drh. Chaidir, MM | Pemilu dan Sepakbola | PEMILIHAN umum tak ubahnya pertandingan sepakbola. Ada yang menang ada yang kalah, sesekali seri. Adu jotos biasa. Bisa antar pemain bisa antar pendukung. Adakalanya suami-istri pun bertengkar gara-gara berbeda tim kesayangan (tapi adegan ini sebaiknya jangan ditiru).

Di lapangan juga serupa. Sik
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Pemilu dan Sepakbola

Oleh : drh.chaidir, MM

PEMILIHAN umum tak ubahnya pertandingan sepakbola. Ada yang menang ada yang kalah, sesekali seri. Adu jotos biasa. Bisa antar pemain bisa antar pendukung. Adakalanya suami-istri pun bertengkar gara-gara berbeda tim kesayangan (tapi adegan ini sebaiknya jangan ditiru).

Di lapangan juga serupa. Sikut menyikut antar pemain sering terjadi, yang penting tak terlihat wasit. Hands ball adakalanya disengaja, seperti "gol tangan tuhan" yang dilakukan Maradona pada Piala Dunia 1986, tapi alpa dilihat wasit. Sliding tackle yang berbahaya pun ada yang dibiarkan wasit, ada yang langsung disemprit. Jurus tipu wasit tipu lawan dengan aksi diving juga sering mengecoh wasit walaupun terlihat jelas oleh penonton. Akibatnya, kartu merah pun salah diberikan kepada pemain. Pemain yang seharusnya tekena kartu merah, tidak terkena, atau sebaliknya.

Penonton pun sering geram melihat susunan pemain yang bertanding, kenapa si A yang diturunkan, kenapa bukan si B atau si C. Padahal, menurut penonton, seandainya si B atau si C yang diturunkan, mungkin hasil pertandingan akan beda. Penonton pun memaki-maki ketika sang pemain melakukan kesalahan elementer atau salah memberi umpan atau bahkan melakukan gol bunuh diri.

Pemilu di negeri kita dari masa ke masa juga demikian. Sarat dengan jurus-jurus pemenangan yang dikemas dalam rencana strategi dan taktik. Persis seperti sepakbola, ada sistem total football, ada sistem zona, ada pula man to man marking. Ada yang menggunakan umpan-umpan panjang, ada umpan-umpan pendek ala tiki-taka. Taktik pepeka (pendek pendek panjang) ala timnas Indonesia U-19 juga diadopsi sebagai taktik pemenangan pemilu. Ada pula yang konsisten menjunjung nilai-nilai indah permainan seperti Timnas Brazil yang menjunjung sepakbola joga bonito. Taktik serangan balik pun ada, terutama dalam hal kampanye hitam kontra kampanye hitam, fitnah kontra fitnah, atau perang urat syaraf kontra perang urat syaraf. Taktik yang paling menakutkan lawan adalah serangan kilat (blitzkrieg) ala timnas Jerman, dalam pemilu terkenal dengan sandi serangan fajar.

Seperti halnya sepakbola, pemilu pun tak luput dari jurus akal-akalan, kecurangan, bahkan jurus tipu daya. Wujudnya bermacam-macam. Pada awalnya bermula dari pembahasan RUU tentang Pemilu, semua parpol pasang kuda-kuda (dirugikan atau diuntungkan). Penyusunan DPT misalnya, bukan main sulitnya, padahal hampir semua penduduk sudah memiliki e-KTP. Kontroversi DPT meninggalkan pertanyaan, ada apa dengan DPT? Keterlibatan PNS dan pemanfaatan fasilitas negara juga masih belum sembuh-sembuh, terutama di daerah. Aroma tak sedap pun sering menyengat hidung dari politisasi dana bansos dan dana hibah.

Manipulasi suara dan politik uang juga masih menjadi penyakit sistemik pemilu kita yang belum ada obatnya. Pemilu berkualitas dengan pemilih cerdas nampaknya masih jauh panggang dari api. Akar masalahnya pada sikap mental, kejujuran, faktor ekonomi dan faktor pendidikan. Tapi sebagai bangsa yang sudah telanjur memilih paham demokrasi kita tak mungkin balik kanan. Kita harus senantiasa berikhtiar melakukan pencerahan dan pendidikan politik masyarakat, sehingga pemilu sungguh-sungguh menyenangkan dan menggembirakan ibarat nonton Liga Champion. Jebret.


kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 420 kali
sejak tanggal 07-04-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat