drh. Chaidir, MM | Romantika Supersemar | SUPERSEMAR boleh dikata identik dengan Presiden Ke-2 RI, Jenderal Soeharto. Sebutlah Supersemar tentu terbayang Presiden Soeharto dengan senyuman khasnya.  Kini, foto
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Romantika Supersemar

Oleh : drh.chaidir, MM

SUPERSEMAR boleh dikata identik dengan Presiden Ke-2 RI, Jenderal Soeharto. Sebutlah Supersemar tentu terbayang Presiden Soeharto dengan senyuman khasnya. Kini, foto "The Smiling Genderal" sebagaimana julukan yang diberikan oleh penulis berkebangsaan Jerman, O.G. Roeder yang kemudian dijadikan judul bukunya (1969), bertebaran di berbagai pelosok desa. Ada frasa menarik menyertai foto tersebut, seakan diucapkan langsung oleh Soeharto. "Piye kabare le, masih lebih enak jamanku to?"

Di tengah krisis kepemimpinan politik yang menyelimuti bangsa kita dalam satu dekade terakhir ini, yang menyebabkan masyarakat seperti anak ayam kehilangan induk, frasa tersebut tentu saja terasa tendensius atau bisa juga multi tafsir. "Apa kabarmu, masih lebih enak zaman saya kan?" Mungkin anak muda sekarang akan balik bertanya: "Maksud lo?" Atau barangkali ada yang bilang, "Masbuloh" (Masalah Buat Loh)? Ha..ha..ha....

Bangsa kita dewasa ini, setuju atau tidak, suka atau tak suka, rela atau tak rela, memang sedang mengalami krisis kepemimpinan. Masyarakat kita menjadi masyarakat seperti apa yang disebut sosiolog Prancis Emile Durkheim, sebagai masyarakat anomi, masyarakat yang kehilangan pedoman. Kondisi itu tersebab oleh besarnya gap antara teori (ideal) dan kenyataan. Kita berada dalam era ketika tidak ada tokoh nasional yang disebut "orang kuat". Bangsa kita kelihatannya sedang tidak memiliki orang kuat, seseorang yang apabila dia berbicara, ucapannya didengar oleh masyarakat dengan takzim. Orang yang bisa menenteramkan. Strong leader yang memiliki strong leadership belum lagi nampak, padahal kapal induk besar NKRI yang sedang mengharungi samudra penuh gelombang ini, awaknya sedang kacau balau. Awak kapal yang sedang kacau memerlukan nakhoda yang kuat bahkan sedikit otoriter.

Bagi warga negara yang sudah "oversex" (maaf jangan berpikir mesum, oversex di sini maksudnya oversek, over seket, berusia lebih 50 tahun), Supersemar tentu sudah tak asing. Surat Perintah 11 Maret yang disingkat menjadi Supersemar adalah surat perintah yang ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia Soekarno pada tanggal 11 Maret 1966. Surat ini berisi perintah yang menginstruksikan Soeharto, selaku Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk mengatasi situasi keamanan yang buruk pada saat itu. Surat Perintah Sebelas Maret ini adalah versi yang dikeluarkan oleh Markas Besar Angkatan Darat (AD) yang juga tercatat dalam buku-buku sejarah. Sebagian kalangan sejarawan Indonesia mengatakan, terdapat berbagai versi Supersemar.

Walaupun disebut ada berbagai versi, Supersemar yang asli pasti ada. Bagi kepentingan pelurusan sejarah dokumen asli itu tentu saja sangat penting. Tetapi ketika dokumen asli itu tidak diketahui dimana rimbanya, kita tentu tidak perlu menghabiskan waktu dan energi untuk mencarinya. Kita hidup pada hari ini dan masa depan dengan segala persoalannya sedang menanti pula.

Oleh karena itu Supersemar agaknya perlu dilihat tak hanya melulu dari sebuah dokumen yang sangat penting, tapi juga sebagai sebuah semangat perubahan yang terkandung menyertainya. Supersemar bagaimana pun telah mengubah sejarah Bangsa Indonesia. Seperti dicatat sejarah, supersemar kemudian bermetamorfosis menjadi "mantra", supersemar menginspirasi berbagai hal, salah satu diantaranya menginspirasi sebuah yayasan dengan nama yang sama, yang memberikan beasiswa kepada puluhan ribu mahasiswa. Ribuan mahasiswa yang telah menyelesaikan kuliah dengan beasiswa supersemar itu, kini bertebaran di seluruh pelosok tanah air. Bagi penerima beasiswa supersemar dan bagi peserta program transmigrasi yang kini telah tumbuh menjadi kelompok menengah dan lapisan masyarakat yang sukses, nama Presiden Soeharto dikenang dengan manis.

Pertanyaan imajiner Presiden Soeharto itu, mungkin bisa kita jawab, "Eyang, kami baik-baik saja, tak usah khawatir, awak gitu orangnya."


kolom - Harian Vokal
Tulisan ini sudah di baca 453 kali
sejak tanggal 11-03-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat