drh. Chaidir, MM | Menanti Aksi Kartini | PANGGUNG pemilu 2014 tak hanya mempertontonkan adegan kompetisi ketat antar partai dan caleg dalam satu partai, tapi juga mempertontonkan geliat  pertunjukan politisi perempuan.  Panggung kampanye meriah dengan busana modis,  jilbab warna-warni dan harum bunga mawar. Tak mau kalah  dengan politisi p
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Menanti Aksi Kartini

Oleh : drh.chaidir, MM

PANGGUNG pemilu 2014 tak hanya mempertontonkan adegan kompetisi ketat antar partai dan caleg dalam satu partai, tapi juga mempertontonkan geliat pertunjukan politisi perempuan. Panggung kampanye meriah dengan busana modis, jilbab warna-warni dan harum bunga mawar. Tak mau kalah dengan politisi pria, politisi perempuan pun tak segan-segan dan tak kenal lelah hilir-mudik blusukan keluar masuk desa dengan kaki berlumpur. Baliho, poster dan spanduk dengan pose wajah-wajah cantik menarik menghiasi seluruh persimpangan jalan, sedap dipandang mata. Ahai...

Seiring kebijakan afirmatif yang mewajibkan partai politik peserta pemilu mengajukan caleg perempuan sekurang-kurang 30 persen, memang tak ada pilihan bagi parpol selain memenuhi kuota tersebut, setuju atau tak setuju, suka atau tak suka. Sesuai UU Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum anggota DPR, DPD dan DPRD, dan aturan-aturan pelaksanaan yang diterbitkan KPU, keterwakilan perempuan tersebut bahkan diatur lebih rinci. Caleg perempuan harus ada di setiap kelipatan tiga daftar caleg. Artinya, dalam daftar caleg mulai dari nomor urut 1-3 atau 4-6 harus ada caleg perempuannya.

Ikhtiar meningkatkan keterwakilan perempuan di panggung politik adalah sesuatu yang realistis, sebab 49,83 persen dari total populasi penduduk Indonesia (BPS, 2010) adalah perempuan. DPT Pemilu 2014 yang dirilis KPU juga mencatat beda tipis antara pemilih perempuan dan laki-laki (laki-laki 93.418.119, perempuan 93.151.087 pemilih). Tapi, pentingnya keterwakilan perempuan di panggung politik tidak hanya karena alasan perimbangan populasi. Lebih dari itu, perempuan memang harus dilibatkan secara langsung dengan persoalan-persoalan politik bangsa. Perempuan harus diberi kesempatan dalam pembuatan keputusan strategis.

Alasan pentingnya keterwakilan perempuan yang dikemukakan Judith Squires dalam bukunya Gender in Political Theory (2000), perlu dipahami. Menurut Profesor dari Inggris ini, ada tiga alasan mengapa kuota perempuan di parlemen penting. Pertama, akan menciptakan adanya women agency (seperti kaukus perempuan parlemen) yang dapat menjadi perpanjangan tangan perempuan dalam menyuarakan dan memperjuangkan regulasi yang sensitif jender pada arena pengambil kebijakan. Kedua, akan memastikan adanya kebijakan adil terhadap jender untuk memastikan bahwa prinsip-prinsip pengarusutamaan gender di integrasikan dalam tiap tahapan pengambilan kebijakan. Ketiga, dapat berpengaruh pada peningkatan jumlah perempuan di berbagai institusi pengambilan keputusan secara singkat sebagai tindakan khusus sementara (affirmative action seperti kuota 30 persen itu).

Kita belum tahu berapa jumlah politisi perempuan yang tepilih duduk di DPR dan di DPRD dalam pemilu 2014 ini. Partai manakah yang jadi juara dalam mengusung politisi perempuan? Peningkatan kuantitas dan kualitas politisi perempuan hasil pemilu 2014 akan menjadi kado manis Hari Kartini 2014 dan akan membuat arwah RA Kartini tersenyum di alam baka sana. Selanjutnya, nantikan aksi Kartini-Kartini kita itu di panggung politik. Jangan kemana-mana.


kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 382 kali
sejak tanggal 21-04-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat