya. Tapi kenapa peristiwa tragis seperti nasib yang dialami Dimas kembali terulang? Kita sudah bukan sekali dua disuguhi berita yang menyedihkan dan menyesakkan dada seperti itu, baik ketika masa perpeloncoan maupun pasca perpeloncoan, yunior jadi bulan-bulanan sang senior, bahkan sampai tewas. Bukankah yunior itu juga manusia? Bukankah sang senior juga manusia, yang mestinya punya akal budi?

Siapapun orangtua yang memiliki anak remaja, pasti berempati terhadap nasib malang yang menimpa keluarga Dimas. Bersama Dimas kini terkubur cinta dan kerinduan orangtua dan saudara-saudaranya, masa depan dan juga hilangnya sebuah harapan. Kemana raibnya akal budi mahasiswa-mahasiswa senior (intelektual muda) yang melakukan penganiayaan itu? Yunior adik-adik tingkat atau angkatan itu mestinya punya hak untuk dibimbing dengan semangat kasih sayang dalam jaket almamater. Yunior itu bukan bawahan bodoh dan lemah yang boleh diperlakukan sewenang-wenang oleh senior-seniornya. Bahkan institusi militer pun tak memperlakuan yuniornya seperti itu. Yunior mungkin bodoh, mungkin salah, mungkin alpa, tapi tak ada hak senior untuk menghukum habis sang yunior, apapun alasannya.

Arogansi dan tindakan yang belebihan dari para senior yang sampai menimbulkan kematian yuniornya, baik akibat perpeloncoan maupun akibat "pembinaan" sepanjang tahun, tidak akan pernah cukup diganti dengan hukuman atau denda apapun. Seberat apapun hukumannya, tak akan pernah bisa menggantikan nyawa korban dan kesedihan keluarga yang ditinggalkan. Penyesalan yang mendalam para senior itu pun tak lagi ada gunanya. Pihak institusi pendidikan mungkin akan mengatakan, biarlah Dimas menjadi martir, kejadian yang sama tak boleh lagi terulang di kemudian hari.

Tapi ungkapan klise seperti itu sudah sering kita dengar. Setiap kali ada kecelakaan perpeloncoan atau kecelakaan "pembinaan" yang menyebabkan sang yunior tewas di sebuah institusi pendidikan, setiap kali kita mendengar biarlah itu menjadi kejadian terakhir, tak boleh lagi terulang. Para pakar pun tak habis-habisnya memberikan pandangan, praktik-praktik seperti itu tak boleh lagi dilakukan. Beberapa pengamat bahkan menyebut dengan ekstrim bahwa cara-cara perpeloncoan dan pembinaan seperti itu dungu dan tak beradab.

Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda, Jakarta Utara, tidak sendiri menggunakan cara pembinaan disiplin dan rasa cinta almamater seperti yang dilakukan oleh mahasiswa seniornya itu, ada juga institusi pendidikan lain. Yang menjadi pertanyaan bagi kita, mengapa banalitas senior itu terjadi? Bukankah rasa hormat tak selalu harus diperoleh dengan unjuk kekuatan atau kekuasaan? Ingatlah ilmu padi Pak Bro.


kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 395 kali
sejak tanggal 28-04-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat