drh. Chaidir, MM | Fenomena Golput | HARI ini bangsa Indonesia nyoblos untuk menentukan arah masa depan bangsanya. Tidak ada pemilu yang sempurna, dimana pun selalu saja ada isu miring.  Salah satu faktor yang selalu dibicarakan adalah golput. Golput selalu eksis dalam setiap pemilu, ibarat remaja yang suka cari perhatian. Padahal sesu
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Fenomena Golput

Oleh : drh.chaidir, MM

HARI ini bangsa Indonesia nyoblos untuk menentukan arah masa depan bangsanya. Tidak ada pemilu yang sempurna, dimana pun selalu saja ada isu miring. Salah satu faktor yang selalu dibicarakan adalah golput. Golput selalu eksis dalam setiap pemilu, ibarat remaja yang suka cari perhatian. Padahal sesungguhnya, dengan atau tanpa golput, hasil pemilu tetap sah. Masalahnya, nyaman atau kurang nyaman, itu saja. Golput adakalanya curi perhatian ketika persentasenya cukup signifikan.

Golongan putih (Golput) adalah golongan yang tidak menggunakan hak suara dalam pemilu. Golput menunjukkan trend yang meningkat setiap kali pemilu. Pada pemilukada Jakarta 11 Juli 2012 lalu misalnya, golput mencapai angka 37% meningkat dari pilkada 2007 (25%). Sepanjang sejarah pemilu sejak Indonesia merdeka, angka golput mengalami peningkatan secara signifikan, meski dengan alasan berbeda. Bila golput dihitung dari pemilih yang tidak datang dan suara tidak sah, tercatat 12,34% (pada pemilu 1955), 6,67% (1971), 8,40% (1977), 9,61% (1982), 8,39% (1987), 9,05 % (1992), 10,07 % (1997). Pasca reformasi golput juga tercatat 10,40 % (1999), 23,34 % (Pemilu Legislatif 2004), 23,47 % (Pilpres 2004 putaran I), 24,95 persen (Pilpres 2004 putaran II), 30% (pileg 2009) dan 25% (pilpres 2009). Data ini memperlihatkan bahwa angka golput semakin meningkat tiap kali pemilu, dan secara tidak langsung memperlihatkan rendahnya partisipasi politik dari masyarakat.

Hasil pemilihan umum pemilihan Kepala Daerah di beberapa daerah baik provinsi maupun kabupaten dan kota di Indonesia, juga kerap ditandai dengan tingginya angka pemilih yang tidak menggunakan hak suaranya. Rata-rata, tingkat golput selama pelaksanaan pemilukada di berbagai daerah mencapai angka 27.9%.

Kecenderungannya, Golput banyak berasal dari kalangan kelompok masyarakat yang lebih terpelajar. Proporsinya lebih besar di perkotaan dibanding pedesaan. Kelompok terpelajar ini cenderung kritis dan cenderung memandang pemilu tidak penting bagi perbaikan pemerintahan. Kecenderungan itu, misalnya, juga terlihat pada anatomi partisipasi pemilih di Amerika serikat. Semakin muda usia orang AS semakin rendah tingkat partisipasi politiknya. Kelompok usia ini (termasuk mahasiswa), pada umumnya cenderung memusatkan perhatian pada kegiatan belajar dan hanya sedikit yang menyukai politik. Pemilihan umum tidak dianggap sebagai bentuk kegiatan yang dapat memberikan efek langsung bagi kehidupan mereka sehari-hari.

Pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya tersebut kerap dianggap sebagai warga yang tidak sadar atas perbuatannya, warga yang tidak peduli dengan demokratisasi, bahkan dianggap warga yang tidak bernalar budi. Padahal sejatinya, merujuk pada hasil riset yang dilakukan oleh Lingkaran Suvey Indonesia (LSI), diketahui bahwa sebenarnya terdapat paling tidak, tiga alasan bagi seorang pemilih yang akhirnya menyebabkan dia memutuskan untuk tidak mempergunakan hak konstitusionalnya sebagai seorang warga negara:
Pertama, alasan administratif, misalnya tidak mendapat surat undangan, atau belum memperoleh kartu pemilih; Kedua, alasan individual atau teknis, seperti sedang bekerja, ada keperluan pribadi di saat hari pemilihan. Ketiga, alasan politis, yakni menganggap pemilu atau pemilukada tidak ada gunanya dalam meningkatkan kehidupan yang lebih baik.

Walupun demikian, sebagian kalangan tetap memahami fenomena Golput dalam sudut pandang positive thinking, pertama, Golput merupakan ciri menarik dari perangkat asas pemilu yang bebas. Artinya warga bebas memilih untuk tidak memilih. Ini merupakan sisi gelap dari demokrasi, tetapi seiring dengan itu pula, ada kesadaran politis pada warga yang kritis, lebih tanggap, dan merdeka; kedua, boleh jadi Golput merupakan ungkapan kesadaran politis atau partisipasi politis warga yang sadar, cerdas dan bertanggungjawab. Sederhananya, lebih baik tidak memilih daripada memilih jika tidak sesuai dengan kehendak hati nurani; Ketiga, merupakan catatan bagi setiap calon pemimpin, politisi dan juga setiap partai pengusung bahwa fenomena Golput harus ditelaah secara kritis. Mengapa, sebab bisa jadi Golput merupakan ungkapan keengganan politik warga dalam berpartisipasi aktif. Keengganan itu sebagai ungkapan ketidakpuasaan atas citra politik calon pemimpin atau partai pengusung yang tidak memadai bahkan buruk.

Tak kalah pentingnya, golput bisa merupakan protes, 1) terhadap kepemimpinan yang cenderung korup; 2) parpol yang tidak mampu membangun kredibilitas; 3) elit politik yang lebih banyak mengurus diri sendiri daripada kepentingan rakyat; dan 4) politisi busuk. Dari sisi manapun memandang golput, nyatanya, hari ini tiba saatnya kita memilih. Coblos yang terbaik. Kalau semuanya busuk, pilih saja yang tidak terlalu busuk. Gitu aja koq repot.


kolom - Better
Tulisan ini sudah di baca 467 kali
sejak tanggal 09-04-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat