drh. Chaidir, MM | Ujian Konvensi Capres | PEMILIHAN Presiden RI secara langsung untuk ketiga kalinya akan diselenggarakan pada tanggal 9 Juli 2014 nanti. Menyongsong pilpres tersebut, hanya Partai Demokrat yang memproses bakal calonnya secara demokratis melalui mekanisme konvensi.

Mekanisme penjaringan Capres melalui mekanisme konvensi s
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Ujian Konvensi Capres

Oleh : drh.chaidir, MM

PEMILIHAN Presiden RI secara langsung untuk ketiga kalinya akan diselenggarakan pada tanggal 9 Juli 2014 nanti. Menyongsong pilpres tersebut, hanya Partai Demokrat yang memproses bakal calonnya secara demokratis melalui mekanisme konvensi.

Mekanisme penjaringan Capres melalui mekanisme konvensi sesungguhnya ibarat pisau bermata dua. Dari sisi demokrasi, konvensi capres bisa menjadi sarana pendidikan politik yang baik bagi masyarakat. Pada sisi lain, bagi partai politik penyelenggara konvensi, dapat meningkatkan elektabilitas partai dalam pemilu legislatif.

Partai Golkar sekurang-kurangnya telah membuktikan. Terpuruk kalah dalam pemilu multi partai untuk pertama kalinya di era reformasi pada tahun 1999 (dikalahkan oleh PDIP), Partai Golkar kembali tampil sebagai pemenang lima tahun kemudian dalam pemilu 2004. Banyak pengamat menilai, kemenangan Partai Golkar dalam Pemilu 2004 disebabkan Partai Golkar mampu meyakinkan pemilih, partai ini serius mengusung transformasi menjadi partai dengan paradigma baru melalui penyelenggaraan konvensi yang terbuka dan demokratis.

Pada awalnya banyak yang mencibir gagasan konvensi Capres RI versi Partai Golkar tersebut. Konvensi dianggap tak lebih dari akal-akalan Akbar Tanjung, Ketua Umum Partai Golkar yang berambisi memenangkan pemilu 2004 dan kemudian tampil sebagai capres RI dari Partai Golkar. Pandangan sinis itu kemudian seakan memperoleh pembenaran, ketika Partai Golkar molor dengan jadwal konvensi nasional yang telah ditetapkan sebelumnya. Keadaan menjadi buruk ketika Sri Sultan Hamengkubuwono X salah seorang kandidat dari tujuh kandidat yang memenuhi syarat, mengundurkan diri. Pandangan miring semakin memojokkan Partai Golkar, konvenvensi itu adalah sebuah sandiwara. Apalagi kemudian rencana semula untuk menetapkan seorang kandidat menjelang pemilu legislatif dibatalkan.

Partai Golkar ketika itu, memberi dua argumentasi kenapa konvensi nasional untuk memilih seorang kandidat tidak diselenggarakan sebelum pemilu. Pertama agar ketujuh kandidat bahu membahu kampanye untuk memenangkan Partai Golkar dalam pemilu; Kedua, Partai Golkar harus membuktikan dirinya terlebih dulu memperoleh suara minimal tiga persen sebagai syarat untuk bisa mengusung Capres secara mandiri. Masuk akal, bila ketujuh kandidat bertempur habis-habisan untuk memenangkan Konvensi Nasional sebelum pemilu, ada kemungkinan sang kandidat akan kehabisan bensin. Atau, pihak yang kalah tidak lagi akan bersemangat memenangkan Partai Golkar dalam pemilu legislatif.

Namun walaupun alasan penundaan Konvensi Nasional sangat rasional, isu miring juga berkembang, penundaan itu karena Akbar Tanjung sang Ketum, salah seorang dari tujuh kandidat belum merasa yakin akan menang. Ada tiga pertimbangan. Pertama, karena Mahkamah Agung belum memutus permohonan kasasinya; kedua, karena dukungan dari pengurus Partai Golkar di daerah belum maksimal sebagaimana diharapkan; ketiga, kemenangan Partai Golkar dalam pemilu legislatif 2004 diharapkan akan menjadi senjata ampuh Akbar Tanjung untuk memukul kandidat lain.

Sejarah mencatat, apa yang diragukan oleh sementara kalangan bahwa konvensi itu sandiwara, ternyata tidak terbukti. Rabu 21 April 2004 merupakan hari yang tidak akan pernah terlupakan bagi Jendral Purnawirawan Wiranto dan Akbar Tanjung. Pada hari itu di Jakarta Convention Centre Wiranto, mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia dan Menteri Pertahanan Keamanan meraih 315 suara, mengalahkan pesaingnya Akbar Tanjung yang mengantongi 227 suara dalam suatu pertandingan "grand final" yang sangat demokratis. Akbar Tanjung kalah Akbar Tanjung menang. Akbar kalah secara jantan, tetapi Akbar dan Partai Golkar memenangkan opini sebagai partai yang memiliki paradigma baru yang sudah terputus dengan masa silam yang kelam.

Kini, Partai Demokrat melaksanakan konvensi untuk memilih Capres RI, juga dengan dua agenda. Pertama, memberikan penguatan pada kehidupan demokrasi sebagai bagian dari doktrin Partai Demokrat; kedua, sebagai ikhtiar meningkatkan elektabilitas partai. Siapapun yang terpilih nanti sebagai Presiden RI, itu masalah lain. Yang sudah di depan mata adalah pemilu legislatif 9 April beberapa hari lagi. Pemilu legislatif ini akan menjadi ujian apakah konvensi Partai demokrat mangkus atau tidak.


kolom - Better
Tulisan ini sudah di baca 403 kali
sejak tanggal 12-03-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat