drh. Chaidir, MM | Kura-kura Dalam Perahu | PADA suatu hari yang sudah cukup jauh, pada pertengahan abad ke-19, kepala suku Indian menulis surat liris penuh sindiran kepada Presiden ke-18 AS, Ulysses S. Grant (periode 1869-1877). Demikian menyentuhnya, surat tersebut disimpan dengan baik di museum Lincoln Memorial di Washington DC sampai ratu
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Kura-kura Dalam Perahu

Oleh : drh.chaidir, MM

PADA suatu hari yang sudah cukup jauh, pada pertengahan abad ke-19, kepala suku Indian menulis surat liris penuh sindiran kepada Presiden ke-18 AS, Ulysses S. Grant (periode 1869-1877). Demikian menyentuhnya, surat tersebut disimpan dengan baik di museum Lincoln Memorial di Washington DC sampai ratusan tahun kemudian.

"The Great White Chief wants to buy my land. Can I sell the air we breathe, can I sell the sound of birds in the trees and the gurgling of the rivers, can I sell the grass on the land which is my motherís hair which I hold and comb very carefully everiday? But then I am just a savage, the Great White Chief is a civilised man. The Great White Chief sends soldiers on the iron horse and shoot the bisons in the hundreds. The Indians only kill for food but the white soldiers shoot for fun..."

(Kepala Suku Kulit Putih Yang Agung ingin membeli lahanku. Dapatkah aku menjual udara yang kami gunakan untuk bernafas, dapatkah aku menjual kicau burung di pepohonan dan suara gemercik sungai, dapatkah aku menjual rumput di tanah dimana terdapat rambut bundaku yang kupegang dan kusisir dengan hati-hati setiap hari? Tetapi aku hanyalah seorang biadab sedangkan Kepala Suku Kulit Putih Yang Agung adalah orang beradab. Kepala Suku Kulit Putih Yang Agung mengirim tentara di atas kuda besi (maksudnya kereta api atau mobil) dan menembak ratusan bison. Sementara suku Indian membunuh bison hanya untuk makan, tetapi tentara kulit putih menembak untuk kesenangan...)

Surat Kepala Suku Indian kepada Presiden Grant itu, disitir oleh Prof Widjajono Partowidagdo dalam bukunya "Memahami Analisis Kebijakan Kasus Reformasi Indonesia" (1999), untuk menggambarkan bahwa kesadaran lingkungan tidak selalu ada hubungannya dengan pendidikan atau peradaban. Kepala Suku Indian itu menyindir masyarakat kulit putih yang dianggap lebih memiliki peradaban (civilised) namun perilakunya rendahan.

Di negeri kita tidak ada Suku Indian, apalagi kelompok garis keras suku Indian, Ku Klux Klan yang ditumpas oleh Presiden Grant. Di negeri kita hanya ada Suku Sakai, Bonai, Talang Mamak, Suku Domo, Suku Laut, dan sebagainya. Juga tidak ada bison. Tapi riwayat keterpinggiran suku asli kita, barangkali hanya beda-beda tipis dengan kisah suku Indian. Di sini juga tidak ada bison yang ditembaki hanya untuk kesenangan, yang ditemukan adalah ratusan buldozer dan excavator yang membabat habis hutan untuk menumpuk kekayaan tujuh turunan. Masyarakat asli setempat hanya menebang kayu sebatang dua sekedarnya. Kemana perginya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia? Tidak hanya pemiskinan, bencana lain pun mengancam. Tiba musim hujan bencana banjir, tiba musim kemarau bencana asap.

Tahun ini misalnya, bencana asap sungguh memalukan. Kita mengurut dada membaca berita di media massa. Bagaimana mungkin hutan dan lahan gambut cagar alam biosfer Giam Siak Kecil dirambah dan dibakar? Padahal, jangankan dirambah, sebatang pohon pun tak boleh ditebang. Kenyataannya, kawasan itu kini porak poranda. Di areal tersebut ada pula rel lori pengangkut kayu olahan, dan alat-alat berat simbol peradaban (menyitir sindiran Kepala Suku Indian itu).

Jelas itu bukan perambahan biasa, tapi perambahan yang sistematis. Mengejutkan, perambahan itu umumnya dilakukan pendatang dan sebagian diantaranya bahkan oknum aparat negara. Maka pantaslah selama ini pengawasan tak jalan. Kura-kura dalam perahu. Kongkalikong. Oleh karena itu langkah Gubernur Annas lapor ke Presiden, rasanya sudah tepat. Presidenlah yang mampu mengatasi perang bintang ini. Lebih cepat lebih baik.


kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 450 kali
sejak tanggal 31-03-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat