drh. Chaidir, MM | Perempuan di Panggung Politik | PEREMPUAN  biasanya akrab dengan panggung dunia hiburan seperti panggung sinetron, panggung layar lebar, panggung opera, dan sebagainya. Panggung politik seakan tercipta untuk laki-laki. Anggapan tersebut terbentuk karena stigma politik selalu dikaitkan panggung kehidupan yang keras. Politik itu pen
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Perempuan di Panggung Politik

Oleh : drh.chaidir, MM

PEREMPUAN biasanya akrab dengan panggung dunia hiburan seperti panggung sinetron, panggung layar lebar, panggung opera, dan sebagainya. Panggung politik seakan tercipta untuk laki-laki. Anggapan tersebut terbentuk karena stigma politik selalu dikaitkan panggung kehidupan yang keras. Politik itu penuh dengan intrik, konflik, dan konspirasi. Politik kotor, politik itu jahat, politik itu tak ada etika.

Stigma tersebut tentu saja berhadap-hadapan dengan pencitraan perempuan sebagai makhluk yang lembut, feminin, ibu rumah tangga, tidak suka kekerasan dalam kehidupan sebagai bagian yang inheren dari praktik intrik, konflik, konspirasi, atau pertikaian pendapat. Perempuan tidak suka pada kejahatan, kehidupan yang kotor, dan perilaku yang tak beretika. Pada sisi lain pria sering menakut-nakuti perempuan, bahwa kultur politik itu maskulin.

Tetapi sesungguhnya, politik tidak mengenal jenis kelamin. Laki-laki atau perempuan sama saja. Tak ada larangan bagi perempuan untuk terjun ke panggung politik. Namun adalah sebuah kenyataan sejarah, panggung politik sering didominasi oleh pria. Aktor politik perempuan seringkali berada dalam posisi yang sulit untuk berjuang melawan dominasi politisi pria. Untuk sukses di panggung politik, politisi perempuan harus selalu siap tempur membuktikan bahwa mereka pantas dan bisa diandalkan. Politisi perempuan harus mampu menyelesaikan lebih banyak dan lebih baik dari kerja-kerja politik yang dilakukan oleh politisi pria.

Kunci keberhasilan politisi perempuan dipanggung politik adalah menjadi orang yang bisa diandalkan. Susahnya, tidak ada model peran politik bagi seorang perempuan. Di samping itu beberapa kajian menyebut, minimnya keterwakilan perempuan di bidang politik bukan semata-mata kesalahan sistem partai politik (parpol). Namun lebih dikarenakan minimnya partisipasi atau ketertarikan kaum hawa masuk ke dunia politik.

Keengganan berpolitik bagi perempuan bisa disebabkan banyak faktor, semisal urusan rumah tangga, lebih memilih berkarir di dunia usaha (niaga). Atau juga karena lemahnya SDM akibat program pengarusutamaan gender yang terabaikan dalam kurun waktu yang lama. Dalam Pemilu 2014 bangsa kita menerapkan sebuah kebijakan afirmatif yang mewajibkan setiap parpol peserta pemilu mengajukan caleg perempuan sekurang-kurangnya 30 persen.

Keterwakilan perempuan 30 persen dalam politik sampai pemilu 2009 memang belum dapat dipenuhi. Tercatat dari pemilu ke pemilu anggota perempuan di parlemen tidak pernah mencapai kuota, tahun 1999 hanya 9,2 persen atau 46 orang dari total jumlah anggota. Tahun 2004, proporsinya meningkat jadi 11,81 persen atau 61 orang. Peningkatan cukup besar terjadi pada Pemilu 2009, yakni 18 persen atau 103 orang. Bagaimana hasil pemilu 2014, apakah memberikan keterwakilan yang lebih besar bagi politisi perempuan? Kita masih harus bersabar menunggu sampai KPU selesai melakukan penghitungan suara dan menetapkan caleg terpilih.

Penetapan caleg perempuan tepilih pekan ini bersamaan dengan momentum peringatan Hari Kartini 2014. Dalam konteks sejarah perjuangan perempuan di tanah air, RA Kartini menjadi ikon yang diperingati setiap tahun di negeri ini. Namun, hendaknya itu bukan sekadar momen seremonial belaka. Di tengah riuh suara politik lelaki yang mengisi ruang politik, semestinya kekuatan politik perempuan mampu unjuk kepedulian dalam memerjuangkan ribuan, bahkan jutaan perempuan yang kelam masa depannya.

Politisi perempuan tidak perlu merasa jadul untuk belajar dari RA Kartini. Visi besarnya mendirikan sekolah agar kaum perempuan bisa menikmati pendidikan merupakan gagasan cemerlang pada masanya dan masih relevan sampai sekarang. RA Kartini jangan hanya dipandang dari satu sudut pandang sebagai seorang perempuan Jawa yang santun dan lemah lembut. RA Kartini memiliki kepekaan politik yang luar biasa. Dalam beberapa literatur, RA Kartini berkali-kali menulis surat kepada sahabatnya di Belanda. Surat-surat tersebut ternyata merupakan strategi RA Kartini untuk mempublikasikan keprihatinannya tentang kondisi perempuan di Indonesia ketika itu dan pandangannya ke depan.

Seorang politisi perempuan di panggung politik harus memiliki visi besar, ide brilian dan gagasan yang cemerlang, kreatif dan atraktif. Sebab, tanpa itu semua maka politisi perempuan hanya akan menjadi pemain figuran, pelengkap panggung untuk memenuhi kuota semata. Politisi perempuan bisa menjadi pemeran utama.


kolom - Harian Vokal
Tulisan ini sudah di baca 503 kali
sejak tanggal 22-04-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat