drh. Chaidir, MM | Mulutmu Harimaumu | MAKHLUK yang bernama manusia memiliki harimau di tubuhnya. Harimau itu dibawa kemana-mana, tak bisa dilepas. Harimau itu juga tak bisa dibunuh kecuali sekalian bunuh tuannya. Kenapa? Karena harimau itu berwujud mulut.

Harimau ini akan menerkam si empunya mulut sebelum menerkam orang lain. Tentu,
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Mulutmu Harimaumu

Oleh : drh.chaidir, MM

MAKHLUK yang bernama manusia memiliki harimau di tubuhnya. Harimau itu dibawa kemana-mana, tak bisa dilepas. Harimau itu juga tak bisa dibunuh kecuali sekalian bunuh tuannya. Kenapa? Karena harimau itu berwujud mulut.

Harimau ini akan menerkam si empunya mulut sebelum menerkam orang lain. Tentu, bukan karena mulut punya taring lantas bisa menerkam dan mengunyah-ngunyah siapa saja. Bukan. Maknanya bukan harfiah seperti itu. Mulutmu harimaumu adalah petuah orang-orang tua, sebuah peribahasa, sebuah perumpamaan. Mulut bisa mencelakakan si empunya bila tak hati-hati menjaganya.

Harimau seperti itulah yang telah menerkam Tri Laksono, seorang Ajun Komisaris Polisi, Kasat Lantas Polres Indragiri Hulu. Kini jabatan perwira ini telah dicopot, bahkan ada kemungkinan pimpinannya akan memberi sangsi lain. Malang nasib Tri Laksono. Dia diterkam oleh harimaunya sendiri, mulutnya. Ucapan yang tak terkendali telah meruntuhkan kebanggaan yang selama ini dibangunnya.

Blunder alias sebuah langkah ceroboh dan bodoh - sering digunakan dalam istilah permainan catur - bisa menimpa siapa saja. Blunder memang bisa berakibat fatal, dari posisi unggul, berakhir dengan sebuah kekalahan. Hari ini Tri Laksono, esok siapa tahu, mungkin kita yang menjadi korban harimau itu.

Membaca Riau Pos (3/12) halaman 1, ada beberapa hal yang patut dicermati, terutama bagi seorang komunikator. Pertama, sang komunikator kita, Tri Laksono, agaknya lupa pesan Plato dan juga Aristoteles. Plato adalah ahli retorika klasik pertama yang menganjurkan kepada setiap komunikator untuk mengenal jiwa pendengarnya. Plato menyebut betapa pentingnya mempelajari psikologi khalayak. Aristoteles, murid Plato yang paling cerdas, melanjutkan kajian retorika ilmiah dari Plato dengan menyusun tiga jilid buku yang berjudul De Arte Rhetorica. Langkah pertama yang paling penting yang harus dilakukan oleh seorang komunikator, menurut Aristoteles, adalah menggali topik dan meneliti khalayak atau pendengar. Analisis terhadap pendengar akan menentukan metoda persuasi.

Kedua, komunikator yang baik selalu pandai memilih kata-kata. Glenn R. Capp dan Richard Capp Jr (1976) dalam Basic Oral Communication, mengingatkan para komunikator agar menggunakan bahasa yang jelas, tepat dan menarik. Jangan gunakan kata-kata penjulukan (name calling), tapi gunakanlah kata-kata yang menarik dan menyentuh hati, atau gunakan kata-kata berona (colorfull word).

Ketiga, menggunakan humor dalam membuka sebuah pidato atau ceramah adalah sesuatu yang lazim dilakukan oleh seorang orator. John F. Kennedy, Barack Obama, Bung Karno, Gus Dur, dan pembicara-pembicara ulung lainnya, selalu menggunakan humor untuk menciptakan atmosfir rileks dan akrab antara pembicara dengan pendengar. Tetapi hati-hati, sekali-sekali jangan menggunakan humor yang tidak lucu atau humor yang dapat menyinggung perasaan pendengar.

Seorang komunikator, biasanya akan ingat pesan Cicero, ahli retorika bangsa Romawi kuno, "Qui ascendit sine labore, descendit sine honore" - siapa yang naik mimbar tanpa persiapan, dia akan turun tanpa kehormatan.

kolom - Riau Pos 7 Desember 2009
Tulisan ini sudah di baca 2946 kali
sejak tanggal 07-12-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat