drh. Chaidir, MM | SBY Kek Gitu Orangnya | PRESIDEN SBY menampakkan sosok aslinya sebagai seorang tentara. Lugas, tegas dan jelas. Di Rimbo Panjang Kabupaten Kampar, Riau, di depan satu batalyon tentara yang bertugas memadamkan api kebakaran hutan dan lahan, SBY secara singkat  memberi perintah:
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

SBY Kek Gitu Orangnya

Oleh : drh.chaidir, MM

PRESIDEN SBY menampakkan sosok aslinya sebagai seorang tentara. Lugas, tegas dan jelas. Di Rimbo Panjang Kabupaten Kampar, Riau, di depan satu batalyon tentara yang bertugas memadamkan api kebakaran hutan dan lahan, SBY secara singkat memberi perintah: "Padamkan api, hilangkan asap. Ini adalah operasi tanggap darurat. Operasi militer selain perang. Cari titik api dan padamkan. Tangkap yang membakar lahan dan penjarakan. Selamat bertugas. Tuhan bersama kita."

Presiden SBY memang kelihatan geram. Sebab bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan dalam satu bulan terakhir ini, tidak hanya membahayakan bagi kesehatan, mengganggu proses belajar-mengajar di sekolah, dan melumpuhkan transportasi udara, tapi asap juga membuat malu bangsa. Presiden tentu merasa kehilangan muka, sebab dalam musibah asap tahun lalu, Presiden harus menyampaikan permintaan maaf kepada negara tetangga. Dan sekarang bencana asap kembali terulang. Di samping itu, pemerintah pusat dan SBY juga jadi bulan-bulanan di jejaring media sosial dalam beberapa hari terakhir.

Kita tentu sependapat dengan Presiden SBY, api harus dipadamkan, asap harus dihilangkan, tangkap dan penjarakan pembakar lahan. Kita tak mau disebut sebagai bangsa yang tak pandai belajar dari kesalahan masa lalu. Seribu persen, kita pasti marah dibilang keledai. Sebab hanya keledai yang terperosok pada lubang yang sama. Pertanyaan kita, masyarakat Riau khususnya, mengapa setiap tahun selama 17 tahun terakhir selalu ada bencana asap? Mengapa kita terperosok pada lubang yang sama berulang-ulang?

Faktanya, kabut tebal yang menyelimuti Riau dan wilayah-wilayah tetangga dalam satu bulan terakhir ini disebabkan karena kebakaran hutan dan lahan yang sangat luas, dan sebagian diantaranya adalah kawasan gambut yang apinya susah dipadamkan. Satgas Penanggulangan Bencana Kabut Asap menyatakan, seluas 18.000 hektare lebih lahan di Provinsi Riau telah hangus terbakar dalam masa enam pekan terakhir, terluas berada di Kabupaten Bengkalis (sekitar 7.500 hektare) dan di Meranti seluas 5.700 hektare. Sisanya di Rokan Hulu (2.400 Ha), Siak (1.100 Ha), Dumai (857 Ha), dan sebagian lainnya yang terholong kecil di Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, dan Kabupaten Kampar. Sedihnya, kawasan yang paling luas terbakar itu adalah kawasan cagar alam biosfer Giam Siak Kecil, yang pernah mengharumkan nama Riau di dunia internasional.

Dari bencana asap di Riau tahun ini, beberapa hal harus menjadi perhatian ekstra kita bersama, di samping upaya tanggap darurat. Pemberian izin pembukaan lahan untuk pekebunan HTI atau sawit harus sangat selektif. Perambahan hutan secara illegal harus dihentikan dan pelakunya diproses secara hukum. Operasi pemberantasan illegal logging seperti yang pernah dilakukan jajaran POLDA Riau tahun 2007-2008, tak boleh mengendor. Inpres No 4 Tahun 2005 tentang pemberantasan illegal logging rasanya belum pernah dicabut.

Kedatangan Presiden SBY ke Riau (walau tak sempat ke Giam Siak Kecil) harus digunakan sebagai momentum oleh Gubernur Riau Annas dan Wakil Gubernur Arsyadjuliandi Rahman untuk mengambil tindakan penertiban secara tegas ke depan. Cukuplah di tahun politik ini saja bencana asap jadi asap politik. Jangan berkecil hati dengan kemarahan SBY, itu tanda sayang. SBY memang kek gitu orangnya.


kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 505 kali
sejak tanggal 17-03-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat