drh. Chaidir, MM | DEMOKRASI KEBUN BINATANG | DEMOKRASI kebun binatang adalah judul puisi satire yang ditulis pujangga Taufiq Ismail dan  dibacakannya pada  acara peringatan dua tahun reformasi yang diselenggarakan oleh Pemuda Muhammadiyah, 28 Mei 2000 di Jakarta. Acara berlangsung meriah karena Presiden Abdurrahman Wahid yang hadir pada acara
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

DEMOKRASI KEBUN BINATANG

Oleh : drh.chaidir, MM

DEMOKRASI kebun binatang adalah judul puisi satire yang ditulis pujangga Taufiq Ismail dan dibacakannya pada acara peringatan dua tahun reformasi yang diselenggarakan oleh Pemuda Muhammadiyah, 28 Mei 2000 di Jakarta. Acara berlangsung meriah karena Presiden Abdurrahman Wahid yang hadir pada acara tersebut paling pintar mencairkan suasana melalui humornya yang gokil.

Kebun binatang adalah gambaran masyarakat yang heterogen. Dalam rumah besar demokrasi kebun binatang, masing-masing penghuni tinggal dalam bilik yag diperuntukkan baginya. Mereka boleh bebas dalam biliknya tetapi akan memdapatkan peringatan keras bila mengganggu bilik tetangga. Kebutuhan fisiologis dan biologis dipenuhi dan disalurkan oleh kepala kebun binatang sesuai naluri masing-masing penghuni.

Pujangga Taufik Ismail menulis sebuah metafora demokrasi kebun binatang secara menarik.
............
............
Kandang itu berpagar kawat yang cantik ornamennya, tinggi oleh siapa pun tak terlompati, kekar oleh siapa pun tak tergoyahkan, luasnya sepuluh hektar, di dalamnya ada danau, gua, padang rumput dan belukar. Penduduk kandang itu kambing, kancil, kelinci, kijang, kucing, kuda, kerbau, keledai, anjing, domba, sapi, gajah, rusa, monyet, perkutut, burung hantu, dan jerapah.

Pak kepala kebun binatang berminat benar memasukkan serigala ke dalam kandang besar itu, karena katanya, sudah 34 tahun lamanya makhluk ini berada di luar sana. Alasannya adalah bahwa demokrasi hewan harus ditegakkan, termasuk demokrasi serigala. Menurut serigala, ukuran demokrasi adalah "sama-sama hewan", dan gagasan ini dengan gigih didukung kepala kebun binatang.

Ke-17 hewan lainnya itu tak setuju. Menurut mereka, definisi demokrasi adalah "sama-sama hewan yang tidak memakan satu sama lain, tidak memangsa satu sama lain". Pak kepala, ganjilnya, tak menerima logika ini dan tetap berfihak kepada definisi demokrasi serigala.

Keesokan harinya, selepas acara makan pagi penghuni kebun binatang, dia membawa seekor hewan berkaki empat ke depan kandang itu. "Kalian tengoklah makhluk penyabar ini. Perhatikan bulunya yang bersih berkilat, telinganya yang lemas terkulai dan bahasa badannya yang sopan. Nah, kan dia jinak dan baik hati," kata pak kepala.

Ke-17 hewan itu berteriak. "Lho, itu kan serigala, yang memakai jaket kulit kambing dan memakai telinga kambing palsu!" seru mereka. "Biar menyamar seperti apa, pak kepala, kami tetap kenal betul bau keringat badannya!"

Dua puluh empat jam kemudian, kepala kebun binatang datang ke depan pintu kandang, menuntun lagi makhluk itu. "Saya minta kalian dengan hati terbuka memperhatikan ciptaan Tuhan ini. Perhatikan tingkah lakunya yang mandiri, matanya yang bening dan suci, ekspresi luhurnya budi pekerti. Nah, bukankah dia jinak dan baik hati?" tanyanya.

Ke-17 hewan penghuni kandang bersorak. "Yaaah, itu kan serigala menyamar lagi, yang memakai rompi bulu domba, dan memakai tanduk domba palsu!" seru mereka. "Biar menyamar seperti apa, pak kepala, biar bulunya wol putih seperti domba Ostrali, kami tetap kenal gigi dan taringnya yang runcing-runcing itu!"

Kepala kebun binatang tampak kesal, gerahamnya gemeletuk dan wajahnya mulai memerah. "Bagaimana ini kalian, kok tidak menghormati demokrasi serigala? Hargailah hak asasi hewan, artinya, jangan mengucilkan hewan apa pun," katanya.

Ke-17 hewan penghuni kandang berebutan bicara. "Bagi kami, hak asasi hewan adalah tidak mempertakuti hewan yang lain. Serigala ini dulu, 42 tahun yang lalu, juga 34 tahun yang lalu, bukan saja mempertakuti, tapi memakan daging penghuni kandang yang lain. Buas sekali dia ini. Bekas ceceran darah mangsanya masih melekat di pagar kandang. Pak kepala kok seperti tidak belajar biologi. Dulu 34 tahun silam, di mana pak kepala?"
........................
........................

Demokrasi bukanlah sistem pemerintahan yang terbaik, tetapi sayangnya belum ada sistem lain yang lebih teruji. Demokrasi adakalanya terdorong memilih pemerintahan yang memangsa rakyatnya sendiri. Sebab dengan berpayung legalitas atas nama rakyat, pemerintahan yang demokratis bisa melakukan apa saja, termasuk memperkaya rezim. Tabik.


kolom - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 11176 kali
sejak tanggal 01-04-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat