drh. Chaidir, MM | Asap Pangkat Dua | BELUM setahun sejak musim asap di Riau bulan Mei-Juni 2013 berlalu, kali ini musim asap kembali tiba. Asap yang menyelimuti  bumi Lancang Kuning sepekan terakhir ini rasanya bahkan lebih hebat. Padahal,  warga Bengkalis Riau menyebut musibah asap yang terjadi tujuh bulan lalu, terparah sejak  musim
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Asap Pangkat Dua

Oleh : drh.chaidir, MM

BELUM setahun sejak musim asap di Riau bulan Mei-Juni 2013 berlalu, kali ini musim asap kembali tiba. Asap yang menyelimuti bumi Lancang Kuning sepekan terakhir ini rasanya bahkan lebih hebat. Padahal, warga Bengkalis Riau menyebut musibah asap yang terjadi tujuh bulan lalu, terparah sejak musim asap ada di rantau ini. Kalau sebelumnya disebut terparah, tentulah sekarang terparah dari teparah, alias terparah pangkat dua.

Tak ada asap kalau tak ada api. Ya iyalah, anak kecil juga tahu. Sebab, bila mendadak ada asap tanpa api, hati-hatilah, asap itu mungkin bisa berubah jadi jin. Bisa dibayangkan, andai asap tebal yang melingkupi udara Riau dan sekitarnya hari-hari terakhir ini bukan berasal dari api, berapa banyak jin yang gentayangan, mungkin ribuan jin. Atau sesungguhnya, asap tebal itu berasal dari jin-jin pohon sialang dan pohon-pohon besar rumah orang bunian yang sudah habis dibabat tanpa ampun oleh manusia.

Asap, setakat ini, telah menjadi never ending problem. Masalah yang tak ada habis-habisnya. Setiap kali musim asap, setiap kali pula pemerintah jadi bulan-bulanan. Partai politik dan politisi pasang aksi aji mumpung untuk pencitraan, bagi-bagi masker. Pengusaha hutan dan perkebunan dihujat habis-habisan. Sekolah diliburkan. Jadwal penerbangan dan pelayaran terganggu. Rumah sakit penuh sesak oleh penderita ISPA. Negara tetangga berisik bikin merah kuping. Setiap kali musim asap, semua petinggi seperti cacing kepanasan. Permasalahannya sama, itu ke itu, setiap tahun. Asap kita memang berasal dari api, bukan asap tanpa api. Maka solusinya pun idem dito, siapapun yang menjabat sebagai Menteri, gubernur atau bupati: rapat, bentuk tim task force, sediakan anggaran crash program, turunkan semua personil dan peralatan terkait, butuh helikopter, bom air, hujan buatan, doa tolak bala, dan tentu saja pawang pemanggil hujan.

Juni 2013 lalu, Presiden SBY bahkan sampai harus menyampaikan permohonan maaf kepada negara tetangga atas bencana asap yang terjadi di Riau dan mengganggu Malaysia, Singapura dannThailand. Sebagian menyebut permintaan maaf itu sudah sewajarnya karena bencana asap memang berasal dari Indonesia, baik disengaja karena proses land clearing, maupun tidak disengaja karena faktor alam. Tapi sebagian menyebut, permintaan maaf dari Presiden tidak perlu. Perang opini pun tak terhindarkan, dan seperti biasa, saling tuding dan saling mencari kambing hitam.

Warga memang berhak hidup dengan udara yang bersih. Kalau terjadi pencemaran udara seperti akibat asap itu, pemerintah memang harus berikhtiar sedaya upaya untuk mengatasinya. Tetapi masalah asap dan terbakarnya hutan di Riau atau di Indonesia pada umumnya harus menjadi perhatian dunia, tidak hanya menjadi beban Riau atau Indonesia. Sebab, dunia sudah menetapkan, hutan tropis di Indonesia (di samping hutan Amazon di Brazil) adalah paru-paru dunia. Semua harus bekepentingan terhadap hutan Indonesia untuk menjaga paru-paru tersebut. Indonesia tidak butuh dunia, dunialah yang butuh Indonesia. Singapura dan Malaysia yang selalu "menjual" rasa nyaman, butuh Riau yang bebas dari asap, tak boleh dalam posisi setiap tahun sewot dan selalu menyalahkan tetangga. Empati, itulah yang dibutuhkan Riau. Sebab negeri serumpun ini telah ditakdirkan bertetangga, barangkali sampai sehari sebelum dunia kiamat.


kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 391 kali
sejak tanggal 03-03-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat