drh. Chaidir, MM | Menduga Jokowinomics | GUBERNUR DKI Jakarta Joko Widodo yang populer dengan panggilan Jokowi akhirnya ditetapkan sebagai Calon Presiden RI oleh Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputra. Mega kelihatannya menanti saat yang tepat untuk menyatakan sikap. Dan sekaranglah  saat itu. Terkesan, Mega sesungguhnya sejak  jauh-jauh
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Menduga Jokowinomics

Oleh : drh.chaidir, MM

GUBERNUR DKI Jakarta Joko Widodo yang populer dengan panggilan Jokowi akhirnya ditetapkan sebagai Calon Presiden RI oleh Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputra. Mega kelihatannya menanti saat yang tepat untuk menyatakan sikap. Dan sekaranglah saat itu. Terkesan, Mega sesungguhnya sejak jauh-jauh hari sudah punya ketetapan hati tak lagi berminat maju sebagai Capres. Tetapi sikap itu selama ini tersimpan rapi di lubuk hatinya.

Pengumuman pencalonan tersebut kelihatannya dibuat seirama dengan karakter Jokowi, tidak diskenario dalam acara spektakuler. Jokowi bahkan memilih mengumumkannya di suatu tempat yang jauh dari kesan mewah. Deklarasi tersebut dilakukannya di hadapan para pewarta usai mengunjungi Rumah Si Pitung di Rumah Susun Marunda, Jakarta Utara, Jumat (14/3). Kendati sederhana, deklarasi itu disiarkan secara luas oleh media massa. Pengumuman di DPP PDIP sendiri juga dibuat biasa-biasa saja. Pengumuman sepenting itu, yang mestinya bisa dikemas super heboh, hanya dibacakan oleh salah seorang Ketua DPP, bukan langsung oleh Ketua Umumnya. Tetapi daya ledak pengumuman yang biasa-biasa itu kelihatannya sangat luar biasa.

Berbagai komponen masyarakat pun sontak terkena resonansi. Dukungan untuk Jokowi langsung mengalir deras. Berbagai bentuk apresiasi muncul ke permukaan. Dukungan tidak hanya datang dari kalangan sipil, dari militer pun tak segan-segan menampakkan sikap. Diwakili Jenderal TNI (Purn) Luhut Panjaitan, setidaknya 22 purnawirawan perwira tinggi tentara mendukung Jokowi menjadi capres. Menurut Luhut, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri sudah melakukan hal yang tepat. "Pemberian mandat kepada Jokowi itu benar-benar merupakan legalisasi dari keinginan dan kerinduan rakyat atas kehadiran pemimpin yang jujur dan merakyat untuk bangsa ini ke masa depan yang lebih baik," kata Luhut saat jumpa pers di Wisma Bakrie 2, Jakarta, Jumat (14/3), sebagaimana disiarkan berbagai media.

Sebagaimana sisiarkan juga di situs Tempo.co, pengumuman Jokowi sebagai capres disambut positif di situs jejaring sosial Twitter. Menurut Direktur Political Wave, Jose Rizal tanggapan positif lebih banyak dibanding negatif. "Mereka senang dan siap mendukung calon presiden Jokowi," kata Jose Rizal. Pencalonan Jokowi ini langsung menjadi trending topic di Twitter. Kelihatannya mengalahkan topik kemarahan Presiden SBY terhadap bencana kabut asap di Riau.

Namun demikian, tanggapan negatif juga muncul dari kelompok yang menganggap Jokowi belum menyelesaikan mandatnya sebagai Gubernur DKI. Jokowi dianggap masih memiliki beban tanggung jawab besar untuk membangun Jakarta. Masalah kemacetan lalu-lintas, masalah banjir, masalah angkutan umum, masih menjadi PR yang belum terselesaikan. Hal ini tentu dapat dimaklumi karena Jokowi baru menjadi gubernur pada 2012, setelah sebelumnya juga meninggalkan posnya sebagai Walikota Solo karena terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Bagaimanapun, berita tentang deklarasi Jokowi sebagai Capres mengejutkan banyak pihak. Pertama, banyak kalangan yang tak percaya pada awalnya, bahwa Megawati akan legowo memberi laluan kepada Jokowi. Sebab dalam berbagai kesempatan, Mega tekesan tetap kukuh ingin maju sebagai Capres. Ternyata itu jurus marketing politik dari Megawati Soekarnoputri.
Kedua, banyak yang terkesima. Sebab, pencalonan Jokowi sebagai capres langsung direspon positif oleh pelaku pasar modal di bursa saham. Index Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung naik dan rupiah pun menguat. Ini pertanda, pasar menyukai Jokowi karena dinilai mempunyai rekam jejak yang bersih, pro-rakyat dan tegas.

Memang telalu pagi untuk menduga munculnya mahzab baru Jokowinomics sebagai penyanding Widjojonomics dan Habibinomics yang pernah eksis dalam belantara pembangunan kita, dan keduanya kendati telah berjasa terhadap pembangunan bangsa, akhirnya dianggap pro liberal. Bagaimana dengan Jokowinomis? Melihat sentimen positif pasar, kita patut menduga paradigma baru kelak akan muncul besama Jokowi bila rakyat sungguh-sungguh menghendakinya kelak.


kolom - Harian Vokal
Tulisan ini sudah di baca 480 kali
sejak tanggal 18-03-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat