drh. Chaidir, MM | Kepemimpinan Gajah | GAJAH dan manusia itu sama tapi tak serupa. Ya iyalah. Siapa juga yang  bilang manusia dan gajah itu serupa, anak kecil juga tahu. Gajah ya gajah, binatang darat terbesar di dunia setelah dinosaurus punah jutaan tahun silam. Gajah ditandai dengan belalai dan gading. Dalam hal jenis makanan, gajah ad
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Kepemimpinan Gajah

Oleh : drh.chaidir, MM

GAJAH dan manusia itu sama tapi tak serupa. Ya iyalah. Siapa juga yang bilang manusia dan gajah itu serupa, anak kecil juga tahu. Gajah ya gajah, binatang darat terbesar di dunia setelah dinosaurus punah jutaan tahun silam. Gajah ditandai dengan belalai dan gading. Dalam hal jenis makanan, gajah adalah hewan pemakan tumbuhan (herbivora), sedang manusia adalah omnivora alias pemakan segala, tumbuhan ok, daging juga ok, masak atau mentah sama saja. Gajah dibekali naluri, manusia dibekali akal budi.

Kesamaannya, ternyata dalam hal kepemimpinan, gajah dan manusia, sama-sama memberikan bobot penting terhadap faktor pengalaman. Faktor pengalaman dianggap menjadi salah satu faktor penentu dalam pencapaian tujuan organisasi atau kelompok. Oleh karena itu, gagah dan pemberani bagaimana pun seekor pemuda gajah, dia tetap tidak akan dipilih oleh kelompoknya untuk menjadi pemimpin. Pengalaman empirik kelompok gajah mengingatkan, gajah-gajah muda jantan yang sedang tumbuh menjadi gajah jantan perkasa, tak bisa dipercaya menjadi pemimpin. Mereka lebih suka memilih kabur dari kelompoknya untuk bergabung bersama gajah-gajah jantan muda lainnya mencari kelompok lain untuk mencari gajah-gajah betina untuk dikawini.

Oleh karena itu, umur tua bagi gajah tak masalah. Kelompok gajah bahkan lebih memilih gajah betina tua atau nenek gajah untuk menjadi pemimpin. Gajah betina tua ini dianggap lebih bepengalaman mencari tempat tinggal, mencari makanan dan minuman, serta mengorganisasikan perlindungan bagi anak-anak gajah yang masih belum berdaya dan sering menjadi korban singa dan hyena. Nenek gajah ini ternyata memiliki ingatan yang kuat, dimana lokasi yang bagus untuk mendapatkan makananan. Untuk melindungi anak-anaknya, Sang pemimpin gajah biasanya akan membuat lingkaran yang terdiri dari barigade induk-induk gajah. Pemimpin kelompok gajah juga bertugas mengatur segala macam aktivitas kelompok seperti kapan harus berjalan, dan mulai beristirahat. Seluruh anggota kelompok di bawah kepemimpinan nenek gajah, kompak dalam merawat bayi gajah. Selama periode menyusui, yang bisa berlangsung hingga usia 9 tahun, bayi gajah akan disusui oleh induk dan gajah-gajah betina lainnya. Kekompakan gajah ini barangkali karena umumnya mereka sesusuan.

Gajah Afrika memiliki pola hidup berkelompok. Jumlah anggotanya bisa berkisar antara 200 - 1.000 ekor. Kelompok gajah terbentuk ketika sebuah "kelompok keluarga" yang terdiri dari seekor gajah betina & anak-anaknya bergabung dengan kelompok keluarga lainnya. Tidak ada gajah jantan dewasa dalam kelompok tersebut karena gajah jantan muda akan meninggalkan kelompok keluarganya saat memasuki usia kematangan seksual. Gajah jantan tersebut selanjutnya hidup sendiri atau bergabung dengan gajah-gajah jantan lainnya membentuk kawanan kecil.

Perilaku kepemimpinan gajah ini memang terasa unik, ketika mereka ternyata tidak memberikan posisi pemimpin kepada gajah jantan gagah besar dan perkasa. Padahal mitos kepemimpinan dalam kelompok nomaden manusia, pemimpin itu haruslah orang yang besar dan kuat, pintar dan berani dalam bekelahi. Tapi hal ini rupanya tidak berlaku pada gajah. Gajah lebih mengedepankan faktor pengalaman. Barangkali perilaku kepemimpinan dan organisasi gajah ini hanyalah sebuah naluri, sementara manusia menempatkannya dalam bangunan akal budi.


kolom - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 599 kali
sejak tanggal 11-03-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat