drh. Chaidir, MM | Di Ambang Double Winner | PERTANDINGAN hidup-mati babak semi final Liga Champion Eropa yang mempertemukan empat besar, Real Madrid vs Bayern Munich dan Atletico Madrid vs Chelsea, sangat asosiatif dengan pertarungan empat besar partai politik dalam pemilu legislatif 2014 nun di sana di negeri nusantara.

Empat besar perole
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Di Ambang Double Winner

Oleh : drh.chaidir, MM

PERTANDINGAN hidup-mati babak semi final Liga Champion Eropa yang mempertemukan empat besar, Real Madrid vs Bayern Munich dan Atletico Madrid vs Chelsea, sangat asosiatif dengan pertarungan empat besar partai politik dalam pemilu legislatif 2014 nun di sana di negeri nusantara.

Empat besar perolehan suara pileg 2014 berdasarkan quick count sebagaimana dimuat media cetak, elektronik dan tersiar luas di jejaring media sosial, sepertinya tak akan berubah: PDIP (19 persen), Partai Golkar (15), Partai Gerindra (11,7) dan Partai Demokrat (9). Peluang untuk menyabet trofi kemenangan kedua (double winner seperti di sepakbola), tentulah pada PDIP. Sebab, bila hasil quick count tidak berubah, PDIP sudah memperoleh trofi pertama: memenangkan pileg 2014. Trofi kedua, memenangkan pilpres, peluang masih terbuka bagi semua calon. Siapapun nanti calonnya.

Dari empat besar klub yang bertanding dalam babak semi final Liga Champion tersebut juga baru satu klub yang sudah pasti merebut trofi pertama, yakni trofi Liga, yakni Bayern Munich yang sudah memastikan diri menjuarai Bundesliga Jerman, tiga klub lainnya belum aman. Atletico Madrid yang memuncaki klasemen sementara La Liga Spanyol, ditempel ketat oleh Real Madrid dan Barcelona. Kedua tim masih memiliki peluang untuk merebut trofi La Liga. Chelsea di Liga Premiere Inggris juga masih menghadapi tebing terjal. Lawannya, Liverpool dan Manchester City bahkan lebih berpeluang menjuarai Liga Inggris. Peluang terbaik tentu saja berada pada Liverpool yang kemarin malam membabat siangan beratnya, Manchester City 3-2.

Peluang terbesar untuk merebut double winner tentulah pada Bayern Munich, tinggal menambah satu lagi. Tetapi bukan berarti Atletico, Madrid dan Chelsea tak ada peluang. Bagaimana pun hanya satu klub saja yang akan memperoleh dua trofi.

Pada pileg 2014, peluang untuk merebut double winner itu kelihatannya sudah tertutup bagi Partai Golkar, Gerindra dan Demokrat. Peluang tiga partai tersebut tinggal hanya satu, yakni memenangkan trofi pilpres 9 Juli 2014. Hanya PDIP sajalah yang punya peluang untuk memperoleh dua trofi. Tapi bila PDIP tak bejuang ekstra all out dalam tempo dua bulan ke depan, maka trofi kedua yang sudah berada di depan mata akan hilang.

Pengalaman masa lalu mengingatkan, memenangkan pileg (1999) dengan kemenangan 33 persen lebih, tak membuat PDIP memenangkan kursi Presiden RI. Sistem pemilihan presiden ketika itu memang masih mengacu pada format lama, dipilih oleh MPR. Kegagalan PDIP melakukan komunikasi politik dengan partai-partai lain di MPR, terutama Poros Tengah, menyebabkan Capres Megawati Soekarnoputri, yang menjadi unggulan PDIP dikalahkan oleh Capres Abdurrahman Wahid (373 - 313 suara Anggota MPR). Megawati Soekarnoputri dalam pemilihan terpisah terpilih menjadi Wakil Presiden.

Megawati Soekarnoputri yang nota bene Ketua Umum PDIP, diangkat oleh MPR melalui Sidang Istimewa Tahun 2001 sebagai Presiden RI ke-5 menggantikan Presiden Abdurrahman Wahid. Maka sebenarnya sejak 2001, PDIP memenangkan double winner: memenangkan pileg 1999 dan memenangkan pilpres sejak 2001-2004.

Namun, menguasai eksekutif dan legislatif, tak jaminan bagi sebuah partai untuk memenangkan pileg dan pilpres berikutnya. Buktinya, dalam pileg 2004 PDIP dikalahkan oleh Partai Golkar sedangkan untuk pilpres, calon dari PDIP (Megawati Soekarnoputra) dikalahkan oleh calon dari Partai Demokrat (SBY).

Peluang terbesar untuk merebut dua trofi (double winner) kembali terbuka bagi PDIP pada 2014 ini. PDIP dengan cerdas mengajukan Jokowi sebagai capres hanya beberapa saat sebelum masa kampanye pileg 2014. Pencalonan Jokowi disambut antusias oleh masyarakat. Banyak pihak yang memperkirakan PDIP akan memenangkan pileg 2014 melebihi kemenangan pileg 1999. Kenyataannya, kemenangan PDIP hanya berkisar pada angka 19 persen. Betulkah Jokowi tak memiliki efek daya ungkit terhadap perolehan suara PDIP? Kita tunggu saja, manakah diantara delapan kompetitor itu yang akan memperoleh trofi kemenangan kedua, Bayern Munichkah, PDIPkah, atau yang lain? Jangan kemana-mana, ayo nobar.


kolom - Harian Vokal
Tulisan ini sudah di baca 388 kali
sejak tanggal 15-04-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat