drh. Chaidir, MM | Memahami Kemerdekaan Pers | PARADIGMA pers kita di era keterbukaan sekarang adalah pers yang bebas dan merdeka. Oleh karena itu berhadapan dengan pers sering disebut ngeri-ngeri sedap. Ngeri, bila jadi bulan-bulanan pers, sedap bila menjadi pujaan pers atau media darling. Presiden SBY agaknya adalah contoh aktual posisi ngeri-
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Memahami Kemerdekaan Pers

Oleh : drh.chaidir, MM

PARADIGMA pers kita di era keterbukaan sekarang adalah pers yang bebas dan merdeka. Oleh karena itu berhadapan dengan pers sering disebut ngeri-ngeri sedap. Ngeri, bila jadi bulan-bulanan pers, sedap bila menjadi pujaan pers atau media darling. Presiden SBY agaknya adalah contoh aktual posisi ngeri-ngeri sedap itu. Pada 2004 silam, ketika SBY terpilih sebagai Presiden, banyak pengamat menyebut SBY adalah media darling. Tapi sepuluh tahun kemudian, media yang sama menjadikan SBY sebagai bulan-bulanan, sehingga Presiden SBY acapkali curhat kepada media, tetapi isi curhat itu pun ditulis dalam berbagai perspektif. Apa hendak dikata?

Dalam kehidupan masyarakat modern yang berpaham demokrasi pers sering diposisikan sebagai pilar keempat. Pilar Negara modern seperti disebut Montesquie (1748) dibagi dalam Trias Politica yaitu ekeskutif, legislative dan yudikatif. Namun tiga pilar tersebut sering bermasalah. Sudah menjadi rahasia umum, para pejabat sibuk memperkaya diri sendiri dengan menyalahgunakan wewenang, minta komisi, fee, upeti dan sebagainya; wakil rakyat di lembaga legislative memperdagangkan fungsi control dan hak budget, dan penegak hukum memperjualbelikan perkara. Istilah mafia proyek, mafia anggaran, mafia kasus, mafia perizinan, mafia tanah, umum dikenal di masyarakat.

Oleh karena itulah Fred Siebert (1963) memperkenalkan pilar keempat demokrasi yaitu pers. Pilar pers dimaksudkan sebagai kontrol atas tiga pilar kekuasaan Trias Politica tersebut sehingga rakyat sebagai pemilik kedaulatan tidak dirugikan atas pelaksanaan kekuasaan tiga pilar pertama. Pilar keempat lahir untuk melindungi rakyat. Sebab sudah menjadi adagium, demokrasi itu tidak sempurna. Sering misalnya, pemerintah yang dipilih oleh rakyat untuk rakyat, disalahgunakan oleh pemerintah. Pedang kekuasaan yang diberikan justru terhunus untuk menakut-nakuti rakyat.

Fungsi pers sesungguhnya sangat mulia. Tapi, sekali lagi apa hendak dikata, pers yang bebas dan merdeka yang memiliki kekuatan besar tak tersentuh (tak berani disentuh) terkontaminasi pula ikut trend penyalahgunaan kekuasaan seperti yang terjadi pada tiga pilar pertama. Agaknya, postulat Lord Acton, berlaku di sini, power tends to corrupt, absolute power corrupt absoluty. Tak peduli pada siapa kekuasaan itu melekat. Media justru ikut dalam permainan tiga pilar Trias Politica. Seperti misalnya, dengan mudah kita jumpai (dengan alasan bisnis atau politik kepentingan) media sebagai bagian dari pemenangan kandidat, memoles sebuah isu buruk menjadi baik atau sebaliknya. Opini dimainkan hanya demi menjaga esprit decorp, kendati itu merugikan rakyat yang seharusnya dilindungi. Atau lebih parah lagi, ada ketakutan untuk mengangkat sebuah kebenaran, hanya karena adanya kehawatiran berkurangnya budget iklan atau kontrak halaman berita.

Sebagai pilar keempat, secara asasi sesungguhnya, pers berfungsi melakukan pencerahan (enlightenment) masyarakat. Ini yang paling utama, bila fungsi itu diabaikan maka kebebasan pers akan menghancurkan masyarakat. Sebab di zaman keterbukaan pers sekarang, tidak ada yang bisa mengontrol pers. Kontrol bagi pers hanya bisa dilakukan oleh pers itu sendiri melalui profesionalisme. Sedangkan Dewan Pers bukan berfungsi membela pers tapi membela kemerdekaan pers.

Pers sebagai pilar keempat harus kritis melihat kebutuhan masyarakat kita dewasa ini. Tiga pilar Trias Politica, eksekutif, legislative dan yudikatif tidak hanya dikontrol agar tidak melakukan praktik-praktik tercela, tapi mereka juga harus didukung melakukan reformasi bahkan transformasi. Pegawai yang tidak korupsi, rela menerima gaji apa adanya, menjalankan tugas pokok, disiplin, jujur, masih banyak. Tetapi itu saja tidak memadai. Politisi yang jujur juga masih banyak demikian juga polisi dan hakim yang jujur tidak sedikit jumlahnya.

Tapi bila mereka tidak berupaya maksimal untuk melakukan perbaikan, mengubah pola pikir menjadi produktif untuk kepentingan masyarakat umum, ribut bila dilakukan perbaikan dan penertiban, itu sama saja seperti parasit atau benalu bagi tubuh organisasi. Cepat atau lambat akan membuat organisasi tidak efetik dan efisien. Tugas yang dijalankan biasa-biasa saja (business as usual) tak lagi menjawab kebutuhan, apalagi membiarkan pemborosan terjadi dalam tubuh organisasi. Pers seyogianya mendukung langkah-langkah extra ordinary yang dilakukan oleh tiga pilar pertama, kendati itu barangkali akan mengurangi budget untuk media.

Keempat pilar harus saling dukung mendukung dalam semangat simbiose mutualisme demi kepentingan rakyat yang memiliki kedaulatan. Keempat pilar tidak boleh kehilangan sensitifitas.


kolom - Harian Vokal
Tulisan ini sudah di baca 412 kali
sejak tanggal 01-04-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat