drh. Chaidir, MM | Gadget vs Gaptek | PEJABAT pemerintahan kita temasuk para politisi yang berada di gedung Legislatif baik di DPR, DPD maupun DPRD, biasanya tersinggung bila disebut Gaptek alias Gagap Teknologi. Sebab, Gaptek itu identik dengan
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Gadget vs Gaptek

Oleh : drh.chaidir, MM

PEJABAT pemerintahan kita temasuk para politisi yang berada di gedung Legislatif baik di DPR, DPD maupun DPRD, biasanya tersinggung bila disebut Gaptek alias Gagap Teknologi. Sebab, Gaptek itu identik dengan "jadul" dan "youkamp". Dua akronim yang disebut terakhir itu adalah singkatan olok-olok dari anak-anak gaul yang berarti "jaman dulu" dan "you kampungan" untuk menyindir teman-temannya yang gagap teknologi informasi.

Tidak bisa dipungkiri, umumnya kita berasal dari kampung, tapi tak ada satu pun yang rela disebut kampungan. Sebab, kampungan adalah gambaran perilaku dan pola pikir yang norak dan memalukan, ketinggalan zaman, tak sesuai dengan kelaziman masyarakat yang terdidik.

Tapi mengubah kebiasaan itu tidak mudah. Maka, seseorang yang merasa tak nyaman dengan predikat kampungan tersebut, akan berusaha sebisa-bisanya supaya tak terlihat kampungan. Caranya? Yang paling mudah adalah melalui penampilan. Umumnya berlindung di balik simbol-simbol masyarakat kaya dan modern, seperti menggunakan barang-barang bermerek terkenal (branded), berlomba-lomba pamer dan adu kecanggihan alat komunikasi, bahkan termasuk juga penggunaan bahasa "sok akademis" ala Vicky Prasetyo yang sempat bikin heboh beberapa waktu lalu.

Masyarakat kita sudah mengalami perubahan sosial menjadi masyarakat modern. Tanda-tandanya terlihat dari kehidupan masyarakat sehari-hari, di kampung-kampung nun jauh di pelosok sana, mereka sudah terbiasa nonton televisi, mengikuti warta berita, mengenal Ronaldo dan Messi, mengikuti kasus Akil Mochtar, Wawan, Fathonah, dan lain-lain, serta suka dengan goyang Caesar. Mereka sudah melek informasi, sudah bisa kirim SMS, BBM-an, path, skype, line dan sebagainya. Bila tak ada sinyal HP, masyarakat di pedesaan menggunakan teknologi paket Simpati Ceria.

Maka, jangan heran, alat komunikasi super canggih keluaran terbaru yang populer dengan sebutan gadget, semua diborong. Tiap sebentar ganti HP, tiap sebentar ganti ipad. Ingat peristiwa antrian panjang berhari-hari di Grand Indonesia, Jakarta bulan November 2009 silam? Peristiwa ini menjadi berita nasional. Banyak sekali calon pelanggan yang berminat beli ponsel seri terbaru dari sebuah merek yang dilengkapi dengan kamera, FM radio, radio recorder, MP3 player, stereo speaker dan voice recorder. Masyarakat kita sudah gila gadget. Sekarang, jangankan di kota, warga kita di desa pun sudah akrab dengan Laptop, notebook, ipad, HP android dan sebagainya. Apalagi banyak paket dari berbagai provider yang memberikan pelayanan pembicaraan gratis sampai berjam-jam dan ratusan SMS gratis.

Di era teknologi komunikasi elektronik serba canggih sekarang, komunikasi bisa berlangsung sangat cepat, efektif dan efisien. Hanya dalam tempo satu atau dua detik, dokumen dan surat-surat bisa terkirim melalui surat elektronik (e-mail) kemana pun di seluruh dunia yang ada jaringannya. Surat atau berita yang ditulis di Pekanbaru, dalam tempo satu detik sudah terkirim ke London atau Washington, atau kemana saja.

Dalam era teknologi informasi super canggih sekarang, hampir tidak ada lagi kantor pemerintah dan swasta yang tidak menggunakan jasa teknologi informasi. E-government sudah lama diterapkan. Hampir semua data sudah tersimpan dalam soft-file. Model map-map tebal yang disimpan dalam feeling-cabinet sudah dianggap jadul dan youkamp. Dengan demikian pemerintahan mestinya bisa dikelola lebih efektif dan efisien.

Oleh karena itu memang aneh bila anggaran perjalanan dinas sampai ratusan milyar per tahun. Dengan kemajuan teknologi informasi, hal seperti itu mestinya tak perlu lagi terjadi. Gubernur Annas benar melakukan langkah penghematan dengan membatasi perjalanan dinas PNS. Gubernur agaknya sependapat dengan Albert Einstein. Ilmuwan jenius itu menyebut, ilmu pengetahuan bisa membuat hidup lebih indah dan pekerjaan lebih mudah. Tapi kenapa belum? Karena kita belum lagi belajar bagaimana memanfaatkan secara benar. Gadget mau, tapi tetap gaptek, karena tak bisa membuat pekerjaan lebih mudah dan hidup lebih indah. Alamaak...


kolom - Harian Vokal
Tulisan ini sudah di baca 443 kali
sejak tanggal 04-03-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat