drh. Chaidir, MM | Bola-bola Liar | ADA dua macam bola yang biasanya kurang disukai. Pertama, bola liar. Kedua, bola salju. Keduanya tak terkendali dan berbahaya. Tapi ada satu macam bola yang disenangi walau namanya menjijikkan: bola muntah.

Belum tuntas kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnain yang menyeret Antasari Azhar, Wiliardi W
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Bola-bola Liar

Oleh : drh.chaidir, MM

ADA dua macam bola yang biasanya kurang disukai. Pertama, bola liar. Kedua, bola salju. Keduanya tak terkendali dan berbahaya. Tapi ada satu macam bola yang disenangi walau namanya menjijikkan: bola muntah.

Belum tuntas kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnain yang menyeret Antasari Azhar, Wiliardi Wizard, Sigit Haryo Wibisono dkk, muncul perseteruan KPK vs POLRI yang amat heboh dengan sebutan Cicak vs Buaya. Bibit, Chandra dan Susno Duaji menjadi bintang berita. Konflik ini menjadi semakin seru karena MK memperdengarkan rekaman pembicaraan Anggodo Wijaya, maka nama Anggodo pun menghiasi berbagai media cetak dan elektronik, berhari-hari. Presiden pun sampai perlu membentuk Tim 8 yang anggotanya terdiri dari tokoh-tokoh yang di mata publik cukup memiliki kredibilitas. Hasil kerja Tim 8 sebagaimana diungkap di media massa dianggap cukup mewakili "lapar dan haus" publik terhadap ditegakkannya rasa keadilan. Sayangnya berakhir dengan anti klimaks dan masalah baru pun muncul.

Kasus perseteruan KPK-POLRI kemudian menjadi "bias". Belum puas dengan kasus POLRI dan Bibit-Chandra, dan juga Anggodo, mencuat pula "gempa " Bank Century yang berkekuatan 6,7 Triliun (bukan 7,6 Skala Richter). Nama Wapres Boediono dan Menkeu Sri Mulyani pun disebut-sebut. Bahkan Prof Amien Rais mendesak kedua tokoh itu agar mundur dari jabatannya. "Angin puting beliung" seakan mabuk. Yang satu belum reda, muncul pula pemain baru, Aburizal Bakrie dan Robert Tantular. Saling tuding antara Sri Mulyani dengan Aburizal Bakrie menjadi tontotan seru.

Tiba-tiba nama Prita Mulyasari, terdakwa kasus pencemaran nama baik Rumah Sakit Omni, masuk bursa benang-benang kusut penegakan hukum di negeri kita. Prita didenda Rp200 juta lebih. Publik merasa Prita diperlakukan tidak adil sehingga muncul aksi pengumpulan koin secara sukarela dari berbagai lapisan masyarakat. Pengumpulan koin tidak hanya dipandang sebagai upaya membantu Prita tetapi lebih dari itu, merupakan sindiran amat pedas terhadap penegakan hukum kita.

Pertempuran yang terjadi di seputar pusat kekuasaan di Jakarta, kini mulai merembet ke daerah. Gubernur Kepri, Ismeth Abdullah ditetapkan sebagai tersangka. Gubernur Sumatera Utara Syamsul Arifin diberitakan media massa mengembalikan uang Negara Rp 60 milyar lebih. Seakan tak mau ketinggalan, pemeriksaan oknum pejabat Indragiri Hulu dalam kasus dugaan penyalahgunaan APBD yang mencapai jumlah Rp100 milyar lebih, terus bergulir. Masya Allah....

Hukum tampak demikian membingungkan. Para pengacara beken perang tanding. Masing-masing dengan logika hukum dan argumentasi canggihnya sehingga bisa menjungkir balikkan akal sehat. Ini implementasi politik hukumkah atau hukum politik?

Bola sedang bergulir liar kian ke mari. Belum jelas siapa yang bakal "ketiban pulung" atau bahkan beruntung memanfaatkannya, siapa yang tergulung bola salju, dan siapa yang dapat durian runtuh berupa bola muntah. Siapa pun, sebaiknya kita menjauh saja dari zona yang sedang berkecamuk itu. Jaga saja gawang kita baik-baik.

kolom - Riau Pos 14 Desember 2009
Tulisan ini sudah di baca 1329 kali
sejak tanggal 14-12-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat